Berusia 1200 Tahun, Siddur adalah Kitab Kuno Orang Yahudi

Kitab dari abad kesembilan tersebut diyakini sebagai kitab tertua orang Yahudi.






Pengalaman Saksi Hidup Nyi Roro Kidul



Siapa yang tak tahu wisata Pantai Watu Ulo yang terletak di Kecamatan Ambulu Jember? Tempat ini memang sangatlah melegenda, khususnya mereka yang berada di Jawa Timur, khususnya sekitar Kota Jember. Keindahan tempat ini sudah bukan rahasia lagi, mengingat memang banyaknya pengunjung yang datang menikmati keindahan Watu Ulo.

Yang menjadi daya tarik pada tempat ini adalah cerita asal-usul Watu Ulo yang memang menjadi misteri sendiri. Banyak hal yang terkadang sulit dinalar. Akan tetapi saat tim datang ke sana dan bertemu dengan juru kunci Watu Ulo, semua menjadi semakin menarik. Tidak sedikit cerita-cerita mistik yang ada di sekitar Pantai Watu Ulo.

Penjaga atau juru kunci Watu Ulo ini bernama Anshori (38) yang memang mengaku sudah menjadi bagian dari pantai ini sejak kecil. Menurut penuturan Anshori, banyak hal ghoib yang terjadi di Watu Ulo ini. Salah satu yang mencengangkan adalah ketika dia bertemu dengan Ratu Pantai Selatan atau Nyi Roro Kidul.

Tak hanya itu, Anshori pun ternyata juga memiliki keistimewaan yang tidak semua orang punya. Dia mampu melihat dunia ghaib dan masuk ke alam 'mereka'. Lantas seperti apa kisah mengejutkan Anshori yang mengaku pernah bertemu dengan penguasa pantai Selatan? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Bertemu Nyi Roro Kidul Dengan Puasa


Anshori bisa dikatakan memiliki indra keenam yang sangat tajam. Pria yang memang asli penduduk Ambulu tersebut mengungkapkan bahwa pernah berjumpa dengan Nyi Roro Kidul. Hal tersebut dijelaskan bahwa kala itu dia tengah melakukan tirakat dan puasa selama 41 hari.

Di hari ke-41, Anshori tiba-tiba dikagetkan dengan adanya penampakan sosok wanita cantik jelita. Seluruh pakaiannya berwarna hijau lengkap dengan senyumnya yang menawan. Entah apa yang dilakukan Anshori, mereka hanya berdiam diri saling memandang.

Saat tim bertanya lebih lanjut mengenai apa yang dilakukan Nyi Roro Kidul di hadapannya, Anshori hanya tersenyum dan tak ingin membeberkan lebih banyak.

Kesaksian Batu Bergoyang

Anshori lagi-lagi memberikan penuturan yang memang sulit dipercaya. Namun dengan kekuatan supranatural serta ketulusan hatinya, Anshori mengungkapkan bahwa di dalam batu besar Watu Ulo terdapat banyak sekali perhiasan mewah, seperti intan, berlian, mutiara, dan lain sebagainya.

"Itu semua miliki Ratu Pantai Selatan yang memang sengaja ditaruh di bawah Batu," ujar Anshori pada tim.

Namun tidak ada satu pun orang yang berani mengambil perhiasan atau harta tersebut karena memang tidak pernah diijinkan olehnya.

Tak hanya mengaku sebagai saksi keberadaan Nyi Roro Kidul, Anshori mengungkapkan bahwa batu yang menjulur ke bibir pantai dengan sebutan Watu Ulo itu sebenarnya tidaklah berdiam diri.

Penuturan Anshori, jika seseorang memiliki indera yang tajam maka akan melihat bagaimana Watu Ulo itu bergerak, bahkan bergoyang-goyang layaknya ular yang tengah berjalan. Akan tetapi hal tersebut hanya terjadi di hari-hari tertentu.

Keistimewaan Anshori


Saat tim mengkonfirmasi bagaimana dia mampu bercerita panjang lebar mengenai seluk beluk Watu Ulo dan Nyi Roro Kidul yang fenomenal, dia menjawab dengan enteng.

"Ini adalah modal dan keistimewaan saya di bandingkan kebanyakan orang," ujar Anshori seraya menunjukkan kerutan dahinya yang membentuk lafadz Allah.

Dia mengatakan bahwa hal itu adalah lambang bahwa dirinya memang makhluk Allah yang sangat bersyukur mendapat karunia kerutan seperti itu. Banyak yang tidak menyadari adanya kerutan bertuliskan Allah tersebut, namun jika diperhatikan, memang benar adanya.

Itu juga yang membuat Anshori selalu ingin dekat dengan Yang Maha Kuasa dan yakin bahwa Allah telah memberinya kelebihan yang tidak dimiliki sembarang orang. Salah satunya adalah melihat hal ghaib di sekitarnya.

Mati Suri
Saat kecil, Anshori mengaku pernah beberapa kali mengalami mati suri, alias bangkit dari kematian. Yang terakhir adalah saat dia melakukan tirakat atau sebuah ritual di sekitar pantai dan dia tiba-tiba tak sadarkan diri.

