Kisah Perburuan Kota Emas El Dorado

Semua berawal dari legenda. Dikisahkan dari mulut ke mulut oleh penjelajah Spanyol. Tentang sebuah kota yang berlapis emas bernama El Dorado. Legenda ini menarik minat beratus-ratus pemburu harta karun. Namun sebagian besar akhirnya menemui ajal. Tewas di pedalaman belantara Amerika Selatan di gugus pegunungan Andes!

Sejak penjelajah Spanyol, Juan Ponce de Leon pada 1513 menemukan Puerto Rico di Karibia. Ia mendengar kisah tentang emas di sana namun tak menemukannya. Sampai akhirnya orang-orang Indian menyebut bahwa di Pulau Bimini (sekarang Bahama) ada sumber air awet muda. Ia kemudian lebih tertarik mencari air awet muda. Dalam pencarian tersebut ia berlayar sampai ke semenanjung Florida.



Dalam sebuah ekspedisi militer tahun 1521, Ponce de León mendarat di Charlotte Harbor (Florida) bersama 200 tentara yang menumpang 2 kapal. Saat itu pasukan ekspedisi militer Spanyol ini dihadang pejuang Indian Seminole. Pertempuran pun pecah. Ponce de Leon terkena panah dan segera dievakuasi, namun ia akhirnya menemui ajal setibanya di Kuba.

Paska de Leon, kisah tentang emas suku-suku Indian ternyata menarik bagi penjelajah Spanyol lain bernama Gonzalo Jiménez de Quesada. Dengan menggunakan kekuatan senjata pada 1530-an Quesada bersama pasukan ekpedisi merangsek ke pedalaman Amerika Selatan. Ia kemudian mendarat di wilayah kerajaan Bogota (sekarang columbia) dan untuk pertama kali bertemu dengan suku Indian Chibcha (Sering disebut Muisca) di tahun 1537. Indian yang menghuni dataran tinggi yang erat dengan kisah emas tersembunyi.

Lalu ekspedisi lain yang dipimpin Sebastian de Belalcazar mendengar legenda El Dorado. Dalam bayangannya El Dorado adalah sebuah kota atau wilayah dengan emas yang melimpah ruah. Namun pencarian itu tak pernah membuahkan hasil.

Kegilaan pada emas terus menghantui para penjelajah. Orellana and Gonzalo Pizarro pada 1541 menyusul memasuki teritori Indian melalui perairan Amazon dengan melakukan pembantaian Indian dan pencarian emas yang paling brutal.

El Dorado
Para penjelajah tak pernah mengetahui pasti apakah El Dorado yang sesungguhnya. Kecuali cerita rakyat dan legenda yang membaur bahwa El Dorado berhubungan dengan emas dan harta karun paling berharga milik suku-suku Indian Amerika Selatan.

Padahal sesungguhnya arti kata El Dorado lebih mendekati pengertian "Orang Emas" (Golden Man) ketimbang sebuah tempat emas (Golden Place), yang dalam penyebutan suku Indian lokal sebagai El Rey Dorado yang artinya raja emas.



Ekpedisi "Kematian"
Penyalahartian El Dorado sebagai suatu tempat dengan emas dan permata yang melimpah ternyata telah membutakan para penjajah dan penjelajah Eropa. Konsepsi El Dorado yang tak pernah jelas asal muasal aslinya ditangkap orang-orang Eropa sebagai misteri tentang harta karun terpendam. Maka sejak isu tentang kota emas itu merebak, para pencari harta dan penjelajah berupaya mati-matian mencari lokasinya.

Ternyata setiap ekspedisi yang dikirim selalu mengalamai kebuntuan. Total korban tewas dalam upaya pencarian emas ini mencapai ribuan. Mereka tewas dalam pertempuran dengan suku-suku Indian, terjebak keganasan alam hutan hujan tropis, tewas dalam kecelakaan di medan jelajah pegunungan dan lembah, namun tidak menemukan titik terang tentang harta karun, emas atau pun permata. Apakah El Dorado? Misteri besar masih meliputinya hingga kini…*

El Dorado, Mengandung Banyak Pengertian
Chibcha adalah satu suku yang mendiami dataran tinggi di wilayah gugus pegunungan Andes teritori Columbia. Dalam sebuah catatan tentang mitologi suku ini kemungkinan El Dorado merupakan lambang dari sebuah energi besar yang mengandung kekuatan trinitas dari Chiminigagua. Sebuah kekuatan penciptaan semesta.

Namun kemudian El Dorado digunakan secara metaforis untuk merujuk pada tempat benda berharga bisa ditemukan. Karena itu nama El Dorado bisa ditemukan di dalam peta Amerika, terutama sebuah tempat di California dan beberapa tempat lain.



El Dorado juga digunakan untuk merujuk pada pengertian cinta, surgawi, kebahagiaan, atau kesuksesan. Bisa juga dipakai untuk menyatakan sesuatu harapan yang tidak terwujud atau ilusi yang tak nyata. Pemaknaan ini berkaitan dengan banyak upaya menguak misteri emas di balik El Dorado.

Dan Sir Walter Raleight pernah menduga El Dorado sebagai sebuah kota di tepian Danau Parima tak jauh dari Orinoco, Guyana (sekarang Venezuela). Dan beberapa penjelajah yang putus asa pernah berencana mengeringkan Danau Guatavita yang diduga menjadi kuburan harta karun suku Chibcha. Karena di tepian danau di wilayah Sesquile, Provinsi Almeidas itu pernah ditemukan sejumput hiasan emas dan batu zamrud. Namun upaya itu tak pernah diwujudkan… apakah harta karun itu terkubur di bawah lumpur danau?

Sejarah Karl Marx Pelopor Marxisme Sosialisme Ilmiah

Karl Marx, pelopor utama gagasan "sosialisme ilmiah" dilahirkan tahun 1818 di kota Trier, Jerman, Ayahnya ahli hukum dan di umur tujuh belas tahun Karl masuk Universitas Bonn,juga belajar hukum. Belakangan dia pindah ke Universitas Berlin dan kemudian dapat gelar Doktor dalam ilmu filsafat dari Universitas Jena.


Entah karena lebih tertarik, Marx menceburkan diri ke dunia jurnalistik dan sebentar menjadi redaktur Rheinische Zeitung di Cologne. Tapi, pandangan politiknya yang radikal menyeretnya ke dalam rupa-rupa kesulitan dan memaksanya pindah ke Paris. Di situlah dia mula pertama bertemu dengan Friederich Engels. Tali persahabatan dan persamaan pandangan politik mengikat kedua orang ini selaku dwi tunggal hingga akhir hayatnya.

Marx tak bisa lama tinggal di Paris dan segera ditendang dari sana dan mesti menjinjing koper pindah ke Brussel. Di kota inilah, tahun 1847 dia pertama kali menerbitkan buah pikirannya yang penting dan besar The poverty of philosophy (Kemiskinan filsafat). Tahun berikutnya bersama bergandeng tangan dengan Friederich Engels mereka menerbitkan Communist Manifesto, buku yang akhirnya menjadi bacaan dunia. Pada tahun itu juga Marx kembali ke Cologne untuk kemudian diusir lagi dari sana hanya selang beberapa bulan. Sehabis terusir sana terusir sini, akhirnya Marx menyeberang Selat Canal dan menetap di London hingga akhir hayatnya.

Meskipun ada hanya sedikit uang di koceknya berkat pekerjaan jurnalistik, Marx menghabiskan sejumlah besar waktunya di London melakukan penyelidikan dan menulis buku-buku tentang politik dan ekonomi. (Di tahun-tahun itu Marx dan familinya dapat bantuan ongkos hidup dari Friederich Engels kawan karibnya). Jilid pertama Das Kapital, karya ilmiah Marx terpenting terbit di tahun 1867. Tatkala Marx meninggal di tahun 1883, kedua jilid sambungannya belum sepenuhnya rampung. Kedua jilid sambungannya itu disusun dan diterbitkan oIeh Engels berpegang pada catatan-catatan dan naskah yang ditinggalkan Marx.

