Kisah Unik Tentang Sendal Jepit

Terungkaplagi 19.3.13
Sandal jepit, menurut Wikipedia, diperkirakan dipakai pertama kali di zaman Mesir kuno pada tahun 4000 SM. Kemudian ditemukan pula pada masa Romawi dan Yunani kuno, juga di Jerusalem pada era Yesus/Isa Al Masih masih hidup.

Bahan sandal jepit pun dibuat dari berbagai rupa, di Mesir berbahan kulit serta daun papirus dan daun palma, di Jepang ada zori yang terbuat dari batang padi, di India berbahan kayu dan di Meksiko pakai serat yucca.

Di era modern dan industrialisasi, sandal jepit kebanyakan dibuat dari bahan sintetis seperti karet dan plastik.
Namun semakin ke sini, pemakaian sandal jepit ini dianggap sangat tak formal dan tak sopan bila digunakan di tempat-tempat formal, seperti kantor dan sekolah. Namun beberapa orang melawan arus kesepakatan umum itu dan malah menjadi perhatian.

Alat Demo
Kisah Unik Tentang Sendal Jepit

Sandal jepit juga digunakan sebagai alat demo Bupati nonaktif Subang-Jawa Barat Eep Hidayat. Eep saat itu beraksi secara teatrikal dengan menggigit sandal jepit di Mahkamah Agung (MA).

Aksi itu mengundang banyak tanya pun komentar mengenai ketidakpatutan mantan pemimpin daerah yang harusnya bisa dijadikan contoh. Apa alasan Eep menggigit sandal?
Saya ini seniman, juga senang menulis puisi juga.

Jadi aksi tersebut merupakan simbol bahwa ketika kita berbicara kebenaran maka kita layaknya anjing yang sedang menggigit kotoran.

Sandal jepit simbol alas yang digunakan untuk menginjak kotoran tersebut," kata Eep saat berbincang dengan

Dalam aksi Senin Eep mendesak bertemu ketua majelis hakim yang menghukumnya, Artidjo Alkotsar.

Karena tidak diperbolehkan oleh aparat maka dia menggelar aksi teatrikal dengan mengikatkan diri di pagar MA dan menggigit sandal jepit.

Aksi ini sebagai penolakan atas vonis MA yang menghukumnya 5 tahun penjara. Selain itu dia juga didenda Rp 200 juta serta subsider 3 bulan penjara dan wajib mengembalikan uang negara sebesar Rp 2,548 miliar.

Putusan ini dibuat oleh majelis kasasi yang terdiri dari Artidjo Alkostar sebagai ketua didampingi anggota Leo Hutagalung dan Syamsul Chaniago.

Sebelumnya Pengadilan Tipikor Bandung memvonis bebas atas perkara korupsi Biaya Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan (BP PBB) Pemerintah Kabupaten Subang tahun 2005-2008 senilai Rp 2,5 miliar.

Lambang Ketidakadilan
Kisah Unik Tentang Sendal Jepit

Pada awal Januari 2012 lalu, sandal jepit dari Indonesia mendunia. Hal ini karena sandal jepit dipakai sebagai lambang ketidakadilan.

Sandal jepit mendunia gara-gara kasus penganiyaan yang menimpa AAL, pelajar SMK berusia 15 tahun pada November 2010. Briptu Ahmad Rusdi yang indekos di Jl Zebra, Palu, geram karena sandalnya berulang kali hilang.

Saat "diinterogasi" pada Mei 2011,
AAL mengaku dia dan teman-temannya sebagai pencuri sandal-sandal itu.
Saat "interogasi", AAL mengaku terjadi pemukulan.

Orangtua AAL tidak terima sehingga melaporkan Briptu Ahmad Rusdi ke Propam Polda Sulteng. Kasus ini juga bergulir ke pengadilan.

Mabes Polri berdalih, orangtua AAL-lah yang justru ingin membawa kasus ini ke pengadilan sehingga mendudukkan AAL sebagai terdakwa.

