Seluk Beluk Batu Bacan

Batu Bacan masuk ke dalam jenis chrysocola-in-Chalcedony, jadi memang ada kesamaan antara Batu Bacan, Sungai Dareh ,batu Idocrase aceh serta batu Hijau Garut yang masuk dalam jenis Chalcedony.tapi yang membedakan adalah chrysocolanya. Chrysocola sendiri memiliki peranan penting dari pembentukan warna pada batu Bacan, yang terdiri dari blue-green, bluish-green, greenish-blue, green-green dsb. Chalcedony mempunyai tingkat kekerasan sampai tingkat 8 Skala Mohz.


Tidak semua batu Bacan ditemukan dalam bentuk kristal. Hal ini dikarenakan kandungan kapur di dalamnya, tetapi kapur ini seiring berjalannya waktu dapat hilang biasanya diiringi dengan naiknya skala Mohz pada batu Bacan. Selain itu, keunikan batu Bacan memiliki perkembangan range Mohz yang jauh, yang mungkin tidak dimiliki oleh jenis batu lain, antara 4,2-8 skala Mohz.

Warna pada Chalcedony juga beraneka macam mulai dari kristal, biru, hijau dll. Dibandingkan batu Chalcedony lain batu Bacan memiliki keunikan tersendiri yaitu ketika warna mendapat biasan sinar akan menimbulkan efek berbeda, contoh bluish-green, ketika belum terkena biasan sinar akan berwarna biru, namun ketika sinar menembus unsur silika dan unsur lain di dalam batu Bacan akan terlihat berwarna hijau.


Hal ini berbeda dengan Kecubung Wulung yang tampak hitam tapi bila terkena sinar maka berwarna ungu, hitam si wulung adalah warna ungu yang pekat seolah warnanya menjadi hitam. Bacan hijau yang ditemukan di Pulau Kasiruta tepatnya di Desa Palamea dan Desa Doko.

Selain batu Bacan Doko dan Palamea di Halmahera Selatan juga ditemukan batu Chalcedony yang lain yaitu batu Obi. Kombinasi warna “King Obi” (Bacan Kuning, Orange, Merah, Hitam, Hati Hiu dan Pink atau merah Fanta, kombinasi warna dari satu bongkahan batu) ditemukan di pulau Obi,tepatnya di Desa Sum Kepulauan Bacan Provinsi Maluku Utara.

Mari Berkenalan Dengan Nabi ke-26 dari Kutai


Seorang pria di kecamatan Muara Muntai, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, mengklain dirinya sebagai nabi ke-26, penerus Nabi Muhammad SAW. Saat ini, pria tersebut sudah memiliki puluhan pengikut.

Mari Berkenalan Dengan Nabi ke-26 dari Kutai

Seperti dilansir Koran Kaltim, pria ini menamakan ajarannya aliran Mimpi Spiritual. Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kukar, H Hormansyah, pria yang mengaku sebagai nabi ini pernah menyebarkan ajarannya di Kelurahan Baru, Kecamatan Tenggarong, pada tahun 2013 lalu.

Sang nabi dan keluarganya pernah diusir oleh Majelis Ulama Islam (MUI) Kukar dari Kota Tenggarong. Setelah itu, kabar mereka tak lagi terdengar. Tiba-tiba di tahun 2015 ini, aliran Mimpi Spiritual tersebut kembali ditemukan oleh MUI Kaltim di Kecamatan Muara Muntai.

MUI Kukar bersama MUI Kecamatan Rebaq Rinding telah melayangkan surat permintaan kepada Polsek agar pelaku ditangkap. MUI melampirkan perjanjian yang ditandatangani pelaku untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya menyesatkan warga. Jika kembali mengulang perbuatannya, maka yang bersangkutan akan dipidanakan.

“Setelah kita mendengar kembalinya aliran sesat Mimpi Spiritual tersebut di Kecamatan Muara Muntai, kita secara langsung melayangkan Surat ke Polsek dan Camat setempat agar bisa segera mungkin diproses,” kata Hormansyah.