Karya tulisan Marx merumuskan dasar teoritis Komunisme. Ditilik dari perkembangan luarbiasa gerakan ini di abad ke-20, sangat layaklah kalau dia mendapat tempat dalam urutan tinggi buku ini. Masalahnya, seberapa tinggi?

Faktor utama bagi keputusan ini adalah perhitungan arti penting Komunis jangka panjang dalam sejarah. Sejak tumbuhnya Komunisme sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah masa kini, terasa sedikit sulit menentukan dengan cermat perspektif masa depannya. Kendati tak seorang pun sanggup memastikan seberapa jauh Komunisme bisa berkembang dan berapa lama ideologi ini bisa bertahan, yang sudah pasti dia merupakan ideologi kuat dan tangguh serta berakar kuat menghunjam ke bumi, dan sudah bisa dipastikan punya pengaruh besar di dunia untuk paling sedikit beberapa abad mendatang.

Pada saat kini, sekitar seabad sesudah kematian Marx, jumlah manusia yang sedikitnya terpengaruh oleh Marxisme sudah mendekati angka 1,3 milyar banyaknya. Jumlah penganut ini lebih besar dari jumlah penganut ideologi mana pun sepanjang sejarah manusia. Bukan sekedar jumlahnya yang mutlak, melainkan juga sebagai kelompok dari keseluruhan penduduk dunia. Ini mengakibatkan kaum Komunis, dan juga sebagian yang bukan Komunis, percaya bahwa di masa depan tidak bisa tidak Marxisme akan merebut kemenangan di seluruh dunia. Namun, adalah sukar untuk memantapkan kebenarannya dengan keyakinan yang tak bergoyah. Telah banyak contoh-contoh ideologi yang tampaknya sangat punya pengaruh penting pada jamannya tapi pada akhirnya melayu dan sirna. (Agama yang didirikan oleh Mani bisa dijadikan misal yang menarik). Jika kita surut ke tahun 1900, akan tampak jelas bahwa demokrasi konstitusional merupakan arus yang akan jadi anutan masa depan. Berpegang pada harapan, tampaknya memang begitu, tapi sekarang tak ada lagi orang yang yakin segalanya sudah terjadi sebagaimana bayangan semula.

Sekarang menyangkut Komunisme. Taruhlah seseorang percaya sangat dan tahu persis betapa hebatnya pengaruh Komunis di dunia saat ini dan di dunia masa depan, orang toh masih mempertanyakan arti penting Karl Marx di dalam gerakan Komunis. Politik pemerintah Uni Soviet sekarang kelihatannya tidak terawasi oleh karya-karya Marx yang menulis dasar-dasar pikiran seperti dialektika gaya Hegel dan tentang teori "nilai lebih." Teori-teori itu kelihatan kecil pengaruhnya dalam praktek perputaran roda politik pemerintah Uni Soviet, baik politik dalam maupun luar negerinya.



Komunisme masa kini menitikberatkan empat ide: (1) Sekelumit kecil orang kaya hidup dalam kemewahan yang berlimpah, sedangkan kaum pekerja yang teramat banyak jumlahnya hidup bergelimang papa sengsara. (2) Cara untuk merombak ketidakadilan ini adalah dengan jalan melaksanakan sistem sosialis, yaitu sistem di mana alat produksi dikuasai negara dan bukannya oleh pribadi swasta. (3) Pada umumnya, satu-satunya jalan paling praktis untuk melaksanakan sistem sosialis ini adalah lewat revolusi kekerasan. (4) Untuk menjaga kelanggengan sistem sosialis harus diatur oleh kediktatoran partai Komunis dalam jangka waktu yang memadai.

Tiga dari ide pertama sudah dicetuskan dengan jelas sebelum Marx. Sedangkan ide keempat berasal dari gagasan Marx mengenai "diktatur proletariat." Sementara itu, lamanya masa berlaku kediktatoran Soviet sekarang lebih merupakan hasil dari langkah-langkah Lenin dan Stalin daripada gagasan tulisan Marx. Hal ini tampaknya menimbulkan anggapan bahwa pengaruh Marx dalam Komunisme lebih kecil dari kenyataan yang sebenarnya, dan penghargaan orang terhadap tulisan-tulisannya lebih menyerupai sekedar etalasi untuk membenarkan sifat "keilmiahan" daripada ide dan politik yang sudah terlaksana dan diterima.



Sementara boleh jadi ada benarnya juga anggapan itu, namun tampaknya kelewat berlebihan. Lenin misalnya, tidak sekedar menganggap dirinya mengikuti ajaran-ajaran Marx, tapi dia betul-betul membacanya, menghayatinya, dan menerimanya. Dia yakin betul jalan yang dilimpahkannya persis di atas rel yang dibentangkan Marx. Begitu juga terjadi pada diri Mao Tse Tung dan pemuka-pemuka Komunis lain. Memang benar, ide-ide Marx mungkin sudah disalah-artikan dan ditafsirkan lain, tapi hal semacam ini juga berlaku pada ajaran Yesus atau Buddha atau Islam. Andaikata semua politik dasar pemerintah Tiongkok maupun Uni Soviet bertolak langsung dari hasil karya tulisan Marx, dia akan peroleh tingkat urutan lebih tinggi dalam daftar buku ini.

Mungkin bisa diperdebatkan bahwa Lenin, politikus praktis yang sesungguhnya mendirikan negara Komunis, memegang saham besar dalam hal membangun Komunisme sebagai suatu ideologi yang begitu besar pengaruhnya di dunia. Pendapat ini masuk akal. Lenin benar-benar seorang tokoh penting. Tapi, menurut hemat saya, tulisan-tulisan Marx yang begitu hebat pengaruhnya terhadap jalan pikiran bukan saja Lenin tapi juga pemuka-pemuka Komunis lain, jelas punya kedudukan lebih penting.

Juga ada peluang untuk diperdebatkan apakah penghargaan atas terumusnya Marxisme tidak harus dibagi antara Karl Marx dan Friederich Engels. Mereka berdua menulis "Manifesto Komunis" dan Engels jelas punya pengaruh mendalam terhadap penyelesaian final Das Kapital. Meskipun masing-masing menulis buku atas namanya sendiri-sendiri tapi kerjasama intelektual mereka begitu intimnya sehingga hasil keseluruhan dapat dianggap sebagai suatu karya bersama. Memang, Marx dan Engels diperlakukan sebagai satu kesatuan dalam buku ini walaupun yang dicantumkan cuma nama Marx karena (saya pikir saya benar) dia dianggap partner yang dominan dalam arti luas.

Akhirnya, sering dituding orang bahwa teori Marxis di bidang ekonomi sangatlah buruk dan banyak keliru. Tentu saja, banyak dugaan-dugaan tertentu Marx terbukti meleset. Misalnya, Marx meramalkan bahwa dalam negeri-negeri kapitalis kaum buruh akan semakin melarat dalam perjalanan sang waktu. Jelas, ramalan ini tidak terbukti. Marx juga memperhitungkan bahwa kaum menengah akan disapu dan sebagian besar orang-orangnya akan masuk ke dalam golongan proletar dan hanya sedikit yang bisa bangkit dan masuk dalam kelas kapitalis. Ini pun jelas tak pernah terbukti. Marx juga tampaknya percaya, meningkatnya mekanisasi akan mengurangi keuntungan kaum kapitalis, kepercayaan yang bukan saja salah tapi sekaligus juga tampak tolol. Tapi, terlepas apakah teori ekonominya benar atau salah, semua itu tidak ada sangkut-pautnya dengan pengaruh Marx. Arti penting seorang filosof terletak bukan pada kebenaran pendapatnya tapi terletak pada masalah apakah buah pikirannya telah menggerakkan orang untuk bertindak atau tidak. Diukur dari sudut ini, tak perlu diragukan lagi Karl Marx punya arti penting yang luarbiasa hebatnya.

