Ki Ageng Giring, Mataram Islam Berawal dari Gunungkidul

Terungkaplagi 22.4.14
Berbicara soal Gunungkidul tak bisa lepas dari satu tokoh ini. Ki Ageng Giring. Bahkan sebenarnya dalam skala yang lebih luas, Ki Ageng Giring memiliki peran besar dalam berdirinya Kerajaan Mataram Islam. Siapa Beliau ?


Ki Ageng Giring (mengacu pada Ki Ageng Giring III) adalah salah seorang keturunan Prabu Brawijaya IV dari Retna Mundri, yang hidup dan menetap pada abad XVI di Desa Sodo Giring, Kecamatan Paliyan. Desa Sodo terletak sekitar 6 km arah barat daya kota Wonosari. Beliau adalah sesepuh Trah Mataram yang sangat dihormati.

Perlu diketahui, gelar ki ageng adalah gelar seseorang tokoh pada waktu sudah purna tugas kenegaraan, atau setelah lengser dari jabatannya.
Pada masa aktif menjabat biasanya disebut ki gede. Lalu setelah sepuh, jabatan dialihterimakan kepada keturuannya dan sebagai sesepuh tokoh tersebut disebut ki ageng. Demikian pula asal nama Ki Ageng Giring (mengacu kepada Ki Ageng Giring I, II, III dan IV).

Makam Ki Ageng Giring III dikelola oleh Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat karena merupakan pepunden Trah Mataram sebagai penerima wahyu kraton.

Ayahanda Ki Ageng Giring I adalah Prabu Brawijaya IV raja Majapahit, sedangkan ibunya bernama Retno Mundri.

Ia bertemu dengan seorang wali besar yang bernama Sunan Kalijaga. Ia seperguruan dengan Ki Ageng Pemanahan. Keduanya adalah para tokoh politik yang mengembara dari istana untuk mengembangkan kekuatan spiritual dan mengajarkan Islam kepada penduduk sekitar. Perlu diketahui, bahwa setelah hancurnya kerajaan Majapahit, putra-putri Prabu Brawijaya menyebar ke berbagai wilayah di tanah Jawa, bahkan sampai Bali dan Lombok.

Di tempatnya masing-masing, mereka berikhtiar lahir batin untuk mendapatkan kembali tahta ayahanda beliau yang telah hilang. Keyakinan bahwa wahyu kraton akan turun kepada putra yang memiliki kecakapan lahir batin ini sangat kuat menancap ke dalam relung jiwa para trah darah biru ini, di antaranya adalah Ki Ageng Giring (I).

Ki Ageng Giring (I) berjalan jauh memasuki rerimbunan pohon, hutan dan semak belukar. Sungai, gunung dan gua ditempuhnya tak kenal lelah. Hingga pilihannya jatuh pada daerah yang datar dengan pemandangan perbukitan dan sungai-sungainya yang jernih. Di dekat sebuah mata air ia mendirikan gubug peristirahatannya. Setiap hari berdoa bermunajat kepada Tuhan Yang Maha Esa agar mendapatkan ketentraman lahir batin dengan seluruh anak cucu keturunan beserta para pengikutnya. Meskipun hanya sebesar lidi, atau Sodo, ia tetap memiliki pengharapan agar mendapat anugerah yang agung dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ia mengajarkan pertanian, menanam pohon kelapa dan menderesnya, membuat minuman legen dan merajut kain. Ia juga mengajari penduduk mengalirkan air sungai untuk mengaliri persawahan dari sungai yang airnya jernih. Ki Ageng Giring juga mengajarkan untuk menanam banyak pohon kelapa yang sangat besar manfaatnya untuk kehidupan penduduk waktu itu. Kehidupan berlangsung damai hingga Ki Ageng Giring I wafat namun sampai sekarang Makam/Cugku/Petilasan beliau masing simpang siur keberadaannya.