Dia menjelaskan, dalam ajaran Mimpi Spiritual, tidak mewajibkan para pengikutnya untuk salat, mengaji dan juga naik haji. Saat ini, informasi dari MUI kecamatan, masjid di Desa Rebaq Rinding mulai sepi dari kegiatan ibadah salat. [yy/rimanews]

Cerita Mbah Lamong, Murid Sunan Giri dan Sejarah Kadipaten Lamongan

Sejarah Kadipaten Lamongan

Pada zaman Raja Majapahit Raden Wijaya, Lamongan sudah menjadi daerah strategis. Dalam naskah riwayat hari jadi Lamongan, dijelaskan bahwa sudah terdapat jalan purbakala yang menghubungkan pusat kerajaan di Trowulan dengan Kambang Putih (pelabuhan Tuban) yang berada di pesisir utara.

Diduga jalan purbakala tersebut mulai dari Desa Pamotan yang berada di selatan, Garung, Kadungwangi, Sumbersari, Pasarlegi, Ngimbang, Bluluk, Modo, Dradah terus ke utara hingga Gunung Pegat dan berakhir di utara tepatnya di Desa Pucakwangi di Babat. Pada zamannya, jalan purbakala ini ramai dilalui para saudagar, punggawa praja, prajurit hingga rakyat jelata.

Kondisi ini berpengaruh terhadap majunya perkembangan masyarakat di wilayah Lamongan bagian barat ketimbang warga yang hidup di Lamongan bagian timur. Kehidupan teratur masyarakat ini dapat dibuktikan dengan ditemukan banyaknya batu prasasti dan petilasan kuno di sepanjang jalan purbakala ini.

Terbentuknya Lamongan sebagai kabupaten tidak lepas dari santri kesayangan Sunan Giri II bernama Hadi, pemuda asal Desa Cancing, Ngimbang, Lamongan. Karena kecakapan ilmu agama yang dimiliki, Hadi ini lantas dipercaya untuk menyebarkan ajaran Islam ke barat Kasunanan Giri.

Sejarah Kadipaten Lamongan

Berbeda dengan delapan wali lainnya, Sunan Giri dan Kasunanan Giri memiliki sistem monarki, sehingga putra dan keturunan Giri bisa menggunakan gelar Sunan Giri.

Dengan perbekalan, pengawalan dan seorang pembantu, Hadi berangkat melaksanakan perintah Sunan Dalem menyebarkan ajaran Islam di wilayah Lamongan. Rombongan penyebar agama Islam ini berangkat menyusuri Kali Lamong dengan naik perahu.

Perahu yang dinaiki Hadi akhirnya membawanya di sebuah tempat bernama Dukuh Srampoh, Pamotan, sebuah tempat yang berlokasi tidak jauh dari jalan purbakala Majapahit. Rombongan syiar Islam ini lantas melanjutkan perjalanan darat hingga sampai di Puncakwangi, yang sekarang masuk dalam desa di wilayah Babat.

Karena lokasi tersebut dianggap sesuai dengan pesan Sunan Giri, akhirnya Hadi mengabarkan bahwa dirinya sudah berada di tempat 'kali gunting' atau kali yang bercabang dua. Bertemunya hulu sungai-sungai kecil dari Desa Bluluk dan Modo yang mengalir ke hilir kali besar yang sekarang bernama Bengawan Solo.

Sejarah Kadipaten Lamongan

Kedatangan Islam di daerah ini diterima cukup baik oleh masyarakat. Perkampungan Islam yang dibangun Hadi lambat laun berkembang cukup pesat. Namun di kemudian hari baru diketahui bahwa lokasi ini bukannya tempat dakwah yang dimaksud Sunan Giri II.

Seiring berkembangnya waktu, perjalanan syiar Islam Hadi berlanjut hingga Sunan Giri III. Karena keberhasilan sebelumnya dalam berdakwah, Hadi mendapat pangkat Rangga yang berarti pejabat.

Keberhasilan dan cara dakwah Rangga Hadi dalam menyebarkan ajaran Islam di wilayah Lamongan, membuatnya dicintai masyarakat. Kemudian warga menyematkan julukan Mbah Lamong lantaran sifat mengasuh dan melayani masyarakat yang benar-benar membekas.

Dalam perkembangannya, wilayah Lamongan menjadi incaran penjajah Portugis yang ingin menguasai pantai utara dan menjajah pulau Jawa. Kemudian Sunan Giri memandang wilayah Lamongan sebagai lokasi strategis namun rawan karena dilalui oleh Bengawan Solo yang mampu dilayari kapal pedagang maupun kapal perang penjajah.