Jaksa dalam dakwaannya menyatakan AAL melakukan tindak pidana sebagaimana pasal 362 KUHP tentang Pencurian dan diancam 5 tahun penjara.

Sementara itu, Polda Sulteng telah menghukum polisi penganiaya AAL.
Briptu Ahmad Rusdi dikenai sanksi tahanan 7 hari dan Briptu Simson J Sipayang dihukum 21 hari.

Pemberitaan media tentang kasus ini menarik perhatian Budhi Kurniawan untuk membuka posko "seribu sandal jepit" sebagai solidaritas ketidakadilan yang menimpa AAL.

Posko di Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, yang telah menerima 600 pasang sandal jepit aneka ukuran untuk diserahkan ke Mabes Polri sebagai tanda protes.

Aksi itu mencuri perhatian media massa Indonesia dan asing. Aneka judul menghiasi media massa asing, mulai media Singapura hingga AS. Ada yang memberi judul "Indonesians Protest With Flip-Flops", "Indonesians have new symbol for injustice:

sandals", "Indonesia's Flip-Flop Revolution", "Indonesians dump flip-flops at police station in symbol of frustration over uneven justice", maupun "Indonesians fight injustice with sandals". Demikian dikutip dari detikcom, 4 Januari 2012.

Alas untuk Lari Maraton
Kisah Unik Tentang Sendal Jepit

Untuk berlari, mayoritas orang memakai sepatu. Namun yang dilakukan Keith Levasseur ini tampak antimainstream.

Levasseur berlari maraton dengan sandal jepit pada acara Saturday's Baltimore Marathon dengan wakti 2 jam 46 menit 58 detik pada Oktober 2012 lalu.

Dia finish pada urutan ke -29.
Demikian dilansir dari Runners World, 18 Oktober 2012.
Levasseur yang memakai alas kaki yang tak biasa saat berlari maraton ini mengundang komentar rekan-rekan sesama pelari dan penonton.

Menurut mantan anggota Marinir AS ini, rekan-rekannya berkomentar "Kamu gila ya", sebelum mengucapkan "Semoga sukses".

"Saya mendengar beberapa penonton juga berbisik "Hei, itu pria sandal jepit" saat saya lewat," tutur Levasseur.

Bukan tak ada risiko berlari maraton dengan sandal jepit, karena Levasseur mengakui bahwa kakinya cukup sakit sehari setelah berlalri, utamanya pergelangan kaki dan paha depan.

Levasseur pun berambisi memecahkan rekor dalam Guinnes Book of World Record dengan bermaraton menggunakan sandal jepit.

Setelah itu, dia akan pensiun.
"Beberapa teman bertanya apakah saya akan melakukannya lagi, dan jawaban saya adalah 'tidak'. Kalau seseorang akan memecahkan rekor, saya dengan sederhana akan mengucapkan selamat pada mereka," kata Levasseur.

Obama Jadi Presiden AS 'Sandal Jepit' Pertama
Kisah Unik Tentang Sendal Jepit

Pada awal Januari 2011 lalu, saat Presiden Obama berlibur ke Hawaii bersama keluarganya, Obama tertangkap kamera memakai baju santai yakni:

topi, kacamata, celana pendek yang semua warnanya hitam serta polo shirt berwarna putih.
Yang tak biasa, Obama memakai sandal jepit hitam!

Perlengkapan kasual sandal jepit hitam itu tidak biasa untuk kelas Presiden AS.
Bahkan ada media AS yang mempertanyakan penampilan Obama itu, 'Pantaskah?'.

Para sejarawan setuju bahwa itu adalah pertama kalinya Presiden AS terlihat mengenakan sandal jepit, demikian dilansir dari New York Post, 5 Januari 2011.

Ini adalah hal yang sangat tak umum.
Tapi saya tidak berpikir ini masalah bukan besar.
Alas kaki itu tergantung suasananya.

Kalau Anda di pantai membelikan anak perempuanmu es, saya tidak berpikir Anda bisa mengalahkannya dalam hal ini.

