Tahu Pelukis "Keluarga Khong Ghuan", Ini Dia Ceritanya

Terungkaplagi 14.11.13
Lukisan di kaleng biskuit Khong Ghuan itu sangat populer. Nyaris semua penggemar biskuit khas itu hafal dengan gambar seorang ibu dan dua anak yang tengah menikmati sajian biskuit di meja makan. Sapuan dan goresan lukisan itu sekilas bergaya barat, tapi ternyata ia produk lokal. Itulah karya Bernardus Prasojo.

Akhir pekan lalu, VIVAnews berkesempatan mewawancarai sang pelukis itu. Bernard--panggilan akrab Bernardus--adalah seorang pria kelahiran Solo, 25 Januari 1948. Pria ini mengaku bahwa dalam dirinya mengalir darah seni turunan ayahnya.

"Ayah saya seorang pelukis, mertua saya juga. Tetapi, entah kenapa anak-anak saya tidak berminat menjadi seorang pelukis," kata Bernard ketika ditemui di RS Mitra Keluarga Kemayoran, Jakarta.

Melukis kaleng biskuit
Dia menuturkan bahwa pertama menerima pesanan pembuatan gambar merek penganan itu ketika ia masih bekerja di suatu perusahaan percetakan, Forinco.

"Saya mendapat order dari perusahaan separasi film. Salah satunya, mendapat dari Khong Ghuan. Itu dulu ketika saya masih bekerja di Forinco," kata Bernard.

Sayangnya, dia tidak bisa mengingat tanggal pasti saat mendapat permintaan untuk menggambar ilustasi salah satu produk biskuit itu. Bernard hanya bisa menyebutkan nama orang yang memberikannya.

"Itu sudah lama sekali, sekitar 40 tahun lalu. Tetapi, saya masih ingat siapa orangnya. Namanya Pak Bambang. Kalau beliau masih hidup, mungkin usianya sudah 80 tahun," kata pria yang hobi melukis sejak kecil ini.

Dia menambahkan, setelah itu ia juga menerima pesanan ilustrasi untuk produk makanan wafer dengan merk Nissin. Namun, semua gambar itu bukanlah murni dari idenya. Ada pihak yang mengarahkannya. Jadi, dia menggambar berdasarkan konsep si pemesan. "Saya hanya mengubah sedikit. Misalnya, ini lebih terang dan yang ini kurang," kata Bernard yang kini tinggal di daerah Kalipasir, Cikini.

Ketika menggambar ilustrasi tersebut, Bernard mengatakan ia tidak mengeluarkan modal. Ia hanya menggunakan kuas, kertas, dan cat air miliknya. Proses pembuatannya pun tidak begitu lama, hanya makan waktu 3-4 hari. Pertama, dia membuat sketsa lukisan. Langkah selanjutnya adalah melukisnya dengan cat air.

"Waktu menggambar, kertasnya dibasahi air supaya tidak mengerut. Kalau tidak dibasahi air, bagian kertas yang tidak diwarnai biasanya akan mengerut," kata dia.

Namun sayangnya, dia tidak memberi tahu berapa harga lukisan tersebut. "Saya lupa. Yang penting, dari perusahaan itu saya bisa membesarkan tiga orang anak," kata pria beranak tiga.

Tidak hanya ilustrasi kedua produk penganan itu yang dibuatnya, produk-produk lainnya seperti minuman dan sikat gigi juga adalah hasil karyanya. "Misalnya, Monde, dan produk-produk Hero (Hero Supermarket). Dulu seperti minuman kerasnya, pabrik kaos, dan sikat gigi," ujarnya.

Lambang perusahaan pun tidak luput dari goresan tangannya.

"Dulu saya buat logo Hero, Danamon (PT Bank Danamon Tbk), dan hotel di Jakarta. Saya lupa namanya. Logonya ada gambar robot, dan rumit hingga makan waktu sebulan penggambaran. Saya kira, hotel itu sudah tidak ada lagi. Kalau yang Danamon, tulisan Danamon-nya masih dipakai," kata dia.

Rupanya, bukan hanya orang Indonesia yang menyukai hasil karya Bernard, melainkan juga orang asing. Dia mengatakan sekitar tahun 1970-1980, pernah ada pesanan ilustrasi gambar untuk buku dari Filipina. Waktu itu, dia diminta menggambarkan malaikat berdasarkan permintaan.