Kisah Kelingking Sakti (Cerita Rakyat Kep. Riau)

Setiap orang memiliki perangai yang berbeda-beda. Ada yang baik, ada pula yang buruk. Di daerah Kepulauan Riau, Indonesia, hiduplah sebuah keluarga yang miskin. Keluarga tersebut terdiri dari seorang ayah, ibu dan tiga orang anak. Ketiga anak tersebut memiliki perangai yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Perangai anak yang tua (sulung) dan yang tengah, sangat berbeda dengan anak yang bungsu. Si Bungsu sangat rajin bekerja, sehingga ia menjadi anak kesayangan ayah mereka. Melihat hal itu, anak yang sulung dan yang tengah merasa iri hati dan benci terhadap si Bungsu. Oleh karena itu, mereka berniat untuk mencelakakannya. Apa yang akan dilakukan anak yang sulung dan yang tengah terhadap si Bungsu? Berhasilkah mereka mencelakakan si Bungsu? Bagaimana nasib si Bungsu? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Kelingking Sakti berikut ini.



Alkisah, pada zaman dahulu kala, di sebuah desa di Kepulauan Riau, hiduplah sepasang suami-istri yang sangat miskin. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka menjaring ikan di sungai dan menanam ubi di ladang. Mereka mempunyai tiga orang anak, semuanya laki-laki. Anak pertama bernama Salimbo, yang kedua bernama Ngah, dan yang ketiga bernama Kelingking.

Sejak bayi, si Bungsu sudah menampakkan keanehan. Tubuhnya kecil dan kerdil, sehingga ia diberi nama Kelingking. Keanehan lain yang ada pada diri Kelingking adalah ia menyusu dengan sangat kuat. Setiap kali menyusui Kelingking, ibunya merasa kesakitan. Karena tidak kuat menahan rasa sakit, akhirnya ibunya meninggal dunia saat Kelingking masih berumur lima bulan. Sejak saat itu, kedua abangnya itu membeci Kelingking. Mereka menganggap Kelingkinglah yang menyebabkan ibu mereka meninggal dunia.

Sepeninggal ibu mereka, Kelingking dan kedua saudaranya kemudian hidup dalam asuhan ayahnya. Setiap hari mereka membantu ayahnya mencari ikan di sungai dan menanam ubi di ladang. Terkadang pula mereka mencari kayu bakar untuk dijual ke pasar. Di antara ketiga bersaudara, Kelingkinglah yang paling rajin bekerja, sehingga ia menjadi anak kesayangan ayahnya. Melihat hal itu, bertambah bencilah kedua saudaranya kepada Kelingking. Karena merasa iri terhadap Kelingking, kedua saudaranya berniat jahat kepadanya.

Pada suatu hari, Salimbo dan Ngah hendak melaksanakan niatnya. Mereka kemudian mengajak Kelingking mencari kayu di hutan tanpa sepengetahuan ayahnya. Mereka memang sengaja ingin mencelakakan Kelingking dengan membawanya ke dalam hutan di mana terdapat banyak binatang buas. Tanpa rasa curiga sedikit pun, dengan senang hati Kelingking menerima ajakan kedua saudaranya itu.

Sesampai di hutan, mereka masing-masing sibuk mencari kayu. Karena tubuhnya kecil, Kelingking hanya mengumpulkan ranting-ranting kecil. Menjelang siang hari, mereka sudah merasa kelelahan. Pada saat mereka beristirahat di bawah sebatang pohon, tiba-tiba seekor kancil melintas tak jauh dari tempat mereka duduk. “Kelingking! Kejar kancil itu!” perintah Salimbo kepada Kelingking. “Jangan sampai lolos, Adikku!” tambah Ngah menyemangati. Kelingking pun mengejar kancil itu hingga jauh masuk ke dalam hutan. Pada saat itulah, mereka berdua menggunakan kesempatan meninggalkan Kelingking di dalam hutan sendirian.

Dengan tergopoh-gopoh, Salimbo dan Ngah pulang menemui ayahnya. “Ayah, maafkan kami. Kami tidak dapat menjaga Kelingking. Dia diterkam harimau di tengah hutan,” kata Salimbo berbohong sambil berpura-pura menangis. “Benar, Ayah. Kami sudah berusaha sekuat tenaga menolongnya. Tapi, kami tidak dapat menyelamatkannya. Harimau itu terlalu ganas,” sambung Ngah ikut berbohong. “Benarkah yang kalian katakan itu?” tanya sang Ayah seakan tak percaya dengan berita itu. “Benar, Ayah!” jawab Salimbo dan Ngah serentak. Mendengar jawaban yang meyakinkan itu, sang Ayah pun percaya begitu saja. Ia sangat bersedih kehilangan Kelingking yang sangat disayanginya itu.

Sementara itu, Kelingking terus mengejar kancil itu hingga tertangkap. Ia senang sekali. “Jika kancil ini aku bawa pulang, ayah dan kedua abangku pasti sangat senang,” gumam Kelingking sambil mengikat kaki kancil itu dengan akar kayu. Baru saja selesai bergumam, tiba-tiba Kelingking dikejutkan oleh bunyi suara yang sedang berbicara kepadanya. “Hai, Orang Muda! Tolong lepaskan aku. Aku adalah raja kancil di hutan ini. Jika kamu mau melepaskanku, kamu akan kuajari cara menangkap kancil,” bujuk sang Kancil. Kelingking seakan tak percaya, jika kancil yang ditangkapnya itu bisa berbicara seperti manusia. “Baiklah, Kancil! Aku akan melepaskanmu, tapi aku diajari cara menangkap kancil seperti yang kau janjikan,” kata Kelingking sambil melepaskan ikatan pada kaki-kaki kancil itu.

Kancil itu kemudian mengajari Kelingking cara menangkap dan menjebak kancil. Setelah menurunkan semua ilmunya kepada Kelingking, Kancil pun berpesan, “Orang Muda! Dengan ilmu yang aku ajarkan, kamu dapat menangkap kancil sebanyak-banyaknya. Tapi, kamu hanya boleh menangkap kancil yang nakal-nakal saja.” Usai berpesan, kancil itu kemudian kembali ke tempat asalnya.

Sementara itu, Kelingking mencoba kemampuan ilmunya menangkap kancil yang baru saja diterimanya itu. Dalam sekejap, Kelingking mampu menangkap dua ekor kancil. Kemudian diikatnya kedua kancil itu erat-erat, lalu ia bawa pulang ke rumah. Akhirnya, ia pun selamat sampai di rumah, tanpa ada gangguan binatang buas.

Sesampai di depan pintu rumahnya, Kelingking berseru memanggil ayah dan kedua abangnya. “Ayah...! Abang... ! Aku pulang....! Mendengar suara teriakan dari luar rumah, ayahnya segera membukakan pintu. Ayahnya sangat senang sekali, karena anak kesayangannya ternyata masih hidup. “Ya, syukurlah anakku! Kamu selamat dari terkaman harimau,” kata ayahnya sambil memeluk Kelingking.

Sementara itu, kedua abangnya yang telah meninggalkannya di tengah hutan, terheran-heran melihat Kelingking. “Bagaimana mungkin Kelingking bisa selamat dari binatang buas yang ada di dalam hutan itu?” tanya Salimbo dalam hati. Demikian pula Ngah, dalam hatinya bertanya-tanya, “Bagaimana Kelingking bisa menangkap kancil dua ekor sekalian, padahal yang dikejarnya tadi hanya satu?” Kelingking kemudian memberikan kedua ekor kancil tersebut kepada kedua abangnya untuk dimasak dan kemudian disantap bersama-sama.