Seingatnya, dia telah diizinkan oleh Yang Maha Kuasa untuk melihat surga dan neraka terlebih dahulu. Usai itu, dia dikembalikan ke dunia dan bersatu lagi dengan tubuhnya.

Kerajaan Gaib Pantai Selatan
"Jika orang memiliki kemampuan supranatural, di sini adalah gerbang besar dan megah menuju kerajaan milik Nyi Roro Kidul," ujar Anshori seraya menunjuk ke arah warung usang tak berpenghuni di tepian pantai.

Sementara di sebelahnya adalah pasar yang terletak di sekitar Kerajaan Pantai Selatan dengan banyak orang berlalu lalang. Namun sekali lagi dia mengungkapkan bahwa tidak sembarang orang mampu melihat itu.

Terlepas dari itu semua, Anshori mengungkapkan bahwa semuanya terjadi karena kehendak Yang Maha Kuasa. "Tidak ada yang bisa mengalahkan kuasa Allah. Siapapun orangnya. Saat manusia berkehendak, sebaiknya selalu meminta perlindungan pada Allah, bukan yang lain. Karena Ridho Allah adalah yang paling berkuasa di atas bumi ini," ujar Anshori mengiringi perjalanan tim mengakhiri penelusuran ke 'ruang misterius' Pantai Watu Ulo.

Legenda Putri Hijau, Cerita Rakyat Medan



Menurut legenda, di zaman dahulu kala di Kesultanan Deli Lama, kira-kira 10 km dari kampung Medan, hiduplah seorang putri yang sangat cantik dan karena kecantikannya diberi nama Putri Hijau.

Kecantikan puteri itu tersohor kemana-mana. Sultan Aceh jatuh cinta pada puteri itu dan melamarnya untuk dijadikan permaisurinya.

Lamaran Sultan Aceh itu ditolak oleh kedua saudara laki-laki Putri Hijau. Sultan Aceh sangat marah karena penolakannya dan merasa terhina. Maka pecahlah perang antara kesultanan Aceh dan kesultanan Deli.

Dengan mempergunakan kekuatan gaib, saudara Putri Hijau menjelma menjadi seekor ular naga dan yang seorang lagi sebagai sepucuk meriam.

Karena kurang sigap, kesultanan Deli Lama mengalami kekalahan dalam peperangan itu. Putera mahkota yg menjelma menjadi meriam meledak, terpecah dan puing- puingnya bertebaran.

Bagian belakang meriam terlontar ke Labuhan Deli dan bagian depannya kedataran tinggi Karo. Pangeran yang seorang lagi yang telah berubah menjadi seekor ular naga itu, menyelamatkan diri masuk ke dalam Sungai Deli.

Arus sungai membawanya ke Selat Malaka. dari tempat itu ia meneruskan perjalanannya yang terakhir di ujung Jambo Aye dekat Lok Seumawe, Aceh.

Sedangkan Putri Hijau ditawan dan dimasukkan dalam sebuah peti kaca yang dimuat ke dalam kapal untuk seterusnya dibawa ke Aceh.

Ketika kapal sampai di ujung Jambo Aye, Putri Hijau mohon diadakan satu upacara untuknya sebelum peti diturunkan dari kapal. Tetapi, baru saja upacara dimulai, tiba-tiba berhembus angin ribut yang maha dahsyat disusul oleh gelombang-gelombang yang sangat tinggi.

Dari dalam laut muncul abangnya yang telah menjelma menjadi ular naga itu, dengan sekuat tenaga dia berusaha menyelamatkan adiknya. dengan menggunakan rahangnya yang besar itu, diambilnya peti tempat adiknya dikurung, lalu dibawanya masuk ke dalam laut. dan akhirnya Putri Hijau selamat, dan konon ceritanya, kakak-adik itu kini hidup tentram di dasar laut.

Dan pecahan meriam puntung yang tersebar, bisa di lihat di istana maimun.



Dan untuk melestarikan cerita rakyat tersebut, Punya Medan mengabadikannya dalam sebuah desain tshirt, agar para anak muda di medan dan sumatera utara khususnya dan seluruh indonesia pada umumnya tetap mencintai dan mengerti budaya tanah airnya, dan tidak tergerus oleh budaya dari luar!

Sejarah Kerajaan Mataram Islam - Kota Gede, Yogjakarta


Kerajaan mataram berdiri pada tahun 1582. pusat kerajaan ini terletak di sebelah tenggara kota Yogyakarta, yakni di Kotagede. Para raja yang pernah memerintah di Kerajaan mataram yaitu penembahan senopati (1584 – 1601), panembahan Seda Krapyak (1601 – 1677). dalam sejarah islam, Kesultanan mataram memiliki peran yang cukup penting dalam perjalanan secara kerajaan-kerajaan islam di Nusantara (indonesia).

Hal ini terlihat dari semangat raja-raja untuk memperluas daerah kekuasaan dan mengislamkan para penduduk daerah kekuasaannya, keterlibatan para pemuka agama, hingga pengembangan kebudayaan yang bercorak islam di jawa.