Dia hanya diberikan konsep malaikat yang diinginkan pemesan. Tangannya pun menggambarkan malaikat sesuai pesanan. Awalnya, dia membuatkan sketsa, lalu menunjukkan kepada pemesan. Apabila ada yang kurang sreg dengan keinginan pemesan, Bernard segera memperbaiki sketsanya. Baru setelah itu, dia melukis dengan cat air.

"Saya juga diminta menggambar dari Italia. Waktu itu, hanya melukis wajah orang untuk buku," kata Bernard yang hanya lulusan SMA.

Tidak tamat kuliah

Ia sempat mengenyam pendidikan tinggi jurusan seni rupa di sebuah instansi pendidikan di Bandung. Namun sayangnya, pria bercucu tujuh ini tidak menamatkan pendidikannya.

Seperti diketahui, sekitar tahun 1970-1980, komik menjadi sesuatu yang "wah" dan populer. Alhasil, banyak komik bertebaran di pasar buku. Bernard pun tidak bisa melepaskan momen tersebut. Dia pun turut membuat ilustrasi dan komik. Saat itu, dia menjadi seorang freelance. Saking asyiknya menggambar, Bernard pun terpaksa keluar dari kampusnya di Bandung.

"Karena sudah kenal uang, saya jadi keasyikan menggambar. Saya banyak meninggalkan kelas," kata pria yang tidak tamat kuliah jurusan seni rupa ini.

Bernard mengatakan bahwa dirinya telah membuat 5-6 judul komik. Dua di antaranya adalah komik berjudul "Kasih Ibu" dan satu lagi komik yang bercerita tentang kisah seseorang dari Rusia. Sayangnya, dia lupa judul komik yang kedua.

VIVAnews sempat melihat komiknya yang sengaja dibawa untuk wawancara hari itu. Komik tersebut digoreskan dengan pena berwarna hitam. Setiap lembar halamannya terdiri dari tiga-empat kolom. Masing-masing kotak berisi gambar dan balon kata. Ada beberapa halaman komik tersebut yang sudut atasnya robek. "Dimakan tikus," kata dia sambil tertawa.

Bernard mengatakan bahwa komik "Kasih Ibu" dimuat di sebuah majalah terkenal pada tahun 1970-an, yaitu Aktuil. Majalah ini adalah majalah musik yang terbit perdana pada 8 Juni 1967. Pada 1970-1975, majalah ini menjadi "bacaan wajib" bagi anak muda di Indonesia.

Dalam majalah itu, selalu ada dua lembar cerita berjudul "Kasih Ibu". Komik yang total halaman sebanyak 100 halaman ini bercerita tentang seorang anak yang menyayangi ibunya. Ide ceritanya berasal dari pemikirannya sendiri. Bernard sempat kewalahan menghadapi deadline majalah yang terbit mingguan itu.

"Mereka itu percaya kepada saya. Saking percayanya, komik belum jadi, mereka langsung beli. Saya juga kewalahan waktu komik belum jadi, padahal majalah hendak terbit," kenang Bernard.

Lalu, bagaimana dengan komik yang lainnya? Bernard mengatakan bahwa dirinya menerbitkan komiknya itu. "Saya membuat komik lainnya dan sudah jadi buku," kata dia.

Bernard mengatakan bahwa dulu melukis adalah pekerjaan utamanya, tetapi sekarang tidak. Kini, dirinya aktif sebagai pekerja di Yayasan Prana Indonesia, yaitu tempat pusat pelatihan, penyembuhan, dan meditasi.

Di kantor yang berpusat di Jalan Kalipasir, Pengarengan No. 7, Kebon Sirih, Cikini, Jakarta, dia bekerja sebagai koordinator penyebaran prana metoda Grandmaster Choa Kok Sui di seluruh Indonesia. "Kini, saya bekerja di Yayasan Prana Indonesia," tuturnya.


BERNARDUS PRASOJO, SI PELUKIS

Artikel Terkait Kreatif ,Tokoh

Blogger Template by BlogTusts Sticky Widget by Kang Is Published by GBT.

No comments:

Post a Comment

 
- See more at: http://langkah2membuatblog.blogspot.co.id/2012/12/cara-membuat-link-otomatis-di-blogger.html#sthash.WmsNvezS.dpuf