Pada suatu hari. Salimbo dan Ngah kembali berniat jahat kepada Kelingking. Mereka mengajak Kelingking ke laut yang banyak dihuni ikan jerung. Dengan sebuah perahu kecil, berangkatlah mereka ke laut mencari ikan. Setibanya di tempat yang dikira-kira banyak ikan jerung, Salimbo dan Ngah pura-pura menebar jala untuk menangkap ikan. Mereka kemudian mengatakan jala itu tersangkut di batu karang, dan menyuruh Kelingking terjun ke laut untuk melepaskan jala mereka. Mereka berharap Kelingking dimakan ikan jerung yang ganas itu.

Benar kata Salimbo dan Ngah. Begitu Kelingking terjun ke laut, ikan-ikan jerung yang ganas tersebut langsung menyerangnya. Pada saat Kelingking timbul-tenggelam bergulat dengan ikan jerung tersebut, Salimbo dan Ngah bergegas mengayuh perahunya pulang. Sesampainya di rumah, mereka kemudian menyampaikan berita kematian Kelingking kepada ayah mereka. Mendengar berita itu, ayah mereka sangat sedih. Pada malam hari, tengah sang Ayah meratapi nasib malang Kelingking, tiba-tiba Kelingking muncul di depan pintu, “Ayah, Aku pulang!" Mendengar suara Kelingking, ayahnya segera beranjak dari tempatnya lalu memeluk Kelingking dengan erat. “Kelingking, Anakku! Ayah mengira kamu sudah meninggal dilahap oleh ikan-ikan jerung itu!” kata sang Ayah kepada anaknya. “Dengan ajaib, Kelingking berhasil mengalahkan ikan-ikan jerung yang ganas itu. Lihat, Ayah! Kelingking membawa ikan jerung besar untuk makan malam kita,” jelas Kelingking kepada ayahnya sambil menunjukkan dua ekor ikan jerung yang dijinjingnya. Kemudian kedua ikan jerung tersebut diserahkannya kepada abangnya untuk dimasak dan dimakan bersama.


Waktu terus berlalu. Kini Kelingking sudah dewasa. Ia berniat pergi merantau untuk mengubah nasib dirinya dan keluarganya yang selama ini hidup dalam kemiskinan. “Kini saatnya aku mengubah nasib keluargaku. Aku harus pergi merantau. Lagipula ayah tidak tinggal sendirian di rumah. Ada Abang Salimbo dan Abang Ngah yang menemaninya. Pasti ayah akan mengizinkanku,” kata Kelingking dalam hati memantapkan niatnya.

Pada suatu malam, Kelingking mengutarakan niatnya itu kepada ayahnya. “Ayah, sekarang Kelingking sudah dewasa. Izinkanlah Kelingking pergi merantau. Kelingking ingin memperbaiki kehidupan keluarga kita,” ia meminta kepada ayahnya. Meskipun berat hati, sang Ayah pun mengizinkan anak kesayangannya itu pergi merantau. “Ayah mengerti perasaanmu, Anakku! Ayah merestui dan mendoakan semoga kamu dapat mencapai cita-citamu,” jawab ayahnya mengizinkan. “Terima kasih, Ayah! Jika sudah berhasil di perantauan, Kelingking segera kembali menjemput Ayah, Abang Salimbo dan Abang Ngah,” kata Kelingking dengan perasaan gembira.

Keesokan harinya, dengan berbekal tujuh buah ketupat, berangkatlah Kelingking merantau. Sudah berbulan-bulan Kelingking mengembara. Namun, ketupatnya masih utuh, tak ada satu pun yang dimakannya. Selama dalam pengembaraan, ia hanya makan buah dan daun-daunan yang ditemuinya di hutan.

Suatu siang, sampailah Kelingking di hutan lebat. Kemudian Kelingking duduk beristirahat di bawah sebuah pohon besar. Karena kelelahan, ia pun tertidur. Dalam tidurnya, terdengar sebuah suara yang berseru kepadanya, “Hai, Orang Muda! Jika kamu ingin menjadi menantu raja, ikatlah ketupatmu dengan akar tuba dan masukkanlah ke dalam sungai yang mengalir di hutan ini. Apabila air sungai itu sudah berbuih, berarti ikan besar di dalamnya sudah mati. Selamilah sungai itu dan ambil ikannya.”Belum sempat berkata apa-apa, Kelingking pun terbangun dari tidurnya. Tanpa berpikir panjang, Kelingking pun segera bangkit mencari akar tuba. Setelah mendapat beberapa akar tuba, ia pun menyusuri hutan itu untuk mencari sungai yang dimaksud dalam mimpinya.

“Ah, inilah sungai dalam mimpiku,” gumam Kelingking. Ia pun segera mengikat ketujuh ketupatnya dengan akar tuba dan memasukkannya ke dalam sungai. Tak berapa lama kemudian, air sungai pun berbuih dan diselaminya sungai itu. Setelah beberapa lama menyelam, Kelingking mendapatkan seekor ikan besar. Ikan itu kemudian dibakar dan dimakannya hingga hanya kepalanya yang tersisa. Setelah melaksanakan semua perintah dalam mimpinya, Kelingking mulai bingung. “Aku harus berbuat apa lagi? Semua perintah sudah aku laksanakan, tapi tidak ada tanda-tanda akan kedatangan seorang putri. Di sini tidak ada seorang pun selain aku,” gumam Kelingking dengan perasaan kesal. Merasa apa yang dilakukannya sia-sia, ia pun menendang kepala ikan itu hingga terbang melambung tinggi ke angkasa. Ia sudah tidak mempedulikan lagi di mana kepala ikan itu jatuh. Ia kemudian melanjutkan pengembaraannya tanpa tentu arah.

Suatu hari, sampailah Kelingking di sebuah kampung. Seluruh penduduk kampung itu membicarakan tentang kepala seekor ikan yang jatuh secara tiba-tiba di depan istana. Ternyata kepala ikan yang dimaksud itu adalah kepala ikan yang ditendang oleh Kelingking beberapa hari yang lalu. Kepala ikan itu seakan-akan menempel di tanah, sehingga tak seorang pun yang dapat memindahkannya. Padahal kepala ikan yang besar itu mengganggu keindahan istana. Putri raja yang merasa terganggu pandangannya meminta kepada ayahnya agar kepala ikan itu disingkirkan dari depan istana. “Ayah, kepala ikan yang di depan istana itu sangat mengganggu pemandangan. Dapatkah kepala ikan itu disingkirkan dari tempat itu?” pinta sang Putri kepada ayahnya.

Raja kemudian mengerahkan seluruh panglima dan pengawal istana untuk memindahkan kepala ikan itu. Satu per satu panglima dan pengawal mencoba mengangkat kepala ikan itu secara bergantian. Namun, tidak seorang pun di antara mereka yang mampu menggerakkannya. Kemudian mereka beramai-ramai mengangkatnya, tapi usaha mereka tetap sia-sia. Jangankan kepala ikan itu bergeser, bergerak sedikit pun tidak.

Melihat keadaan itu, Raja pun mengadakan sayembara, “Wahai seluruh penduduk negeri, barangsiapa yang dapat memindahkan kepala ikan dari depan istana, jika laki-laki akan kunikahkan dengan putriku, dan jika perempuan akan kuangkat sebagai anak,” seru Raja kepada rakyatnya.

Sesaat sebelum sayembara itu dimulai, seluruh penduduk telah berkumpul di depan istana. Tidak ketinggalan pula Kelingking ikut dalam sayembara itu. Saat ia melihat kepala ikan itu, Kelingking tersentak kaget, “Sepertinya aku mengenal kepala ikan itu?” gumam Kelingking. Ternyata, ia baru tersadar jika kepala ikan itulah yang pernah ia tendang beberapa hari yang lalu.