Pada awalnya daerah mataram dikuasai kesultanan pajang sebagai balas jasa atas perjuangan dalam mengalahkan Arya Penangsang. Sultan Hadiwijaya menghadiahkan daerah mataram kepada Ki Ageng Pemanahan. Selanjutnya, oleh ki Ageng Pemanahan Mataram dibangun sebagai tempat permukiman baru dan persawahan.

Akan tetapi, kehadirannya di daerah ini dan usaha pembangunannya mendapat berbagai jenis tanggapan dari para penguasa setempat. Misalnya, Ki Ageng Giring yang berasal dari wangsa Kajoran secara terang-terangan menentang kehadirannya. Begitu pula ki Ageng tembayat dan Ki Ageng Mangir. Namun masih ada yang menerima kehadirannya, misalnya ki Ageng Karanglo. Meskipun demikian, tanggapan dan sambutan yang beraneka itu tidak mengubah pendirian Ki Ageng Pemanahan untuk melanjutkan pembangunan daerah itu. ia membangun pusat kekuatan di plered dan menyiapkan strategi untuk menundukkan para penguasa yang menentang kehadirannya.

Pada tahun 1575, Pemahanan meninggal dunia. Ia digantikan oleh putranya, Danang Sutawijaya atau Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Di samping bertekad melanjutkan mimpi ayahandanya, ia pun bercita-cita membebaskan diri dari kekuasaan pajang. Sehingga, hubungan antara mataram dengan pajang pun memburuk.

Hubungan yang tegang antara sutawijaya dan kesultanan Pajang akhirnya menimbulkan peperangan. Dalam peperangan ini, kesultanan pajang mengalami kekalahan. Setelah penguasa pajak yakni hadiwijaya meninggal dunia (1587), Sutawijaya mengangkat dirinya menjadi raja Mataram dengan gelar penembahan Senopati Ing Alaga. Ia mulai membangun kerajaannya dan memindahkan senopati pusat pemerintahan ke Kotagede. Untuk memperluas daerah kekuasaanya, penembahan senopati melancarkan serangan-serangan ke daerah sekitar. Misalnya dengan menaklukkan Ki Ageng Mangir dan Ki Ageng Giring.

Pada tahun 1590, penembahan senopati atau biasa disebut dengan senopati menguasai madiun, yang waktu itu bersekutu dengan surabaya. Pada tahun 1591 ia mengalahkan kediri dan jipang, lalu melanjutkannya dengan penaklukkan Pasuruan dan Tuban pada tahun 1598-1599.

Sebagai raja islam yang baru, panembahan senopati melaksanakan penaklukkan-penaklukan itu untuk mewujudkan gagasannya bahwa mataram harus menjadi pusat budaya dan agama islam, untuk menggantikan atau melanjutkan kesultanan demak. Disebutkan pula dalam cerita babad bahwa cita-cita itu berasal dari wangsit yang diterimanya dari Lipura (desa yang terletak di sebelah barat daya Yogyakarta). Wangsit datang setelah mimpi dan pertemuan senopati dengan penguasa laut selatan, Nyi Roro Kidul, ketika ia bersemedi di Parangtritis dan Gua Langse di Selatan Yogyakarta. Dari pertemuan itu disebutkan bahwa kelak ia akan menguasai seluruh tanah jawa.

Sistem pemerintahan yang dianut kerajaan mataram islam adalah sistem Dewa-Raja. Artinya pusat kekuasaan tertinggi dan mutlak adaa pada diri sulta. Seorang sultan atau raja sering digambarkan memiliki sifat keramat, yang kebijaksanaannya terpacar dari kejernihan air muka dan kewibawannya yang tiada tara. Raja menampakkan diri pada rakyat sekali seminggu di alun-alun istana.

Selain sultan, pejabat penting lainnya adalah kaum priayi yang merupakan penghubung antara raja dan rakyat. Selain itu ada pula panglima perang yang bergelar Kusumadayu, serta perwira rendahan atau Yudanegara. Pejabat lainnya adalah Sasranegara, pejabat administrasi.

Dengan sistem pemerintahan seperti itu, Panembahan senopati terus-menerus memperkuat pengaruh mataram dalam berbagai bidang sampai ia meninggal pada tahun 1601. ia digantikan oleh putranya, Mas Jolang atau Penembahan Seda ing Krapyak (1601 – 1613).

Peran mas Jolang tidak banyak yang menarik untuk dicatat. Setelah mas jolang meninggal, ia digantikan oleh Mas Rangsang (1613 – 1645). Pada masa pemerintahannyalah Mataram mearik kejayaan. Baik dalam bidang perluasan daerah kekuasaan, maupun agama dan kebudayaan.

Pangeran Jatmiko atau Mas Rangsang Menjadi raja mataram ketiga. Ia mendapat nama gelar Agung Hanyakrakusuma selama masa kekuasaan, Agung Hanyakrakusuma berhasil membawa Mataram ke puncak kejayaan dengan pusat pemerintahan di Yogyakarta.