Sejarah Kadipaten Lamongan

Dengan pertimbangan matang, akhirnya Sunan Giri IV (Sunan Prapen) mengumumkan wilayah kerangga Lamongan ditingkatkan menjadi kadipaten pada tanggal 26 Mei 1569, Rangga Hadi lantas diwisuda menjadi adipati Lamongan pertama yang diberi gelar Tumenggung Surajaya. Rangga Hadi sendiri wafat tahun 1607.

Pusara Rangga Hadi berada di sebelah utara Musala Mbah Lamong yang berada di tengah permukiman penduduk. Terdapat jalan penghubung antara musala dengan makam Rangga Hadi yang berada di bangunan terkunci. Sementara itu di kompleks luarnya juga terdapat sejumlah makam tanpa tulisan di nisan.

Lokasi musala berada di pojok persimpangan antara Gang Kali Lamong dan Gang Kali Wungu, Kelurahan Tumenggungan, Kecamatan Lamongan, Lamongan, Jawa Timur. Menurut penuturan salah satu warga sekitar, Kayah, makam Mbah Lamong hanya akan dibuka di waktu-waktu tertentu, termasuk saat hari jadi Kota Lamongan yang tanggal penetapannya mengacu pada wisuda Rangga Hadi.

"Memang kalau ramai-ramai ya saat hari ulang tahun Lamongan, Bupati sama pejabat-pejabat suka ke sini," terangnya saat berbincang dengan merdeka.com baru-baru ini.

Hal ini juga dibenarkan oleh Chambali, perangkat desa Kelurahan Tumenggungan yang ditemui merdeka.com terpisah. Menurutnya selain di hari ulang tahun Lamongan, makam Mbah Lamong juga akan dibuka saat malam Jumat.

"Biasanya Mbah Mirsad (juru kunci) ikut membantu peziarah mengantarkan doa untuk Mbah Lamong," terang Chambali saat ditemui di kantor kelurahan.

Makam Mbah Lamong ini memang masuk dalam situs sejarah yang dirawat oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Lamongan. Perawatan dilakukan secara berkala dari tahun ke tahun.

"Salah satu (situs yang dirawat) makam Tumenggung Surajaya, bupati Lamongan pertama. Dia disebut Mbah Lamong. Ini di zaman Sunan Giri, santrinya. Dia dari daerah Ngimbang, nyantri di Gresik. Setelah lulus dia menyebarkan ajaran Islam di barat, Lamongan," terang Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Lamongan Rudi Gumilar.

Mobil Mainan Berumur 7500 Tahun

Mobil Mainan Berumur 7500 Tahun

"Mobil mainan" dipamerkan bersama boneka mainan dan peluit (semuanya terbuat dari batu) di Museum Mardin. Arkeolog Mesut Alp melaporkan bahwa mobil mainan itu paling tidak berusia 7.500 tahun atau bertanggal kembali ke akhir Zaman Batu. Ketika berbicara dengan wartawan dari kantor berita Cihan dan dengan reporter Todays Zaman, Alp bersikeras bahwa benda itu adalah mobil mainan.

Mobil Mainan Berumur 7500 Tahun

Direktur Kebudayaan dan Pariwisata Mardin, Davut Beliktay, menegaskan bahwa benda yang dipamerkan salah satunya adalah mobil mainan berusia 7.500 tahun. Beliktay mengatakan bahwa mobil itu "seperti salinan" mobil hari ini, menambahkan bahwa benda itu juga menyerupai traktor. Namun sahabat anehdidunia.com, ia tidak menjelaskan bagaimana mobil mainan bisa berusia 7.500 tahun. Mengomentari mainan kuno lainnya, ia berkata: "Kami percaya bahwa peluit dan boneka berasal dari 5.000 hingga 6.000 tahun yang lalu. Peluit-peluit masih dalam kondisi baik". Beliktay mengatakan kepada pers bahwa informasi yang komprehensif mengenai mobil mainan 7.500-tahun itu akan segera dirilis.

Mobil Mainan Berumur 7500 Tahun

Hal ini bisa menjadi anomali sejarah yang menarik; dan dengan melihatnya, mungkin mainan ini lebih menggambarkan sebuah kereta/chariot daripada sebuah mobil. Tapi meskipun seandainya mainan ini memang kereta, tetap menjadi penemuan yang menarik karena usianya yang 7500 tahun. Namun kita hanya bisa berharap mereka (para ahli dari turki itu) akan menjelaskan dengan tepat bagaimana mereka berpikir bahwa mereka memiliki mobil mainan yang berusia ribuan tahun, dan bukan kereta mainan, yang jauh lebih masuk akal.