Tak lama kemudian, sayembara pun dimulai. Para peserta sayembara maju satu per satu untuk memindahkan kepala ikan itu. Namun, tidak seorang pun yang mampu menggerakkannya. Tibalah giliran Kelingking. Melihat badannya yang kecil, orang-orang mencemooh dan menertawakkannya. Tetapi Kelingking tidak peduli. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, dikelilinginya kepala ikan itu tujuh kali. Kemudian dicungkilnya kepala ikan itu dengan jari kelingkingnya. Sungguh ajaib. Seakan tidak mengeluarkan tenaga, dengan mudahnya Kelingking mengangkat kepala ikan itu dan menguburnya di belakang istana. Maka, Kelingkinglah yang dinyatakan sebagai pemenang dalam sayembara itu. Ia berhak untuk menikah dengan putri raja sebagaimana janji raja.

“Orang Muda! Meskipun tubuhmu kecil, tapi kamu mampu memindahkan kepala ikan itu. Sesuai dengan janjiku, pekan ini juga kamu akan kunikahkan dengan putriku,” kata sang Raja dengan kagum. Sepekan kemudian, pesta pernikahan Kelingking dengan putri raja dilaksanakan dengan ramainya. Dalam pesta tersebut, ditampilkan berbagai macam nyanyian dan tari-tarian istana. Seluruh keluarga istana dan penduduk negeri turut berbahagia atas pernikahan tersebut.

Beberapa hari setelah menikah, Kelingking menjemput ayah dan kedua abangnya untuk tinggal bersamanya di istana. Kelingking pun hidup berbahagia bersama sang Putri dan keluarganya.

* * *

Cerita rakyat di atas termasuk ke dalam cerita-cerita teladan. Adapun nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita di atas di antaranya sifat tidak pendendam, selalu menepati janji dan suka berdusta atau berbohong kepada orang tua. Sifat tidak pendendam tercermin pada sifat Kelingking. Meskipun kedua abangnya beberapa kali berusaha untuk mencelakakan dirinya, Kelingking tidak pernah merasa dendam terhadap kedua abangnya. Sifat selalu menepati janji tercermin pada sifat Kelingking dan sang Raja. Kelingking telah menepati janjinya dengan menjemput ayah dan kedua abangnya setelah ia berhasil yaitu menjadi menantu raja. Demikian pula sang Raja, ia telah menepati janjinya untuk menikahkan putrinya kepada siapa saja yang memenangi sayembara itu. Sementara sifat suka berdusta atau berbohong kepada kedua orang tercermin pada sifat Salimbo dan Ngah. Mereka telah dua kali berbohong kepada ayahnya dengan menyampaikan berita bohong, bahwa Kelingking telah meninggal dunia diterkam harimau di hutan dan dimakan ikan jerung di laut.

Dua sifat yang pertama, yaitu tidak pendendam dan suka menepati janji, patut untuk dijadikan sebagai suri teladan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam masyarakat Melayu, sifat tidak pendendam atau pemaaf amat dimuliakan. Orang-orang tua mengatakan, bahwa sifat ini mencerminkan kesetiakawanan sosial yang tinggi, menggambarkan sifat rendah hati, bertenggang rasa dan berbudi luhur. Dalam ungkapan adat dikatakan, “siapa taat memeluk agama Islam, dendam kesumat ia haramkan,” atau “siapa setiap memegang adat, dendam kesumat ia pantangkan.” Tenas Effendy juga mengungkapkan hal yang sama dalam untaian syair seperti berikut ini:

wahai ananda peganglah amanah,
jalani hidup di jalan Allah
lapangkan dada serta pemurah
hapuslah dendam jauhkan fitnah


Sementara sifat suka berdusta atau berbohong adalah sifat tercela yang harus dihindari. Sifat ini sangat dipantangkan oleh orang Melayu. Bagi mereka, sifat ini menyangkut harkat, martabat dan marwah mereka. Bagi yang melanggarnya, dianggap sebagai penghinaan terhadap mereka. Tenas Effendy dalam bukunya“Ejekan” terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau, banyak mengungkapkan tentang sifat berdusta atau berbohong dalam bentuk ungkapan seperti berikut:

apa tanda orang yang nista,
bercakap bohong berkata dusta
kalau suka bercakap bohong,
alamat badan akan terkurung
kalau suka berkata dusta,
alamat hidup beroleh nista

Putung Kempat (Cerita Rakyat Kalimantan Barat)


Putung Kempat adalah seorang gadis perempuan malang yang tinggal di daerah Kalimantan Barat, Indonesia. Ia beberapa kali tertimpa penyakit akibat ulah kelima saudara laki-lakinya. Ulah apa yang dilakukan oleh kelima bersaudara itu terhadap Putung Kempat? Ikuti kisahnya dalam cerita Kisah Putung Kempat berikut ini!

* * *

Alkisah, di atas Gunung Kujau yang hijau dan sejuk di daerah Kalimantan Barat, hiduplah sepasang suami-istri dengan keenam anaknya. Sang suami bernama Sabung Mengulur, sedang istrinya bernama Pukat Mengawang. Keenam anaknya yaitu berturut-turut dari yang sulung ke yang paling bungsu adalah Belang Pinggang, Suluh Duik, Buku Labuk, Terentang Temanai, Putung keempat, dan Bui Nasi. Dari keenam bersaudara tersebut, hanya Putung Kempat yang perempuan. Sebenarnya, Sabung Mengulur dan istrinya mempunyai seorang lagi anak laki-laki yang bernama Pulung Gana, namun anak itu meninggal ketika masih kecil. Untuk menghidupi keenam putra-putrinya, Sabung Mengulur dan istrinya bercocok tanam di ladang.

Suatu ketika, Sabung Mengulur mendapat firasat buruk bahwa hidupnya di dunia akan lebih lama lagi. Namun, ia tidak memberitahukan hal itu kepada istri dan anak-anaknya. Suatu hari, ia hanya berpesan kepada keenam anaknya ketika akan masuk ke dalam kepok agar keenam anaknya membuka lahan baru untuk bercocok tanam.

“Wahai, anak-anakku! Sebaiknya kalian membuat ladang baru agar kalian bisa hidup,” pesan Sabung Mengulur.

Keenam anak itu tidak terlalu menanggapi pesan itu karena menganggap ayah mereka hanya bergurau. Ayah mereka masih terlihat sehat dan tidak sedang mengidap penyakit apapun. Hari sudah menjelang sore, namun Sabung Mengulur belum juga keluar dari kepok. Ketika keenam anaknya menengok ke dalam kepok itu ternyata sang ayah menghilang entah ke mana, mereka hanya menemukan beraneka ragam bibit tanaman.. Barulah saat itu istri dan keenam anaknya menyadari bahwa pesan ayahnya itu tidak main-main. Betapa sedih istri Sabung Mengulur dan keenam anaknya.

Kini, keenam bersaudara itu telah menjadi yatim. Mereka harus bekerja untuk menghidupi diri mereka. Akhirnya, mereka pun melaksanakan pesan sang ayah dengan membuka ladang di hutan. Mereka bergotong-royong dan bergiliran mengolah, menanami dan menjaga ladang mereka.

Pada suatu malam, ketika giliran Bui Nasi menjaga ladang, tiba-tiba ia diserang oleh sesosok makhluk raksasa. Rupanya, raksasa itu adalah penjelmaan roh saudaranya, Puyung Gana, yang merasa berhak atas tanah itu. Bui Nasi tidak mengetahui hal itu, sehingga terjadilah perkelahian sengit antara kedua orang bersaudara itu. Perkelahian itu berlangsung hingga pagi, namun tak satu pun yang dapat dinyatakan kalah atau menang. Akhirnya keduanya berdamai setelah mengetahui bahwa mereka adalah bersaudara. Mereka bersepakat untuk mengolah lahan itu secara bersama-sama. Bahkan, raksasa itu bersedia mengajari Bui Nasi tentang cara bercocok tanam.

“Dengarlah, Dik! Jika kamu hendak mengolah lahan dengan baik, perhatikanlah gugusan bintang di langit! Bintang tiga menandakan waktu baik untuk mulai mengejarkan ladang. Bintang lima menandakan musim baik untuk menebang kayu, sedang bintang empat menandakan padi dan tanaman akan diserang oleh babi hutan atau hama,” ujar Payung Gana.