Gelar “sultan” yang disandang oleh Sultan Agung menunjukkan bahwa ia mempunyai kelebihan dari raja-raja sebelumnya, yaitu panembahan Senopati dan Panembahan Seda Ing Krapyak. Ia dinobatkan sebagai raja pada tahun 1613 pada umur sekitar 20 tahun, dengan gelar “Panembahan”. Pada tahun 1624, gelar “Panembahan” diganti menjadi “Susuhunan” atau “Sunan”.

Pada tahun 1641, Agung Hanyakrakusuma menerima pengakuan dari Mekah sebagai sultan, kemudian mengambil gelar selengkapnya Sultan Agung Hanyakrakusuma Senopati Ing Alaga Ngabdurrahman.

Karena cita-cita Sultan Agung untuk memerintah seluruh pulau jawa, kerajaan Mataram pun terlibat dalam perang yang berkepanjangan baik dengan penguasa-penguasa daerah, maupun dengan kompeni VOC yang mengincar pulau Jawa.

Pada tahun 1614, sultan agung mempersatukan kediri, pasuruan, lumajang, dan malang. Pada tahun 1615, kekuatan tentara mataram lebih difokuskan ke daerah wirasaba, tempat yang sangat strategis untuk menghadapi jawa timur. Daerah ini pun berhasil ditaklukkan. pada tahun 1616, terjadi pertempuran antara tentara mataram dan tentara surabaya, pasuruan, Tuban, Jepara, wirasaba, Arosbaya dan Sumenep. Peperangan ini dapat dimenangi oleh tentara mataram, dan merupakan kunci kemenangan untuk masa selanjutnya. Di tahun yang sama Lasem menyerah. Tahun 1619, tuban dan Pasuruan dapat dipersatukan. Selanjutnya mataram berhadapan langsung dengan Surabaya. Untuk menghadapi surabaya, mataram melakukan strategi mengepung, yaitu lebih dahulu menggempur daerah-daerah pedalaman seperti Sukadana (1622) dan Madura (1624). Akhirnya, Surabaya dapat dikuasai pada tahun 1625.

Dengan penaklukan-penaklukan tersebut, Mataram menjadi kerajaan yang sangat kuat secara militer. Pada tahun, 1627, seluruh pulau jawa kecuali kesultanan Banten dan wilayah kekuasaan kompeni VOC di Batavia ttelah berhasil dipersatukan di bawah mataram. Sukses besar tersebut menumbuhkan kepercayaan diri sultan agung untuk menantang kompeni yang masih bercongkol di Batavia. Maka, pada tahun 1628, Mataram mempersiapkan pasukan di bawah pimpinan Tumengggung Baureksa dan Tumenggung Sura Agul-agul, untuk menggempur batavia.

KERATON KOTAGEDE, WARISAN SEJARAH KERAJAAN MATARAM KUNO



Kota Gede terletak kira-kira 6 kilometer arah tenggara pusat kota Yogyakarta. Kotagede ini adalah sebuah kota lama dari abad ke 16 yang pernah menjadi ibu kota Kerajaan Mataram Islam,yang didirikan oleh Ki Gede Pemanahan.Sekarang tinggal sedikit barang peninggalan dan bangunan penting Mataram Islam yang masih tersisa di kota tua ini.

Beberapa di antaranya adalah makam kerabat Panembahan Senopati,dinding dan fondasi salah satu pendapa(ruang depan kerajaan),dan Sendang Selirang(sendang kakung dan sendang putri)sebuah kolam tempat mandi keluarga kerajaan.


KERATON KOTA GEDE
Kota Gede merupakan tempat pertama kali kota Kerajaan Mataram Islam berdiri.Hanya saja keraton sebagai tempat tinggal raja di Kota Gede ini sekarang dapat dikatakan sudah tidak berbekas, kecuali toponim Daton (Kedaton) atau Dalem yang menunjukkan bahwa tempat tersebut pernah digunakan sebagai tempat berdirinya kedaton 'keraton'a tau dalem 'rumah/istana kediaman raja'.

Peninggalan-peninggalan yang masih tersisa di antaranya Masjid Agung, Kompleks Makam, Kompleks Makam Hasta Rengga, Sendang Seliran, Pasar Kota Gede (Pasar Legi), Benteng Cepuri, Batu Gatheng, Batu Gilang, Benteng Bokong Semar, dan tempayan batu (Batu Gentong) serta toponim-toponim.

Menurut De Haen, seorang Belanda yang pernah berkunjung ke Mataram Kota Gede pada tanggal 30 Juni 1623 Mataram Kota Gede merupakan kota yang luas dan penduduknya banyak.Di samping itu,kerajaan ini memiliki jaringan jalan yang indah,lebar dan berbagai pasar serta lumbung padi.Tinggi tembok kota sekitar 24-30 kaki,lebar 4 kaki,dan di luarnya mengalir parit(jagang).

Pada masanya Kota Gede diduga juga dilengkapi dengan taman mengingat ada nama abdi dalem yang bernama Juru Taman.Panembahan Seda Krapyak pun diceritakan pernah membangun taman di Danalaya.Danalaya ini terletak di sebelah selatan kota Kota Gede.Pada masa pemerintahan Panembahan Seda Krapyak ini pula dibangun Prabayeksa dan lumbung padi di Gading.