Cungkup makam Ki Ageng Giring (I)

Bukit Girilangan Gumelem Wetan Kecamatan Susukan Kab. Banjarnegara
Tak Heran masyarakat Banjarnegara ahli dalam pembuatan nira/aren kelapa



Di puncak bukit Girilangan terdapat peninggalan kuno dan mempunyai nilai sejarah tinggi yang di bangun sekitar abad XVI yaitu sebuah bangunan kuno yang terbuat dari kayu yang berbentuk cungkub serta tumpukan bata merah yang tertata rapi guna melindungui sebuah makam dari seorang yang Kharismatik di masa kejayaan Kerajaan Mataram , yaitu Ki Ageng Giring. Ki Ageng Giring yang juga bergelar Ki Ageng Pendersan, bukanlah penduduk asli Desa Gumelem dia adalah seorang pembesar yang datang dari keluarga Kerajaan Mataram.

Perjalanan Ki Ageng Giring hingga sampai di Gumelem ternyata banyak mengalami kendala dan halangan serta ujian dari yang kuasa namun dengan bekal keimanan yang kuat atau di milikinya wilayah demi wilayah di laluinya di setiap atau di mana Ki Ageng Giring tinggal pastilah Ki Ageng Giring meninggalkan jejak atau petilasan yang hingga saat ini dapat terlihat di Dukuh Bogem Desa Salamerta yang merupakan makam anaknya yang bernama Nawangsasi, di Dukuh Kramat Desa Dermasari terdapat petilasan yang di gunakan untuk menenangkan diri guna memohon petunjuk kepada yang kuasa.

Berbeda dengan dukuh,dusun,dan desa desa lain yang di lalui Ki Ageng Giring dalam usahanya mensyiarkan ajaran Islam , Desa Gumelem Wetan nampaknya wilayah yang paling berarti bagi Ki Ageng Giring. Ketika itu ki ageng giring beserta pengikut pengikutnya akan menempuh perjalanan dari kramat dermasari ke dukuh giring gunung kidul namun di dukuh karang Karang Lewas ki ageng giring wafat karena usianya yang sudah sepuh.

Dengan rasa hormat yang setinggi –tingginya ,para pengikut pengikutnya memandikan jenazah Ki Ageng Giring di sumur Wringin Mbeji Desa Gumelem Kulon serta membuat keranda untuk membawa jenazah meneruskan perjalanan ke Dukuh Giring di wilayah Kabupaten Gunung kidul.

Dalam perjalanan menuju ke sebuah tempat yang telah di tentukan para pengikut Ki Ageng Giring juga di hadapkan oleh beberapa peristiwa yang mengejutkan hal ini memang Ki Ageng Giring memiliki daya linuwih dalam masa hidupnya.

Pengikut atau santri Ki Ageng Giring adalah manusia biasa yang punya kemampuan sangat terbatas sehingga di suatu tempat di kaki Gunung Wuluh karena kelelahan , keranda yang di gunakan untuk membawa jenazah Ki Ageng Giring pun diletakan di atas tanah karena makin lama makin berat, tidak selang berapa lama juga Tanah yang menjadi tempat landasan Keranda juga lama kelamaan menurun ( ambles ) atau Mendek.

Di bukalah keranda jenazah ki ageng giring. Seluruh pengikut pengikutnya yang setia bersama Ki Ageng Giring menjadi kaget dan bingung karena jenazah Ki Ageng Giring ternyat tidak ada lagi di dalam keranda atau hilang. Dalam kebingungan yang amat sangat seluruh pengikut Ki Ageng Giring memohon petunjuk kepada yang maha kuasa sehingga seluruh pengikut pengikutnya dan santrinya sepakat untuk memakamkan keranda Ki Ageng Giring di sebuah bukit.



Untuk menandai keranda jenazah Ki Ageng Giring di makamkan ,masyarakat Desa Gumelem dan sekitarnya menamakan Bukit Girilangan, dengan arti kata Ki Ageng Giring hilang.