Bui Nasi memperhatikan ajaran Payung Gana dengan sungguh-sungguh, kemudian menyampaikannya kepada kelima suadaranya yang lain. Akhirnya keenam bersaudara itu mengolah ladang mereka berdasarkan ajaran Payung Gana, sehingga mendapat hasil panen yang melimpah. Untuk menyambut keberhasilan tersebut, mereka mengadakan pesta panen selama tujuh hari tujuh malam. Mereka mandi-mandi di sungai atau yang biasa disebut mandi simburan dengan penuh kegembiraan.

Pada acara mandi simburan tersebut, mereka harus saling memercikkan air antara satu dengan yang lain agar terhindar dari penyakit. Namun, mereka lupa memercikkan air kepada Putung Kempat, sehingga Putung Kempat ditimpa penyakit kusta. Seluruh tubuhnya dipenuhi oleh bercak putih kemerahan seperti panu dan di tepinya terdapat penebalan seperti kurap. Kelima saudara Putung Kempat menjadi panik karena takut tertular penyakit kusta yang sulit untuk disembuhkan itu. Akhirnya mereka pun bermusyawarah.

“Apa yang harus kita lakukan, Bang?” tanya Bui Nasi kepada Belang Pinggang.

“Kita semua tahu, penyakit kusta itu sangat sulit untuk disembuhkan. Bagaimana jika Putung Keempat kita asingkan saja?” usul Belang Pinggang.

Akhirnya, kelima putra Sabung Mangulur tersebut bersepakat mengasingkan Putung Kempat dengan cara menghanyutkannya di Sungai Sepauk. Betapa sedih hati Putung Kempat akan berpisah dengan saudara-saudaranya. Namun, ia tak kuasa untuk menolak keputusan itu. Putung Kempat didudukkan di atas piring pusaka di dalam rakit dan dibekali keperluan hidup. Kelima saudaranya berharap semoga saudara perempuan itu ditemukan oleh seseorang yang mampu menyembuhkan penyakitnya.

Setelah sehari-semalam terombang-ambing di atas Sungai Sepauk, rakit yang ditumpangi Putung Kempat tersangkut pada bubu ikan milik Aji Melayu. Aji Melayu adalah seorang yang kaya dan sakti dan tinggal di sekitar aliran Sungai Sepauk. Seperti biasanya, pagi-pagi sekali Aji Melayu pergi ke sungai untuk memeriksa bubunya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang gadis duduk termenung di atas rakit yang tersangkut pada bubunya.

“Hai, siapa gadis itu?” tanyanya dalam hati, seraya menghampiri gadis itu.

“Hai, gadis cantik! Engkau siapa dan kenapa berada di tempat ini?” tanya Aji Melayu kepada Putung Kempat.

Putung Kempat belum sempat menjawab namun Aji Melayu kembali bertanya setelah melihat penyakit yang diderita Putung Kempat.

“Apa yang terjadi pada tubuhmu? Bukankah itu penyakit kusta?”

“Benar, Tuan!” jawab Putung Kempat dengan perasaan malu.

Setelah itu, Putung Kempat memperkenalkan diri dan menjelaskan semua peristiwa yang telah menimpa dirinya hingga ia berada di tempat itu. Mendengar cerita itu, Aji Melayu merasa iba kepada gadis malang itu dan membawanya pulang ke rumah untuk diobati. Dengan kesaktian yang dimilikinya, Aji Melayu berhasil menyembuhkan penyakit Putung Kempat sehingga kembali cantik seperti semula. Aji Melayu pun berniat untuk melamar Putung Kempat karena terpesona melihat kecantikannya. Putung Kempat bersedia menerima lamaran tersebut tapi dengan syarat Aji Melayu harus melalui berbagai ujian. Aji Melayu lulus ujian dan menikahi Putung Kempat.

Kabar tentang pernikahan Putung Kempat dengan Aji Melayu didengar oleh saudara-saudaranya yang berada di atas Gunung Kujau. Akhirnya, kelima bersaudara tersebut datang ke tempat Aji Melayu untuk menemui Putung Keempat. Di hadapan Aji Melayu, mereka memperkenalkan diri terlebih dahulu lalu menyampaikan maksud kedatangan mereka.

“Maaf, Tuan! Kami berlima adalah saudara-saudara Putung Kempat dari Gunung Kujau. Bolehkah kami bertemu dengan saudara perempuan kami itu?” pinta Puyung Gana mewakili keempat adiknya.

“Jika kalian ingin bertemu dengan Putung Kempat, kalian harus melalui beberapa ujian,” ujar Aji Melayu.

“Apakah ujian itu, Tuan?” tanya Bui Nasi.

“Ujian pertama yang harus kalian lalui adalah kalian harus tidur di atas selembar daun pisang hingga besok pagi. Tapi daun itu tidak boleh meninggalkan bekas robek sedikit pun,” jelas Aji Melayu.

Meskipun ujian itu termasuk berat, namun mereka berhasil melaluinya berkat kesaktian mereka. Setelah memuji keberhasilan mereka, Aji Melayu kemudian menjelaskan tentang ujian yang akan mereka lalui berikutnya.

“Begini, wahai Anak Muda Sekalian! Saat ini saya sedang bermusuhan dengan Aji Kumbang dari daerah Batu Kantuk di hulu Sungai Kapuas. Jika kalian berhasil mengalahkannya, maka kalian boleh menemui Putung Kempat. Apakah kalian bersedia menerima ujian ini?” Aji Melayu menawarkan.

“Baiklah, kami menerima tawaran Tuan. Tapi, kami ada satu permintaan,” sahut Bui Nasi, “jika kami berhasil melalui ujian ini, kami tidak hanya diperbolehkan bertemu dengan Putung Kempat, tapi juga diperbolehkan mengajaknya kembali ke Gunung Kujau.”

Aji Melayu menerima permintaan tersebut. Kelima bersaudara itu pun berangkat ke hulu Sungai Kapuas untuk menyerang Aji Kumbang. Pernyerangan itu dipimpin oleh Bui Nasi. Berkat kesaktian dan berbagai strategi yang dilakukan, akhirnya mereka berhasil mengalahkan Aji Kumbang. Keberhasilan mereka pun disambut baik oleh Aji Melayu. Sesuai dengan janjinya, maka Aji Melayu memperbolehkan kelima bersaudara itu membawa Putung Kempat kembali ke Gunung Kujau meskipun dalam keadaan hamil tua.

Setibanya di Gunung Kujau, kelima bersaudara bersuka ria sambil memukul-mukul gong pusaka keluarga yang bernama Gong Tengkang untuk menyambut kedatangan Putung Kempat. Namun tanpa mereka sadari, ternyata bunyi gong itu membuat pening kepala Putung Kempat yang akhirnya jatuh sakit. Dalam keadaan sakit, Putung Kempat pun melahirkan putrinya yang pertama dan diberi nama Dayang Lengkong. Selang beberapa hari tinggal di Gunung Kujau, sakit Putung Kempat tak kunjung sembuh. Akhirnya, kelima bersaudara memutuskan untuk mengembalikan Putung Kempat dan anaknya kepada Aji Melayu. Setelah menyerahkan saudara perempuannya itu kepada Aji Melayu, mereka langsung berpamitan untuk kembali ke Gunung Kujau. Aji Melayu pun segera mengobati Putung Kempat dan berhasil menyembuhkannya.

Suatu hari, ketika sedang duduk menimang putrinya di pendopo istana, Aji Melayu bertanya kepada kepada istrinya, “Dinda, kalau boleh Kanda tahu, apa gerangan yang menyebabkan Dinda jatuh sakit saat berada di Gunung Kujau?”