Di samping itu,beliau juga memerintahkan untuk membuat krapyak(tempat perburuan binatang)di Beringan.Pada tempat itu pula beliau kelak menderita sakit dan wafat.Oleh karenanya beliau mendapat gelar anumerta Panembahan Seda Krapyak(nama mudanya Pangeran Jolang).

Keraton Kota Gede juga dilengkapi dengan Masjid,Pasar,Benteng,Alun-alun,Jagang(parit keliling benteng),Jaringan Jalan,Taman,Krapyak,Pintu Gerbang Pabean,dan Pemakaman.

Tanggal Berdirinya Mataram

Tidak ada angka tahun yang pasti yang dapat menandai tanggal berdirinya Keraton Mataram.Menurut cerita tutur Keraton Mataram didirikan pada tahun 1577.Menurut De Graaf yang mengambil sumber berita dari Babad Tanah Djawi,Keraton Plered jatuh tepat satu abad setelah Keraton Mataram berdiri.Sedangkan Keraton Plered itu sendiri jatuh pada tangal 29 Juni 1677.Dari perhitungan tersebut disimpulkan bahwa Keraton Mataram didirikan pada tahun 1578.



Masjid Agung Kota Gede

Bangunan masjid ini terletak di sebelah barat alun-alun di dalam satu kompleks halaman.Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Panembahan Senapati(1583-1601).Untuk masuk ke kompleks masjid ada gerbang padureksa di sisi timur,selatan,dan utara.Semua pintu gerbang tersebut dilengkapi dengan daun pintu yang terbuat dari bahan kayu.Secara administratif Masjid Agung Kotagede berada di wilayah Desa Jagalan,Kecamatan Banguntapan,Kabupaten Bantul,DIY.Pada masanya masjid ini berfungsi sebagai masjid negara Mataram.




AKULTURASI BUDAYA DALAM SENI DAN ARSITEKTUR 

MASJID AGUNG MATARAM KOTA GEDE





Serambi Masjid Agung Mataram Kota Gede, Lampu utama di bagian dalam masjid


Bedhug (besar) dan Kentongan (kecil) yang ditabuh dan dipukul saat tiba waktu shalat

Masjid Besar Mataram Kota Gede merupakan salah satu benda cagar budaya Yogyakarta yang menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Mataram Islam dan saksi pecahnya Keraton Yogyakarta dan Surakarta.Bangunan ini didirikan 1579 oleh Ki Ageng Pemanahan,di area yang dulunya dikenal sebagai hutan mentaok.

Wilayah ini merupakan hadiah Kanjeng Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir yang diberikan kepada Ki Ageng Pemanah karena berhasil membunuh Arya Penangsang. 

Dulunya Ki Ageng Pemanahan.Dan keluarganya menempati area hutan ini dan membangun rumah disana.Setelah kurang lebih sepuluh tahun,anak Ki Ageng Pemanahan yang bernama Panembahan Senopati akhirnya mendirikan Kerajaan Mataram Islam di Kota Gede.Letak kerajaan tersebut berada di Kampung Dalem yang jaraknya sekitar 300 meter dari kediamanan Ki Ageng Pemanahan.

Ketika Kerajaan Mataram Islam dipimpin oleh Sinuwun Prabu Hanyokrowati sebagai raja kedua(1601-1612),Masjid Besar Kota Gede dibangun sebagai tempat persembahyangan raja Mataram dan keluarga.Sejak didirikan masjid ini,ada akulturasi budaya Islam.para Raja Mataram Islam menyebarkan agama Islam di masjid tersebut.

Pasar Kota Gede
Pasar Legi yang sekarang masih berdiri dan hidup dengan segala dinamikanya,diduga kuat dulunya merupakan pasar kota kerajaan Mataram Kotagede.Seperti lazimnya pasar-pasar kerajaan Jawa Islam,berdiri di sebelah utara toponim Alun-alun.Aktivitas pasar yang paling ramai jatuh pada hari pasaran Jawa yang jatuh pada hari Legi.Oleh karena itu pula Pasar Kota Gede sering dikenal juga dengan nama Pasar Legi.

Pasar Kotagede: Alamat:Jl.Mondorakan Kota Gede,Yogyakarta 55172



Benteng Keraton Mataram Kotagede



Sisa-sisa struktur benteng Keraton Mataram Kotagede masih dapat dilihat di beberapa bagian (benteng keliling kota Mataram).

Sisa struktur benteng yang relatif kelihatan tersebut terdapat di Dusun Dalem dan Kedaton.

Dusun ini terletak kira-kira di bagian tengah yang dahulu dikelilingi tembok keliling yang sering disebut cepuri.

Tembok keliling(cepuri)ini tidak simetris,pada susut tenggara kelihatan melengkung sehingga membentuk sudut tumpul.

Penduduk menamakan sudut benteng ini Bokong Semar.