Dan lokasi tanah yang mendek hingga saat ini dikenal oleh masyarakat adalah Blok Lemah Mendek. Bukit Girilangan kian menjadi indah .

Makam Ki Ageng Giring pun makin banyak yang mengunjungi atau berziarah , ini dapat menjadi bukti bahwa Ki Ageng Giring adalah seorang yang di masa hidupnya mempunyai karisma dan kawibawaan yang tinggi. Hingga pada jamanya juga ,Raja Mataram R.Sutawijaya yang bergelar di Panembahan Senopati Ing Alogo Panotogomo juga mengutus saudaranya yang bernama Ki Udhakusuma untuk merawat Makam Ki Ageng Giring di Bukit Girilangan.

Sebagai utusan seorang raja yang akhirnya juga menjadi Demang Pertama di Gumelem dalam dalam usahanya merawat Makam Ki Ageng Giring di Girilangan adalah dengan membangun sebuah cungkub di sekitar tahun 1816 m di lanjurtkan dengan membuat sebuah pagar keliling dari tumpukan bata merah dan sebuah Gapura di depan cungkub.

Rasa hormat, bhekti terhadap kebesaran jiwa Ki Ageng Giring ternyata masih sangat kental dan melekat di masyarakat Gumelem dan sekitarnya bahkan banyak sekali orang yang datang dari wilayah Kabupaten lain yang berziarah ke makam Ki Ageng Giring di Bukit Girilangan.

Mataram Islam Jogjakarta berawal dari KI AGENG GIRING III

Setelah meninggalnya Ki Ageng Giring I dan digantikan kedudukannya oleh putranya, Ki Ageng Giring II dan Ki Ageng Giring II pun wafat digantikan oleh putranya yang kita kisahkan di sini yakni Ki Ageng Giring III. Pada masa Ki Ageng Giring III inilah Paliyan menjadi kisah menarik karena berbagai hal baik natural maupun supranatural.


Ki Ageng Giring III menikah dengan Nyi Talang Warih melahirkan dari pernikahan tersebut dua orang anak, yaitu Rara Lembayung dan Ki Ageng Wonokusumo yang nantinya menjadi Ki Ageng Giring IV.

Isyarat akan turunnya wahyu Kraton Mataram di perbukitan kidul itu atas petunjuk Sunan Kalijaga, seorang tokoh spiritual yang mampu melihat dengan pandangan lahir batin atas suatu persoalan masyarakat.

Oleh Sunan Kalijaga, Ki Ageng Giring III dan Ki Ageng Pemanahan dianggap sebagai santri yang mampu menjalankan tirakat dengan kuat untuk menyangga negeri. Untuk mengupas keterkaitan kisah ini, tidak bisa lepas dari perjalanan Ki Ageng Pemanahan mengawal Sultan Hadiwijaya di Kraton Pajang.

Pada saat itu, Ki Ageng Pemanahan masih lingkungan di Kraton Pajang di bawah kekuasaan Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir. Alkisah, setelah kemenangan Ki Ageng Pemanahan menaklukkan Aryo Penangsang di Jipang Panolan, belum mendapatkan hadiah dari sultan sebagaimana dijanjikan dalam sayembara, bahwa barang siapa yang bisa mengalahkan Aryo Penangsang akan mendapat hadiah tanah perdikan yang luas.Ki Penjawi sudah diberi hadiah tanah Pati (Jawa Tengah), sementara Ki Ageng Pemanahan yang sebenarnya paling berhak malah belum mendapatkan haknya.

Karena kecewa hatinya, Ki Ageng Pemanahan lantas pergi dari istana. Ia menuju ke rumah sahabatnya, Ki Ageng Giring III, di daerah Gunungkidul. Ki Ageng Giring terkenal sebagai seorang petani pertapa sekaligus penyadab nira kelapa.