Kalau dia memakai sandal jepit ke acara kenegaraan AS, itu baru berbeda," kata sejarawan yang meneliti presiden AS, penulis buku anak 'What Does the President Look Like?', Jena Hampton Cook.

Pengamat Kebijakan Publik dari Pusat Kebijakan Publik Annenberg Universitas Pennsylvania, Kathleen Hall Jamieson mengatakan sandal jepit yang dipakai Obama itu hal biasa.

"Kalau Anda lahir di Hawaii, tumbuh besar di Hawaii dan berlibur ke Hawaii, dan Anda tidak memakai sandal jepit, ada yang salah serius dengan Anda," kata Jamieson.

Dalai Lama & Sandal Jepit di Gedung Putih
Kisah Unik Tentang Sendal Jepit

Biasanya ke istana atau tempat kepresidenan, sandal jepit adalah larangan. Namun hal ini pengecualian bagi tokoh spiritual Tibet, Dalai Lama.

Dalai Lama mengunjungi Gedung Putih di Washington DC dengan mengenakan sandal jepit seperti dilansir BBC, 19 Februari 2010 lalu.

Tak biasa memang, apalagi pada Februari ketika di Washington DC ini masih musim dingin.
Namun Gedung Putih menghormati gaya pakaian Dalai Lama ini sehingga tak melarangnya.

Dalai Lama kemudian diterima Presiden AS Barack Obama di Map Room daripada di Oval Office. Hal ini untuk menghindari simbol-simbol kenegaraan untuk menjaga hubungan dengan China yang ditentang Dalai Lama karena mencaplok Tibet.

Ada satu foto dari Gedung Putih yang dirilis namun tak ada kamera TV yang menyorotnya karena dilarang Gedung Putih.

Sebelumnya, Dalai Lama juga bertemu dengan 2 Presiden AS, yakni Bill Clinton dan George W Bush. Gaya pakaian Dalai Lama tak berubah plus alas kakinya: sandal jepit.

Dosen Fakultas Hukum UGM Bersandal Jepit Diusir Imigrasi
Kisah Unik Tentang Sendal Jepit

Dosen Hukum Administrasi Negara Fakultas Hukum UGM Oce Madril ditolak untuk wawancara paspor di Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta karena memakai sandal jepit.

Akademisi berusia 29 tahun tersebut pagi ini sejatinya melakukan wawancara dengan pihak Imigrasi. Dia hendak mengurus paspor karena ada rencana bepergian ke Jepang Maret nanti.

Oce akan mengurus kerjasama Fakultas Hukum UGM dan Universitas Nagoya.
Dia pun mengadu ke Ombudsman Yogyakarta atas perlakuan yang diterimanya ini.

Jangan sampai hak saya hilang dalam pelayanan publik hanya karena urusan sandal jepit.
Ini namanya maladministrasi, dan sandal jepit tidak urgent," tutur aktivis Pusat Kajian Anti Korupsi (PuKAT) UGM ini.

Oce akhirnya memilih memakai sepatu untuk menyelesaikannya.
Oce kemudian menuju Pukat FH UGM di kompleks Bulaksumur, Yogyakarta untuk mengambil sepatu.

Sebab setiap hari dari rumah hanya mengenakan sandal jepit saja. Sedangkan sepatunya ditaruh di kantor Pukat UGM.

Pihak Imigrasi Yogyakarta juga mengklarifikasi dengan menjelaskan bahwa larangan memakai sandal jepit sudah tertera pada papan pengumuman dengan alasan tata tertib dan kesopanan memasuki kantor di bawah Imigrasi.

Artikel Terkait Aneh ,Fakta ,Unik

Blogger Template by BlogTusts Sticky Widget by Kang Is Published by GBT.

No comments:

Post a Comment

 
- See more at: http://langkah2membuatblog.blogspot.co.id/2012/12/cara-membuat-link-otomatis-di-blogger.html#sthash.WmsNvezS.dpuf