Sedang sisa benteng yang terletak di antara Kompleks Makam Hasta Rengga dan Kompleks Makam Kota Gede-Masjid Agung(benteng keliling keraton)oleh penduduk dikenal dengan nama Benteng Raden Ronggo.
Benteng ini tampak jebol dari atas ke bawah dengan lebar lubang kira-kira selebar bahu orang dewasa.Menurut cerita lisan,benteng tersebut jebol karena ditabrak oleh Raden Ronggo(salah satu putra Senapati).Benteng-benteng Mataram ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 1592-1593 Masehi.

Sebelum kita memasuki Makam Leluhur Dinasti Mataram Islam, kita melongok ke Makam Hastarengga Kotagede.

Makam Hastarengga Kotagede Seluas Setengah Hektar

Nama Hastarengga terdiri atas dua kata,yakni hasta dan rengga.Hasta berarti delapan dan rengga berarti membuat atau membangun.Maksudnya,kompleks makam tersebut dibangun atau dibuat oleh Sultan Hamengku Buwana ke delapan.

Kotagede sebagai salah satu bekas pusat kota Mataram Islam memiliki banyak situs atau benda cagar budaya.Salah satunya adalah Makam Hastarengga,yang terletak di Kampung Kotagede,Kelurahan Purbayan,Kecamatan Kotagede,Kota Yogyakarta,DIY.Lokasi makam ini berada di sisi selatan dari kompleks Makam Raja-raja Mataram dan Masjid Agung Mataram Kotagede.Kompleks Makam Hastarengga juga berdekatan dengan situs Sela Gilang dan Watu Gatheng.

Lokasi makam tersebut dapat dijangkau melalui Pojok Beteng Wetan ke timur,setelah sampai di pertigaan pertama ambil arah ke selatan(Jl.Sisingamangaraja)setelah sampai di pertigaan Karangkajen(Pasar Tela)ikuti jalan ke selatan,setelah sampai di pertigaan pertama ambil arah ke kiri(timur).Ikuti jalan tersebut hingga mentok,kemudian ambil arah ke kiri(utara),pertigaan pertama ambil arah ke kanan(arah Tegalgendhu).Ikuti jalan tersebut hingga Pasar Kotagede.Jalan menuju Makam Hastarengga berada di sisi barat pasar.Ikuti jalan tersebut ke arah selatan.Jarak makam itu dengan Pasar Kotagede sekitar 700 meter.

Kompleks Makam Hastarengga dibangun oleh Sultan Hamengku Buwana VIII(1877-1921),dengan luas kurang lebih 5.000 meter persegi.Keseluruhan kompleks makam dilindungi oleh pagar tembok keliling setinggi 2,5 m.Gapura atau pintu masuk makam berada di sisi timur berhadapan langsung dengan jalan kampung.Corak gapura bergaya padureksa.Gapura tersebut berjumlah dua buah,yakni satu di bagian paling luar dan gapura kedua berada di dalam kompleks makam.Pada kanan dan kiri gapura kedua atau gapura bagian dalam terdapat dua buah ruangan yang disebut Bale Pengapit.

Bale Pengapit yang seluas sekitar 3 m x 3 m merupakan bangunan ruangan terbuka dengan atap yang disangga 4 pilar utama dan pilar-pilar lain sebagai penyangga emperan atau atap tepi.Bale Pengapit sisi utara difungsikan sebagai tempat untuk menyemayamkan sementara jenazah(untuk disholatkan/disembayangkan)sebelum dimakamkan di liang lahat.Sementara Bale Pengapit sisi selatan digunakan sebagai tempat jaga para abdi dalem jurukunci atau juru pelihara makam,yang dalam konteks kebudayaan Jawa sering disebut sebagai tempat untuk caos‘memberikan,mempersembahkan.’


Gapura kedua dari kompleks Makam HastarenggaNama Hastarengga terdiri atas dua kata,yakni hasta dan rengga.Hasta berarti delapan dan rengga berarti membuat atau membangun.Maksudnya,kompleks makam tersebut dibangun atau dibuat oleh Sultan Hamengku Buwana ke delapan.

Pada bagian atas gapura sisi dalam terdapat relief huruf Jawa dan berbahasa Jawa yang merupakan sengkalan(penulisan angka tahun),yang menurut Suwandi,ahli Jawa,berbunyi Rampungipun ing dinten Jumuwah Legi kaping 28 Desember 1934(selesainya pada hari Jumat Legi,ke/tanggal 28 Desember 1934).Pada sisi atas dari tulisan ini juga terdapat relief yang menggambarkan seekor burung sedang bertengger di dahan pohon manggis,yang berbuah satu,berdaun empat,dan berbunga satu.Kemungkinan besar relief ini juga merupakan sengkalan yang dikenal sebagai sengkalan memet.

Pada bagian atas gapura paling luar juga terdapat relief berhuruf Jawa dan berbahasa Jawa yang berbunyi,Rampungipun Jumuwah Legi 29 Siyam Wawu 1865(selesainya Jumat Legi 20 Siyam Wawu 1865).Selain relief berhuruf Jawa pada gapura terluar ini juga terdapat relief ganesha,yakni manusia berkepala gajah dalam posisi duduk bersila.Belalai ganesha ini membawa tiga buah nanas.Kemungkinan besar relief ganesha ini juga merupakan sengkalan memet.