Bersamaan dengan itu, Sunan Kalijaga dawuh bahwa kelak wahyu Gagak Emprit akan turun di tengah pegunungan selatan dalam sebuah air degan. Namun kapan wahyu itu akan turun, Kanjeng Sunan tidak pernah menjelaskan dan pantang bagi murid untuk bertanya kepada Guru.

Oleh Sang Guru, Ki Ageng Pemanahan kemudian disuruh melakukan tirakat di daerah yang terdapat pohon mati yang berbunga. Pohon mati yang berbunga itu ditemukan oleh Ki Pemanahan yang sekarang disebut Kembang Lampir, di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul.



Adapun Ki Ageng Giring (III) yang tinggal di daerah Paliyan Gunungkidul disuruh menanam sepet atau sabut kelapa kering, yang kemudian tumbuh menjadi pohon kelapa yang menghasilkan degan atau buah kelapa muda. Sabut kelapa kering yang secara nalar tidak mungkin tumbuh, namun atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, tumbuh menjadi sebatang pohon kelapa.

Selama bertahun-tahun pohon kelapa itu dirawat dan dijaga Ki Ageng Giring di pekarangan rumahnya, hingga menjadi tinggi dan besar. Namun Ki Ageng merasa heran pohon kelapa itu tidak juga berbuah, sebagaimana yang pernah diisyaratkan oleh gurunya, Sunan Kalijaga. Namun Ki Ageng tidak pernah ragu sedikit pun, kesabaran dan ketekunannya dalam ibadah diperkuat dan terus menjalankan laku prihatin sebagaimana tuntutan ajaran Islam, hingga suatu ketika pohon kelapa itu muncul degan satu biji saja dan beliau mendapatkan mimpi yang aneh.

Menurut mimpi itu, Ki Ageng harus segera memetik satu-satunya buah kelapa yang masih muda itu dan meminum airnya saendegan atau sekali teguk agar kelak dapat menurunkan raja dengan kepribadian yang utuh.

Dikisahkan sebagai berikut :
Untuk mensikapi wisik atau wangsit mimpi tersebut, Ki Ageng Giring (III) berjalan-jalan ke ladang terlebih dulu agar cukup haus sehingga dengan demikian ia bisa menghabiskan air degan tersebut dengan sekali minum.

Namun sayang, ketika Ki Ageng Giring sedang di ladang, sahabatnya Ki Ageng Pemanahan datang dari Kembang Lampir dengan maksud untuk silaturahmi. Tuan rumah baik Ki Ageng maupun Nyai Ageng Giring rupanya tidak ada di rumah.

Dalam keadaan capek dan haus Ki Ageng Pemanahan melihat buah degan di dapur. Tanpa pikir panjang Ki Ageng Pemanahan memaras degan itu dan meminum air kelapa muda itu sampai habis dengan sekali teguk. Ia merasa tidak perlu meminta izin karena ia yakin kedekatan persaudaraan dengan sahabatnya itu.

Tak begitu lama kemudian datanglah Ki Ageng Giring dari ladang. Ia langsung menuju dapur bermaksud meminum degannya. Ternyata didapati degan sudah dibelah dan isinya sudah habis. 

Ia mendapati sang sahabat, Ki Ageng Pemanahan sedang bersantai di depan rumah.

“Lo Adi Pemanahan? Kapan tiba di gubugku ini, Di?” tanyanya sambil merangkul melepas rindu kepada sahabatnya.

“Baru saja Kakang, sudah lama aku tidak berkunjung ke sini, bagaimana kabar Kakang Giring?” kata Ki Ageng Pemanahan. “Kakang, karena kehausan dari perjalanan jauh, eh sampeyan dan mbakyu tidak ada. Aku langsung njujug pawon dan meminum degan yang ada di babragan milik Kakang, aku mohon maaf sebelumnya Kakang”, lanjut Pemanahan.