Putung Kempat pun bercerita bahwa ia jatuh sakit akibat mendengar bunyi Gong Tengkang pada saat kelima saudaranya menyambut kedatangannya. Bagaikan disambar petir telinga Aji Melayu mendengar cerita itu. Ia langsung naik pitam dan sangat marah atas perbuatan kelima saudara istrinya itu yang dianggapnya tidak bertanggung jawab. Ia pun berniat untuk memberi pelajaran kepada mereka.

Keesokan harinya, setelah berpamitan kepada istrinya, berangkatlah Aji Melayu ke Gunung Kujau dengan menggunakan perahu. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ia merasa sangat rindu kepada anak dan istrinya. Akhirnya, ia memutar balik perahunya dan membatalkan perjalanannya ke Gunung Kujau. Hal itu ia lakukan berulangkali hingga akhirnya suatu hari Putung Kempat memberinya nasehat.

“Kanda! Sekiranya Kanda tidak kuasa berpisah dengan Dinda dan bayi kita, alangkah baiknya jika Kanda membuat dua buah patung yang mirip dengan kami. Jika Kanda tiba-tiba merasa rindu kepada kami, Kanda cukup memandangi kedua patung itu,” saran Putung Kempat.

Rupanya, saran yang diberikan istrinya itu masuk di akal bagi Aji Melayu. Setelah membuat dua buah patung yang mirip istri dan putrinya, ia pun berangkat ke Gunung Kujau. Ketika kerinduan itu tiba-tiba muncul, ia segera memandangi kedua patung itu sehingga kerinduannya terobati. Akhirnya, Aji Melayu tiba di Gunung Kujau dan berhasil menemui Bui Nasi dan saudara-saudaranya. Ia pun kehilangan kesabaran hendak menghajar mereka. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menyerang Bui Nasi dengan senjata saktinya. Bui Nasi pun tidak tinggal diam. Ia segera mengambil meriam pusakanya bernama yang Gegar Sepetang. Hanya sekali tembakan, peluru meriam itu mengenai tubuh Aji Melayu hingga terlempar ke dalam Sungai Sepauk dan tewas seketika. Pada saat itu pula, air Sungai Sepauk tiba-tiba meluap sehingga terjadilah banjir besar. Konon, Gong Tengkang yang menyebabkan Putung Kempat sakit itu juga terjatuh ke dasar Sungai Sepuak. Hingga kini, jika air Sungai Sepauk surut pada saat musim kemarau, gong itu masih terlihat.

* * *

Demikian cerita Kisah Putung Kempat dari daerah Kaliman Barat. Menurut sejarah, Putung Kempat adalah istri Aji Melayu yang kemudian menurunkan raja-raja di Kerajaan Sintang, Kalimantan Barat. Bukti-bukti keberadaan Aji Melayu dan istrinya di daerah ini dapat dilihat dari temuan arkeologis berupa Arca Putung Kempat dan batu berbentuk phallus yang oleh masyarakat setempat disebut dengan Batu Kelebut Aji Melayu.

Pelajaran yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa sesama saudara akan terlihat sangat baik jika saling melindungi dan saling mengasihi, bukannya saling menyakiti seperti yang dilakukan kelima bersaudara terhadap Putung Kempat. Mereka hanya bisa menyebabkan saudara perempuannya tertimpa penyakit, tetapi tidak pandai untuk mengobatinya. Sumber.

Seluk Beluk Batu Pirus, Kenali Asli Atau Imitasi


Batu Pirus. Sering kita dengar orang yang umumnya berusia menyebut batu biru bergurat dengan sebutan Pirus. Memang batu Pirus banyak dipakai di segmen usia 40 tahun keatas. Pirus bernama lain Turquoise atau fairus, merupakan campuran fosfat tembaga dan alumunium ada juga yang menyebut sebagai campuran tanah, kapur, dan batu. Tak heran ada batu Pirus yang terlihat gurat-gurat putih. Batu Pirus atau Turquoise memiliki corak bermacam-macam, yang paling umum dijumpai adalah bermotif sarang laba-laba dilatari warna biru atau hijau. Warna dasar Turquoise adalah biru seperti langit, biru muda kehijauan hingga ke hijau muda. Warna biru berasal dari tembaga, ferum (besi), dan aluminium. Batu Pirus atau Turquoise berasal dari Semanjung Persia (Iran, Afghanistan, Sinai), Nevada, Carlifornia, New Mexico, dan Arizona.



Ditinjau dari skala kekerasan yang dimiliki, Batu Pirus atau Turquoise memiliki kekerasan antara 5-6 pada skala Mohs. Hal inilah yang mengakibatkan sebagian ahli menyebut sebagai batu setengah permata, dan tergolong permata kelas III. Tapi dari sisi keindahannya, Batu Pirus tetap memiliki tempat dihati para pecinta anugerah Illahi yang berupa batu Pirus ini. Di Pasar Indonesia, harga Batu Pirus atau Turquoise tidaklah terlampau tinggi. Untuk per gram batu mentah dibandrol Rp 4.000/gram. Tapi kalo sudah dipotong dan dipoles, pembeli dapat merogoh saku sekitar Rp 20.000 – Rp 500.000,- tergantung kualitas dan usuran Batu Pirus yang ada. 


Di pasaran dunia, Batu Pirus mempunyai harga yang baik di pasaran. Batu Pirus dari Persia hádala Pirus yang berharga di pasaran karena memiliki warna biru atau hijau tanpa sebaran jalur. Seperti yang terjadi dipasarm bahwa Batu Pirus pun tak lupus dari praktik pembuatan sintetik baik legal maupun ilegal. Ironisnya, sulit sekali membedakan antara batu Pirus asli atau imitasi. Apalagi sudah dibuat menjadi perhiasan, atau gelang yang dibuat indah berbalus emas atau perak.

Umumnya, turquoise dipergunakan dalam bentuk cincin, kalung, dan giwang dan seringkali dijual secara serangkai. Selain itu, gelang, gelang kaki, dan liontin juga turut mempresentasikan bebatuan yang eksotik ini. Bahkan, bebatuan yang sering disebut dengan nama pirus ini juga hadir dalam bentuk kepala sabuk, bros, bahkan hiasan di atas selop wanita.


Pirus dan Mitos khasiat yang menyertainya

Dari beberapa info, pertama kali Batu Pirus digunakan sekitar 7000 tahun yang lalu, berarti dibanding Lapis lazuli, batu Pirus 500 tahun lebih awal dikenal sebagai permata. Hal ini terbukti dengan ditemukannya Pirus sebagai alat solekan di Mesir Purba dan menjadikannya celak mata. Para ahli menemukan bahwa di suku Inca kuno dan Mesir menggunakan Batu Pirus sebagai perhiasan bagi menghias mayat golongan bangsawan sebelum dimakamkan. Tak heran bila banyak makam bangsawan Inca kuno dibongkar kuburnya untuk mendapatkan harta berupa batu ini sebelum kuburan dimusnahkan.



Orang Barat menganggap Batu Pirus sebagai batu yang mempunyai berbagai keistimewaan dari segi penyembuhan penyakit. Sedangkan di suku Puak Red Indian dahulu meletakkan Batu Pirus pada busur panah sebagai kepercayaan mereka bahwa batu Pirus dapat membantu mereka memanah pada sasaran yang tepat.

Tidak hanya berkutat seputar sejarah, untuk masa kini Batu Pirus diyakini dapat membantu profesi akuntan dalam bekerja karena diyakini dapat membawa pada relaksasi mental dan pikiran karena perasaan was-was atau bingung. Tak hanya itu, Illahi memberikan anugerah berupa manfaat untuk mengatasi penyakit paru-paru, syaraf, mata, penyakit di kerongkongan. Pirus pun mampu menguatkan jantung, memperbaiki peredaran darah, keracunan dalam darah, dan memulihkan tenaga.