Bangsa Arya Berasal dari Indonesia Khususnya Tanah Sunda?

Didalam kitab2 agama di dunia ternyata tanah yang dijanjikan Promise land (lemuria) adalah nusantara Indonesia kita tercinta (ingat Israel mau bayar mahal untuk bisa buka kedutaan di Indonesia bahkan minta tolong lewat ank buahnya USA) karena tujuannya adalah promise land Indonesia
Jadi Bangsa Indonesia bukan berasal dari mana-mana , bukan Yunnan, Indus dll tapi Justru Indonesialah Pusat Peradaban itu sendiri atau root race of Humanity akar dari race2.

Bangsa Arya Berasal dari Indonesia Khususnya Tanah Sunda

Though living lemur species are only found in Madagascar and several surrounding islands, the biogeography of extinct lemurs extends from Pakistan to Indonesia. The wide range of the animals inspired the name Lemuria,

The Atlanteans were the "Gods", or "Angels" or "Civilizing Heroes" whom we find in essentially all traditions. They are the Nagas of India and Indonesia, the Oannés of Sumero-Babylon, the Cabeiri and Corybants or, yet, the Heroes such as Hercules, Prometheus and Cadmus of the Greeks and Romans, and so on.

Dalam buku terbaru, Eden di Timur: Banua di Asia Tenggara yang tenggelam (Indonesia)(Phoenix paperback, London 1999 (1998)), Stephen Oppenheimer telah berfokus pada salah satu bagian dari benua rak: wilayah antara Indonesia( Sumatra, Jawa, Kalimantan ), Thailand, Vietnam, Cina dan Taiwan, yang sebagian besar dihuni selama Ice Age.Meneliti di Indonesia ini adalah yang paling maju pusat peradabannya, ia menyebutnya Eden, nama Bibel surga (dari Sumeria edin, "dataran aluvial"), karena Asia Barat-sumber, termasuk Alkitab tidak mencari asal-usul manusia atau setidaknya peradaban di Timur. Dalam beberapa kasus, seperti dalam Sumeria referensi, ini "Timur" jelas merupakan pra-Harappan dan Harappan budaya, tetapi bahkan lebih negara-negara timur tampaknya terlibat.

Oppenheimer adalah seorang dokter medis yang tinggal di Asia Tenggara selama beberapa dekade berkebangsaan belanda. Dia jelas-jelas dipengaruhi oleh Marxisme,e.g. di mana dia menolak agama sebagai alat untuk "mengendalikan kerja orang lain", dengan acuan eksplisit untuk Karl Marx's Das Kapital (p.483). Bukunya didasarkan pada penelitian ilmiah solid (genetik, antropologi, linguistik dan arkeologi), dan dalam hal ini sangat berbeda dari sejumlah buku Atlantis yang menarik pada "wahyu" dan "penyaluran".

Menurut Oppenheimer, Indonesia-Atlantis, sementara disebut Paparan Sunda karena sekarang adalah rak Sunda, adalah pemimpin dunia dalam Revolusi Neolitikum (mulai dari pertanian), dengan menggunakan batu untuk menggiling biji-bijian liar sejak24.000 tahun lalu lalu, lebih tua sepuluh ribu tahun lebih tua daripada di Mesir atau Palestina. Sebelum dan terutama selama banjir bertahap dataran rendah mereka, yang Sundalanders menyebar ke tanah tetangga: daratan Asia termasuk Cina, India dan Mesopotamia, dan pulau dunia dari Madagaskar ke Filipina

Bangsa Arya Berasal dari Indonesia Khususnya Tanah Sunda
Piramid Gunung Padang bukti peninggalan jaman prasejarah

Oppenheimer sejalan dengan arkeolog terhadap ahli bahasa dalam kontroversi tentang tanah air dari rumpun bahasa Austronesia (Malay, Tagalog, Maori, Malgasy dll): ia menempatkannya di atas Paparan Sunda dan daerah-daerah yang sekarang membentuk pantai-pantai Tenggara - negara-negara Asia, sedangkan kebanyakan linguis berpendapat bahwa Cina selatan adalah tanah asal. Bagian dari keprihatinan argumen kronologi: Oppenheimer mengusulkan kronologi yang lebih tinggi daripada Peter Bellwood dan out-of-cina teoretikus. Pengalaman saya dengan studi IE membuat saya mendukung kronologi yang lebih tinggi, untuk penemuan baru (misalnya bahwa "pra-IE" orang-orang seperti Pelasgians dan Etruscans, bukan untuk berbicara tentang Harappans, ternyata telah lebih awal "Aryan" pendatang baru) telah secara konsisten telah mendorong tanggal fragmentasi PIE kembali ke masa lalu.