Ki Ageng Giring tertunduk lemas. Semestinya Ki Ageng Giring berhak marah, namun seorang yang memiliki kualitas ruhani dan kepasrahan jiwa tidaklah perlu marah. Beliau sudah lama olah jiwa dengan meper hawa nepsu. Betapapun dia menginginkan wahyu itu jatuh kepada dirinya, namun Tuhan bisa berkata lain. Ini bagian takdir yang harus dilakoninya.

Ia ingat betapa Ki Ageng Selo di Purwodadi dulu sangat ingin mendapatkan wahyu kraton hingga berpuasa dan menjalankan laku batin dengan sangat keras selama puluhan tahun. Namun tiba-tiba seorang pemuda yang baru saja mengabdi padanya sebagai seorang murid, yang tidak pernah meminta dan ingin menjadi seorang raja, justru mendapatkan karunia dari Tuhan sebuah mimpi yang menunjukkan dirinya akan menjadi sesembahan orang setanah Jawa. Pemuda itu bernama Joko Tingkir. Ki Ageng Selo hendak marah, hingga ia berpikir untuk membunuh saja anak kemarin sore itu. Namun, Ki Ageng cepat menahan diri melawan takdir. Akhirnya Ki Ageng Selo pasrah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan ridha dengan Joko Tingkir. (Inilah sanepan Ki ageng Selo Menangkap petir = melawan Nafsu amarahnya Sendiri)

“Ada apa Kakang kok tampak tidak berkenan. Maafkan atas kelancanganku”. Kata Pemanahan terbata-bata.

“Ketiwasan Adi!”, sergah Ki Ageng Giring dengan nada lemas dan kecewa berat. “Sebenarnya Adi, degan tersebut merupakan wahyu yang telah aku upadi dengan tapa brata yang sulit untuk mendapatkan kemuliaan bagi anak cucuku kelak di kemudian hari”,

ia menegaskan. Ia kemudian menceritakan mengenai ‘wahyu gagak emprit’ yang diperolehnya berwujud degan tersebut. Dengan besar hati akhirnya ia berkata, “Adi, barangkali ini semua memang sudah menjadi titah Gusti, sehingga aku harus rela anak cucumulah kelak yang akan menjadi penguasa tanah Jawa ini.

Namun Adi, apabila engkau tidak berkeberatan izinkan juga anak cucuku setelah keturunan ke tujuh darimu juga ikut nunut mukti.”

Ki Ageng Pemanahan kemudian menjawab, “Aduh Kakang Giring aku minta maaf, karena ketidaktahuanku aku menjadi penghalang kemuliaan anak cucumu. Akan tetapi barangkali ini memang sudah garising pepesthen. Namun demikian, aku rela dengan permintaan Kakang agar setelah keturunanku yang ketujuh nanti anak cucu Kakang ikut mukti wibawa.

Dan untuk itu Kakang, apabila kita kelak mempunyai anak kuusulkan agar kita berbesanan sebagai jalan tengah”. Akhirnya kedua sahabat tersebut bersepakat.

Ki Ageng Giring (III) pasrah dan memupus takdir, bahwa Ki Pemanahan rupanya lebih unggul dalam kualitas ruhani sehingga dipilih Tuhan Yang Menguasai Alam Semesta untuk menjadi bapak bagi raja-raja Jawa.

Meski Ki Ageng Giring telah menanam pohon kelapa yang konon menjadi syarat memperoleh wahyu kedaton, tetapi air kelapa justru diminum Ki Ageng Pemanahan. Selanjutnya, putra Ki Ageng Pemanahan, yaitu Panembahan Senopati, menjadi raja pertama Mataram Islam.

Namun demikian, Ki Ageng mencoba menyampaikan maksud hatinya kepada Ki Ageng Pemanahan agar salah seorang anak turunnya kelak bisa turut menjadi raja di Mataram. Ki Ageng Pemanahan yang maqam jiwanya sudah ngerti sadurunge winarah pun juga nglenggana, memiliki keikhlasan yang tinggi. Dari musyawarah diperoleh kesepakatan bahwa keturunan Ki Ageng Giring akan diberi kesempatan menjadi raja tanah Jawa pada keturunan yang ketujuh.