Memahami Batu Pirus Asli dan Imitasi

Banyak dikenal Batu Pirus adalah warna biru, bebatuan ini sebetulnya mempunyai banyak variasi warna. Semakin tinggi kandungan tembaganya, maka semakin biru warna bebatuan ini. Sebaliknya, jika kandungan besinya yang lebih tinggi, maka warna turquoise cenderung ke arah hijau. Ini, tentu saja, bila merupakan turquoise asli.

Sedang turquoise imitasi, tentu tidak mengenal ‘hukum’ semacam itu. benda ini biasanya merupakan hasil olahan laboratorium. Dengan begitu, warna yang dihasilkan juga cenderung seragam, mendekati biru. Turquoise imitasi yang berwarna pucat dibuat dengan menutupkan wax atau minyak untuk membuyarkan warnanya. Hanya saja, biasanya warna ini tidak akan permanen sifatnya. Bagaimana membedakan turquoise asli dan palsu? Turquoise asli, akan tetap berwarna biru sampai ke dalam kendati patah. Sebaliknya, yang palsu atau Aspal apabila dipotong maka warna birunya tidak sampai dalam.

Sekarang tinggal anda yang bisa menjawab, bagaimana dengan anda? Tertarik untuk memiliki Batu Pirus?

Tips Jika Terjadi Kebakaran Didalam Ruko

Jam 3 subuh tadi, saya dikejutkan dengan bau gosong dan asap tipis yang ternyata berasal dari ruko sebelah. Ruko kami memang berdempetan, dagangannya pun sama, yakni baju (butik). Nah, saya yang pertama kali mengalami kebakaran di ruko menjadi panik.


Jadi kronologisnya, setelah bau gosong dan asap terlihat di bawah plafon lantai dua, saya langsung naik ke kamar dan mengambil dompet + handphone karena dua barang itu yang menurut saya paling urgent.

Saat membuka pintu ruko, saya sempat kesal dengan si kunci yang rewel padahal di ruko sebelah kanan saya sudah terdengar bunyi kretek-kretek seperti kayu yang terbakar. Nah setelah keluar ruko, kemudian saya ingat ada barang yang belum saya ambil, yakni dua buah laptop dan sebuah macbook. Ketiganya berisi data-data penting yang harganya jauh melebihi barangnya.

Sontak saya meminta bantuan pada seseorang yang kebetulan mengetahui kebakaran tersebut guna mengambil barang di atas. Nah setelah saya naik, saya melihat asap sudah jauh lebih banyak dan membuat nafas lumayan sesak. Setelah laptop dan macbook diambil, saya langsung lari ke bawah dan keluar ruko tanpa memakai sandal. Thanks a lot to seseorang yang saya tak tahu namanya tersebut.

Setelah itu, saya berusaha menghubungi nomor penerangan lokal guna mendapatkan nomor pemadam kebakaran setempat. Setelah sekitar 15 menit telpon saya tak kunjung diangkat, saya makin panik karena takut api merembet ke ruko saya, dimana saya baru ingat ada ratusan nota piutang di kamar yang jumlahnya lebih dari 300 juta, belum termasuk baju dan barang-barang berharga lainnya.

Bahkan saya sudah lupa siapa yang membantu mengeluarkan dua motor yang ada di dalam ruko, so many thanks.

Daripada naik dengan mempertaruhkan nyawa, saya memilih untuk menunggu pemadam datang dan memadamkan api. Thanks juga buat tetangga saya yang menyuruh anaknya untuk mendatangi kantor pemadam terdekat. Tak lama kemudian, pemadam kebakaran pun datang. Belakangan diketahui bahwa kebakaran bersumber dari arus pendek (korslet).

Syukurlah api berhasil dipadamkan sebelum merembet ke ruko-ruko disebelahnya. Perlu diketahui, ruko yang terbakar adalah ruko di sebelah kanan saya, dan di sebelah kiri saya ada showroom mobil bekas yang jika terkena api sudah tidak bisa dibayangkan ledakannya.

Dari pengalaman semalam, saya berusaha mengoreksi diri, apa yang perlu diperbaiki agar hal seperti ini tak akan terjadi lagi, atau seandainya terjadi, persiapan sudah ada.

Berikut tips jika terjadi kebakaran di dalam ruko:

  1. Ingat yang paling penting dari semuanya adalah nyawa. Jadi lebih baik menyelamatkan diri dan keluarga setelah itu baru memikirkan barang apa yang perlu dibawa.
  2. Utamakan barang yang paling penting untuk dibawa dulu, misal dompet, handphone. Dompet untuk berjaga-jaga, dan handphone untuk segera menghubungi pemadam kebakaran, polisi setempat dan kerabat.
  3. Setelah itu, lihat kondisi. Jika memungkinkan, Anda bisa meminta bantuan orang lain untuk menemani Anda mengambil barang-barang lainnya, ingat nyawa Anda tetap nomor satu.
  4. Jika kebakaran terjadi di ruko sebelah, usahakan jangan panik dan segeralah keluar dari ruko untuk berjaga-jaga jikalau api merembet.
  5. Jika kebakaran terjadi di dalam ruko (lantai bawah), maka lihat apakah memungkinkan untuk keluar dari bawah. Jika tidak, segeralah ke jendela dan teriak minta tolong serta segera hubungi kerabat.
  6. Jika kebakaran terjadi di dalam ruko (lantai atas), maka bahaya yang mungkin terjadi adalah ambruknya plafon. Jadi segeralah turun ke bawah jika memungkinkan, atau keluar dari jendela.
  7. Matikan listrik dari pusat untuk mencegah terjadinya arus pendek lain atau bisa jadi Anda yang tersetrum.
Nah selain tips di atas, ada yang lebih baik yakni dengan mencegah kebakaran. Berikut tips mencegah kebakaran di dalam ruko:
  • Cek kabel secara berkala, jika digigit tikus bisa terjadi arus pendek.
  • Cek stop kontak. Jika sudah leleh/gosong, lebih baik diganti.
  • Cek sekreng secara berkala juga. Ganti yang lama dengan yang baru.
  • Sedia tabung pemadam kebakaran.
Ingat, instalasi listrik sangatlah penting guna mencegah terjadinya kebakaran. Karena itu jangan coba-coba menyambung kabel sendiri tanpa ahlinya dan jangan memberi beban pada stop kontak terlalu banyak. Idealnya, untuk barang bertegangan tinggi seperti kulkas, mesin cuci dan AC, sebaiknya menggunakan masing-masing satu stop kontak.

Dan untuk jenis kabel dan stop kontak, saya sangat menyarankan untuk menggunakan yang benar-benar bagus, meski harganya lebih mahal. Ingat, jangan menghancurkan usaha/nyawa Anda hanya dengan karena stop kontak palsu lebih murah.

Alat-alat tambahan yang juga sangat berguna jika terjadi kebakaran:
  • Tabung pemadam kebakaran untuk mengurangi api.
  • Helm untuk mencegah kepala dari benturan atau runtuhan plafon.
  • Bantal untuk jaga-jaga bila Anda harus melompat dari lantai dua.
  • Tali tambang besar dan kecil. Kecil untuk mengikat bantal dan yang besar untuk alat bantu turun (tangga tali).
  • Senter (ada kalanya korsleting berakibat padamnya listrik).
  • Galon berisi air, untuk kondisi darurat siram tubuh Anda dengan air.
Hubungan baik dengan tetangga juga secara tidak langsung bisa mencegah terjadinya kebakaran. Seperti yang saya alami kemarin. Kebakaran mungkin akan lebih cepat dipadamkan seandainya saya tahu nomor telpon bos pemilik ruko sebelah. Sayangnya saya tak mengenal dan akhirnya petugas pemadam kebakaran harus berusaha menghancurkan pintu harmonika secara paksa dengan kapak.

Simpan juga nomor-nomor penting seperti polisi dan pemadam kebakaran wilayah setempat. Kebakaran datang seperti pencuri yang bisa datang kapanpun.

Semoga tips jika terjadi kebakaran di dalam ruko ini bisa berguna bagi Anda.