Alasan lain untuk tidak terlalu banyak mengandalkan teori-teori dari para pakar bahasa Austronesia adalah bahwa linguistik adalah bidang yang sangat menuntut, yang terdiri dari ratusan studi bahasa-bahasa kecil yang sebagian besar tidak memiliki literatur, sehingga jumlah ahli asli jauh lebih kecil daripada di kasus IE, dan bahkan dalam kasus terakhir linguis adalah tempat di dekat sebuah konsensus mengenai pertanyaan tanah air. Linguistik bukti bukti yang sangat lembut, dan biasanya mengakui data lebih dari satu rekonstruksi sejarah, jadi saya rasa tidak ada bukti kuat terhadap tanah air Sundaland hipotesis. Sebaliknya, bukti arkeologi dan genetik mendukung penyebaran populasi berbahasa Austronesia dari Paparan Sunda tampaknya cukup.

Hal ini sangat yakin bahwa beberapa Austronesians ini harus telah mendarat di India, beberapa perjalanan mereka ke Madagaskar, beberapa untuk tinggal dan bergaul dengan penduduk asli. Oleh karena itu kehadiran Austronesia beberapa kata dalam bahasa India semua keluarga, yang paling menonjol ayi / bayi, "ibu" (seperti dalam marathi nama perempuan Tarabai, Lakshmi-bai dll), atau kata-kata untuk "bambu", "buah" , "Sayang". Lebih spektakuler, ahli bahasa seperti Isidore Dyen telah dibedakan kosa kata yang cukup umum dalam leksikon inti Austronesia dan Indo-Eropa, termasuk kata ganti, angka (misalnya malay dva, "dua") dan istilah untuk elemen. Oppenheimer tidak masuk ke pertanyaan ini, tetapi mungkin diehard invasionists menggunakan penemuannya untuk menyarankan sebuah invasi Arya ke India bukan dari barat laut, tapi dari tenggara(Indonesia

Rumpun bahasa lain yang berasal di beberapa bagian dari Paparan Sunda Indonesia adalah Austro-Asiatik, yang meliputi bahasa Mon-Khmer di Indocina (dengan titik gravitasi demografis menjadi Vietnam), tetapi juga Nikobar dan bahasa Munda Chotanagpur, pada satu waktu mungkin berbicara di seluruh Gangga baskom. Ini adalah yang membawa Mundas budidaya beras dari Asia Tenggara ke baskom Gangga, dari mana ia mencapai Lembah Indus menjelang akhir usia Harappan (ca. 2300 SM). Dalam hubungan ini, perlu dicatat bahwa Oppenheimer menegaskan bahwa "gandum budidaya dikembangkan di Lembah Indus" (p.19), barley menjadi tanaman favorit dari Arya Veda (yava). Berbeda dengan Mundas yang membawa budidaya padi dari timur India dan akhirnya dari Asia Tenggara ke India barat laut, dan tidak seperti Indo-Eropa Kurgan orang-orang yang invasi ke Eropa dapat diikuti dengan cara sisa-sisa tanaman mereka diimpor (esp. millet),yang Arya Veda hanya menggunakan produk asli. Ini tidak membuktikan tapi jelas mendukung kecurigaan bahwa bangsa Arya yang asli Lembah Indus adalah berasal dari Indonesia ( Aryan= Austronesian= Indonesia).

Desa Sindang Heboh Siluman Kera

Warga Desa Sindang Kecamatan Dukuhwaru digemparkan dengan munculnya hewan yang diduga siluman kera. Konon, siluman kera itu adalah seorang gadis cantik asal Kabupaten Brebes. Tapi, di sisi lain juga ada yang mengatakan, bahwa gadis cantik itu merupakan anak kesayangan dari seorang tokoh agama di Desa Blubuk, Kecamatan Dukuhwaru. Kabar simpang siur itu membuat warga semakin heboh. Sebab, gadis cantik yang diduga berubah wujud menjadi siluman kera itu, belakangan ini kerap muncul di lingkungan Desa Sindang. Meski tidak merusak tanaman dan tidak memakan hewan ternak, tapi hewan sejenis monyet itu membuat warga resah. “Tidak merusak, monyetnya justru baik,” kata Wasripah, 36, saat ditemui di Balai Desa Sindang, Jumat (26/12).