Bagi Ki Ageng Giring (III), kesempatan menjadi raja Mataram pupus sudah, tinggal harapan panjang yang barangkali bisa dinikmati pada generasi ketujuh. Setelah perginya Ki Ageng Pemanahan dari rumahnya, Ki Ageng tidak bisa menyembunyikan penyesalan hatinya.



Ia banyak merenung mupus takdir di pinggir sungai, yang kini dikenal masyarakat dengan nama Kali Gowang. Nama Kali Gowang, karena hatinya lagi lagi terluka, gowang, kecewa, teriris-iris atas kegagalannya memperoleh wahyu Mataram. Setelah kegagalan itu, Ki Ageng Giring semakin banyak beribadah kepada Allah SWT dan tak lama kemudian kesehatannya mulai rapuh lalu dimakamkan di dekat rumah beliau.

Kali Gowang yang mengalir di desa Giring sampai saat ini menjadi tumpuan warga desa Giring, Mulusan, Karangasem dan desa Sodo. Terlebih pada setiap musim kemarau tiba. Sungai ini memiliki keterkaitan erat dengan perjuangan Ki Ageng Giring. Secara ekologis Ki Ageng Giring terbukti mengajarkan simbiosis mutualisme antara warga dengan lingkungan sekitarnya. Airnya sangat jernih dan tak pernah kering, mengalir sampai ke laut selatan.

Selain airnya yang tak pernah kering, panorama kawasan kali Gowang juga amat indah dan alami sehingga banyak orang yang merasa teduh dan nyaman berada di tempat ini. Karena keberadaan makam Ki Ageng Giring ini, Desa Sodo memperoleh predikat sebagai desa wisata religi. Setiap hari tertentu di tempat ini masyarakat sekitar sering melakukan berbagai macam ritual budaya yang turun-temurun dilakukan dari dahulu kala. Yaitu setiap hari Kamis Wage, dusun-dusun yang berada di wilayah Desa Giring, mengadakan malam tirakatan dan pada pagi harinya, Jum’at Kliwon, melakukan sedekah untuk warga miskin di balai desa tempat upacara.

Hal itu berarti setelah keturunan Ki Ageng Pemanahan yang ke-6, atau menginjak yang ke-7, ada kemungkinan bagi keturunan Ki Ageng Giring untuk menjadi raja. Apakah Pangeran Puger menjadi raja setelah 6 keturunan dari Pemanahan ? Kita lihat silsilah di bawah ini.


Pangeran Puger menjadi raja Mataram setelah mengalahkan Amangkurat III. Jika angka 6 dianggap perhitungan kurang wajar, yang wajar adalah 7, maka dapat dihitung Raden Mas Martapura yang bertahta sekejap sebelum tahtanya diserahkan ke Raden Mas Rangsang (Sultan Agung). Jadi pergantian keluarga berlangsung setelah 7 raja keturunan Ki Ageng Pemanahan.

Bukti bahwa Pangeran Puger memang keturunan Giring dapat dilihat dalam Babad Nitik Sultan Agung. Babad ini menceritakan bahwa pada suatu ketika parameswari Amangkurat I, Ratu Labuhan, melahirkan seorang bayi yang cacat. Bersamaan dengan itu isteri Pangeran Arya Wiramanggala, keturunan Kajoran, yang merupakan keturunan Giring, melahirkan seorang bayi yang sehat dan tampan. Amangkurat mengenal Panembahan Kajoran sebagai seorang pendeta yang sakti dan dapat menyembuhkan orang sakit. Oleh karena itu puteranya yang cacat dibawa ke Kajoran untuk dimintakan penyembuhannya. Kajoran merasa bahwa inilah kesempatan yang baik untuk merajakan keturunannya. Dengan cerdiknya bayi anak Wiramanggala-lah yang dikembalikan ke Amangkurat I (ditukar) dengan menyatakan bahwa upaya penyembuhannya berhasil.