Deretan nisan dari anak cucu trah Sultan Hamengku Buwana VII-VIII di Hastarengga, Kotagede


Hastarengga memiliki kapasitas 1.027 kapling nisan.Sedangkan jenazah yang dimakamkan di tempat ini merupakan anak-cucu dari Sultan Hamengku Buwana VII-hingga anak cucu sultan-sultan berikutnya.
nah kita kembali ke Makam Leluhur Dinasti Mataram Islam
Makam Leluhur Dinasti Mataram Islam

Setelah melewati Pasar Kotagede,sekitaran 100 m kita akan menemukan pintu masuk menuju kompleks makam para pendiri kerajaan Mataram Islam.

Di depan sudah menyambut dua pohon beringin tua di sekitaran area parkir kendaraan yang konon ditanam oleh Sunan Kalijaga. Lebih masuk lagi kaita kaan menemukan gapura paduraksa mirip Candi Hindu yang mengarahkan kita menuju Masjid Kotagede dan kompleks makam.

Area masjid dibagi menjadi tiga yaitu:
Area masjid itu sendiri,area sendang dan area makam
Di bagian belakang, terletak makam raja-raja Mataram yang jumlahnya mencapai 627. Makam ini terdiri dari keluarga Mataram, Hamengku Buwono I dan II, serta Pakulaman I hingga IV.



Pengunjung diharuskan memakai pakain adat jawa saat memasuki area makam. Sampai sekarang masih banyak pengunjung yang mendatangi Masjid Agung Mataram Kota Gede

Situs Makam Raja-raja Dinasti Mataram Islam serta Masjid Besar Mataram terletak hanya beberapa ratus meter di sebelah selatan Pasar Kotagede sekarang.Di kanan jalan,akan kita jumpai pohon beringin besar pada sebuah halaman yang cukup luas untuk ukuran Kotagede.Inilah pintu gerbang utama memasuki kedua situs itu.Di sisi kiri dan kanan halaman ini terdapat sepasang bangsal terbuka yang dipergunakan para peziarah untuk beristirahat.Bangsal sebelah selatan dipayungi oleh pohon beringin besar dan rindang, yang disebut Waringin Sepuh.


Pintu Masuk kawasan Makam Raja-Raja Mataram



Konon, pohon yang sangat tua ini ditanam oleh Kanjeng Sunan Kalijaga yang sudah ada sejak tempat ini dibangun hampir 5 abad yang lalu. Sebagian orang percaya, daun-daunnya yang berguguran ke tanah memiliki tuah tertentu. Mereka mencari 2 helai daun yang jatuh dalam kondisi terbuka dan tertutup, lalu membawanya dalam perjalanan sebagai bekal keselamatan.





Di sebelah barat sana, berdiri gapura besar yang disebut Gapura Padureksa.




Pada kiri kanan jalan menuju gapura,berjajar sejumlah rumah tradisional yang yang disebut Dondhongan.Ini adalah tempat tinggal keluarga Dondhong, para abdi dalem yang bertugas membersihkan halaman makam dan masjid,sekaligus sebagai juru do’a kepada arwah para leluhur yang disemayamkan di makam para raja, yang lazim disebut Makam Senopaten.
















































Gapura Padureksa merupakan pintu gerbang masuk halaman masjid yang ada di sebelah timur. Hiasan kala yang terdapat pada bagian atas gapura serta hiasan-hiasan pada tembok di sekitarnya,mengingatkan kita pada ornamen dekoratif yang banyak dijumpai pada bangunan bergaya Hindu.Gapura ini dilengkapi dengan tembok pembatas atau kelir yang juga terbuat dari batu bata.Dibalik kelir inilah terdapat halaman besar dimana Masjid Besar Mataram berada.

Masjid Besar Mataram adalah salah satu bagian penting Keraton Mataram yang masih berdiri hingga saat ini.Babad Momana menyebutkan bahwa masjid ini selesai dibangun pada tahun 1589 Masehi.Bangunannya berbentuk tajug dengan atap bertumpang tiga.Dinding ruang utama masjid ini diperkirakan masih asli karena terdiri dari susunan balok-balok batu kapur tanpa semen.Kolam-kolam yang ada di sekitar serambi masjid yang dahulu dipergunakan oleh para jamaah untuk menyucikan diri sebelum memasuki masjid.

Selain Gapura Padureksa di sisi timur,masih terdapat 2 buah gapura sejenis yang terdapat di sisi utara dan selatan.Gapura yang berada di sisi selatan,menghubungkan halaman Masjid dengan kompleks Makam Senopaten.Pada halaman pertama yang kita jumpai,berdiri sebuah bangunan yang disebut Bangsal Duda.Bangunan ini dibangun pada tahun 1644 oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma,cucu Panembahan Senopati,yang bertahta di Kerajaan Mataram antara tahun 1613 hingga 1645.Bangsal ini adalah salah satu tempat yang digunakan sebagai tempat jaga para abdi dalem Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta yang secara bergilir melakukan tugas jaga di seputar makam.