Desa Sindang Heboh Siluman Kera

Warga RT 02 RW 01 ini mengaku melihat siluman kera itu pada Kamis (25/12). Dia melihat dua kali. Yang pertama pada pukul 12.00 di belakang rumahnya. Kemudian yang kedua pukul 13.00 di sekitar sawah yang jaraknya tidak jauh dari rumahnya. Ketika pertama melihatnya, Wasripah sempat terkejut. Karena di siang hari bolong ada seekor monyet yang melintas di belakang rumahnya. “Pertama saya cuma bengong saja. Lalu monyetnya lari ke arah sawah,” kata ibu yang berkulit putih ini.

Ciri-ciri monyet yang diduga siluman kera itu, kata Wasripah, tidak menunjukkan keanehan apapun. Bentuknya seperti monyet pada umumnya. Hanya saja, postur tubuhnya lebih besar dibandingkan dengan monyet lainnya. Sedangkan warna bulunya, juga sama seperti monyet yang kerap digunakan untuk topeng monyet. “Ekornya juga ada, tinggi tubuhnya kira-kira satu meter,” jelasnya.

Kabarnya, apabila bisa menangkap siluman kera itu, akan mendapat hadiah sebuah sepeda motor roda dua. Hal itu seperti yang dituturkan Kasiwan, 50, warga RT 02 RW 03 Desa Sindang. Pria yang berprofesi petani ini mengaku, sekitar dua hari yang lalu, pihaknya bertemu dengan dua orang yang tidak dikenal. Kala itu, kedua orang tersebut mengaku tengah mencari anak gadisnya yang hilang dan berubah menjadi seekor monyet.

Semula, lanjut Kasiwan, gadis cantik yang masih duduk dibangku SMP itu, baru pulang sekolah. Lalu, gadis yang belum diketahui identitasnya itu, menemukan cincin di dalam rumahnya. Tanpa pikir panjang, cincin itu kemudian dimasukkan ke jari manis tangannya. Dalam waktu bersamaan, tiba-tiba gadis itu berubah menjadi seekor monyet. Sedangkan orang tuanya yang melihat kejadian itu langsung histeris dan menangis sejadi-jadinya. “Saya dapat kabarnya seperti itu. Kemudian orangtuanya mencari ke desa (Sindang) ini. Sebab, orangtuanya dapat kabar kalau monyet itu sering menampakkan diri di sekitar desa ini,” kata dia mengisahkan.

Ketika bertemu dengan kedua orang tersebut, Kasiwan juga mendapat pesan. Kala itu, mereka berpesan jika melihat monyet itu, jangan dianiaya atau dilumpuhkan dengan tembakan. Lebih baik dipegang kemudian diambil cincinnya yang melekat di jari tangan kiri monyet itu. “Kalau berhasil, orang yang memegang akan mendapat hadiah sebuah sepeda motor baru,” ujarnya.

Namun, ketika kedua orang tersebut ditanya nama dan alamatnya, mereka tidak bisa menunjukkannya. Mereka hanya mengaku bernama H Ali dan rumahnya di Desa Blubuk. “Tapi, waktu saya mencari nama H Ali di Desa Blubuk, nama orang itu ga ada,” ucapnya.

Kepala Desa Sindang, Suyitno, saat dikonfirmasi ihwal siluman kera itu, pihaknya mengaku baru mengetahuinya. Dia tidak bisa membenarkan keberadaan siluman kera itu di desanya. Sebab, selain dia belum pernah melihat secara langsung, warga sekitar juga belum ada yang melaporkan kejadian mistis itu ke kantornya.

“Terlepas hal itu, saya tetap menghimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada. Kalau pun monyet itu memang ada, jangan dibesar-besarkan. Kasihan warga lainnya barangkali mereka resah,” ucapnya.

Sementara, untuk mengetahui kebenaran nama H Ali di Desa Blubuk itu, Suyitno kemudian menghubungi Kepala Desa Blubuk, Nuraeni melalui telephon genggamnya. Saat dihubungi, Nuraeni di ujung telephon mengaku memang ada warganya yang bernama H Ali. Namun, orang tersebut sudah meninggal dunia. “Orangnya sudah meninggal lama. Terkait siluman kera, saya tidak tahu,” kata Nuraeni melalui sambungan elektronik.