Sudah ditakdirkan bahwa Amangkurat III, putera pengganti Amangkuat II berwatak dan bernasib jelek Terbukalah jalan bagi Pangran Puger untuk merebut tahta. Sumber lain menceritakan silsilah Puger sebagai berikut:


Dengan demikian, benarlah bahwa pada urutan keturunan yang ke-7 keturunan Ki Ageng Giring-lah yang menjadi raja, meskipun silsilah itu diambil dari garis perempuan. Namun ini cukup menjadi dalih bahwa Puger alias Paku Buwana I adalah raja yang berdarah Giring.




PINTU GERBANG:

Cungkup/Petilasan/MAKAM KI AGENG GIRING III



Inilah pintu gerbang kompleks makam Ki Ageng Giring III di Desa Sada, Paliyan, Gunung Kidul.

Makam ini selalu ramai dikunjungi peziarah pada malam Jumat, khususnya malam Jumat Kliwon.





PINTU MASUK KEDUA:
Setelah para peziarah memasuki pintu gerbang, mereka akan melewati makam para pengikut Ki Ageng Giring yang berada di luar tembok. Makam Ki Ageng Giring sendiri berada di dalam tembok yang dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwana IX. Para peziarah dilarang memakai alas kaki jika memasuki kompleks ini.


sejak zaman Ki Ageng Giring masih hidup. Ketika mendirikan padepokan untuk berguru para santri, dia membangun akses jalan dari Hutan Giring ke arah padepokan.


BATU NISAN Ki Ageng Giring III

Di sinilah Ki Ageng Giring III dimakamkan. Para peziarah dilarang mendekati batu nisan, mereka hanya diperbolehkan berdoa di luar ruangan cungkup. Pada umumnya para peziarah memohon agar diberi pangkat dan derajat.

Makam Kanjeng Ratu Giring III di samping cungkup Makam Ki Ageng Giring III

Foto: R Toto Sugiharto/Ensiklopedi Gunungkidul

Dalam kompleks makam Sunan Giring juga terdapat masjid, padepokan Ki Ageng Giring, Sendang, pohon yang berusia seusia makam. Setelah peziarah memasuki pintu gerbang mereka akan melewati makam para pengikut Ki Ageng Giring III kini juga menjadi pemakaman warga. Makam Ki Ageng Giring sendiri berada di dalam tembok yang dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX.


KOMPLEKS MAKAM KI AGENG SUKADANA:

Sekitar 2 kilometer arah tenggara Makam Ki Ageng Giring III , terdapat kompleks makam Ki Ageng Sukadana. Oleh sebagian penduduk, Ki Ageng Sukadana diyakini sebagai nama lain dari Ki Ageng Giring II atau ayah dari Ki Ageng Giring III.
Berbeda dengan makam Ki Ageng Giring III, makam ini terlihat tidak terawat.

Cungkup Ki Sukadana terletak paling ujung.

BATU NISAN KI SUKADANA:
Sama dengan Ki Ageng Giring III, makam ini selalu ramai dikunjungi para peziarah.

Di tempat ini peziarah diperbolehkan masuk cungkup dan berdoa di sisi batu nisan.

SENDANG PITUTUR:
Sendang ini terdapat di utara (sekitar 3 kilometer) dari makam Ki Ageng Sukadana.

Menurut legenda penduduk setempat, sendang ini sering dipakai mandi Ki Ageng Sukadana ketika ia masih hidup.

Artikel Terkait Legenda ,Sejarah

Blogger Template by BlogTusts Sticky Widget by Kang Is Published by GBT.

No comments:

Post a Comment

 
- See more at: http://langkah2membuatblog.blogspot.co.id/2012/12/cara-membuat-link-otomatis-di-blogger.html#sthash.WmsNvezS.dpuf