Di sebelah barat Bangsal Duda terdapat pintu gerbang yang disebut Regol Sri Manganti,lengkap dengan kelir atau tembok pembatasnya.Dibalik Regol Sri Manganti inilah akan dijumpai halaman utama sebelum memasuki Makam Senopaten.






Pengapit Kidul(kiri)-Gerbang masuk makan raja Mataram(tengah)-Pengapit Ler(kanan)







Di sini terdapat beberapa bangunan yang dipergunakan sebagai tempat jaga para abdi dalem yang bertugas di Makam Senopaten,sekaligus menjadi tempat bagi para peziarah untuk beristirahat dan mempersiapkan diri sebelum memasuki kompleks makam.



2 bangunan yang berada di sebelah barat disebut Bangsal Pengapit.Bangsal sebelah utara dikhususkan bagi peziarah putri,sedangkan yang selatan dikhususkan bagi peziarah putra. Di komplek itu terdapat Bangsal Pengapit Ler yang diperuntukkan bagi kaum hawa,dan terdapat Bangsal Pengapit Kidul untuk kaum Adam.

Untuk masuk ke area makam,ada hari-hari tertentu pengunjung dapat masuk ke area makam yaitu hari Minggu,Senin,Kamis mulai pukul 10.00,dan hari Jumat mulai pukul 13.00. Namun ada persyaratan khusus bagi pengunjung yang akan memasuki area makam.Bagi pengunjung laki-laki diharuskan memakai pakaian adat jawa dan bagi perempuan diharuskan memakai kemben(pakaian dengan bahu terbuka dari jariki-kain jawa).Selain itu,tidak diperbolehkan memakai alas kaki. yang dapat disewa di depan area makam dengan membayar uang sewa 15ribu per paket.










Di dalam makam terdapat sejumlah makam yang kesemuanya adalah raja atau kerabat dekatnya.
Mereka yang disemayamkan di makam ini diantaranya:

  • Panembahan Senopati,
  • Ki Ageng Pemanahan,
  • Panembahan Sedo ing Krapak,
  • Kanjeng Ratu Kalinyamat,
  • Kanjeng Ratu Retno Dumilah,
  • Nyai Ageng Nis,
  • Nyai Ageng Mataram,
  • Nyai Ageng Juru Mertani,serta sejumlah tokoh lainnya. 

Pada bangunan Prabayeksa dalam kompleks makam terdapat sebuah makam yang unik, karena separuh bagian berada di sisi dalam dan separuh bagian lainnya di sisi luar.




Ini adalah makam Ki Ageng Mangir Wonoboyo.Konon,ini dimaksudkan sebagai lambang statusnya,sebagai menantu sekaligus musuh Panembahan Senopati.Di makam ini juga disemayamkan Sri Sultan Hamengku Buwono II,satu-satunya raja Kasultanan Yogyakarta yang tidak dimakamkan di Imogiri,serta makam saudaranya,Pangeran Adipati Pakualam I.

Peziarah yang mengunjungi makam atau ingin bertirakat juga disyaratkan untuk mandi atau berendam di kolam yang terletak di sebelah selatan makam.Kolam ini disebut Sendhang Selirang.Ada 2 buah sendhang,Sendhang Kakung berada di sebelah utara dan Sendhang Putri di sebelah selatan.Mata air Sendhang Kakung konon berada tepat di bawah makam.Sementara Sendhang Putri memiliki sumber mata air yang berasal dari bawah pohon beringin yang terletak di jalan masuk kompleks makam.



Sendang Saliran
Menurut Buku Riwayat Pasareyan Mataram III yang ditulis oleh R.Ng.Martohastono(almarhum),yakni seorang juru kunci Kotagede Mataram,Sendang Saliran konon dibuat oleh Ki Ageng Mataram dan Panembahan Senapati.Sendang ini dinamakan saliran karena konon memng dibuat/dikerjakan sendiri oleh Ki Ageng Mataram dan Panembahan Senapati.Menurut buku tersebut Sendang Saliran dibuat pada tahun 1284.Pada masa dulu di dalam sendang itu dipelihara kura-kura dan ikan lele.Kura-kura tersebut dinamai Kiai Duda.Sendang Saliran terdiri atas dua tempat yang masing-masing diperuntukkan bagi pengunjung laki-laki dan perempuan.


Gapura menuju dua sendhang




Sendang Saliran (untuk laki-laki)








Patung Kiai Duda-Sendang Saliran

Selain kedua kolam tersebut,di sebelah barat tembok makam juga terdapat sebuah sumber air bernama Sumber Kemuning.Konon,sumber air ini berasal dari cis atau senjata yang ditusukkan ke tanah oleh Kanjeng Sunan Kalijaga.





Berjalan jalan sambil menelusuri sejarah Kotagede akan menambah wawasan kita terhadap sejarah masa lalu kotagede yang pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Mataram Jawa.Budaya dan sejarah patut dilestarikan karena merupakan asal muasal dari peradaban masyarakat Jawa saat ini.Mengenal kota Yogyakarta tidak akan utuh tanpa berkunjung ke kotagede,pusat kerajaan Mataram masa lalu.