Inilah Giriloyo, Desanya Para Tabib Gurah

Terungkaplagi 18.6.14

Desa Giriloyo, sebuah desa yang penduduknya sebagian besar adalah orang-oranf yang ahli dalam pengobatan, khususnya untuk gurah. Pengobatan ini dipercaya sudah ada sejak jaman nabi, meski metode pengobatanya lain namun fungsi kegunaanya sama.

Selain di kenal sebagai salah satu tempat ziarah sekaligus pasarean ageng milik raja raja keturunan Mataram di Jawa atau yang lebih di kenal dengan nama Pajimatan Imogiri, desa Giri Loyo menjadi salah satu desa andalan sentra kerajinan batik tulis di Jogja. Selain itu Desa Giriloyo juga menjadi salah satu brand pengobatan alternatif ‘Gurah’.

Desa yang berjarak kurang lebih 25 km dari pusat kota keramaian jogja ini sejak dari jaman dulu di kenal sebagai desa gurah, di karenakan lebih dari separoh penduduk warga Giriloyo menjadi tabib ahli gurah.

Para tamu yang datang ke desa ini pada saat pertama kali memasuki gerbang desa akan di sambut dengan banyaknya pamflet serta selebaran selebaran pengobatan gurah yang terpampang di sepanjang jalan desa.

Ketatnya persaingan bisnis para tabib gurah di Giriloyo membuat mereka berlomba lomba menggaet para konsumen dengan berbagai cara, meski sebenarnya mereka juga telah memiliki banyak pelanggan. Namun demi kemajuan dan perkembangan pengobatan alternatifnya, para tabib di Giriloyo tak segan segan mengeluarkan uang banyak demi sebuah promo pengobatan milik mereka.

Salah satu ahli gurah di Giriloyo yang secara turun temurun berprofesi sebagai tabib gurah adalah Haji Mohammad Ikhawan. Saat di temui Tabloid Victory di rumahnya, bapak yang telah di karuniai dua orang putra ini menceritakan sejarah keberadaan gurah di Desa Giriloyo, selain itu tabib gurah yang juga pengusaha batik tulis ini secara detail mengisahkan tata cara dalam pengobatan gurah .

“Entah siapa yang mengawali adanya ilmu gurah di desa Giriloyo, namun yang pasti ilmu ini dahulu kala berasal dari dalam pesantren,” tegasnya

Tambah Ikhawan, ilmu gurah pada jaman dahulu pertama kali di kenal sekitar tahun 70-an, berasal dari seseorang kyai yang bernama kyai Marzuki. Ilmu gurah ini dikalangan pesantren di pergunakan sebagai salah satu cara agar para santri santri di pesantren kuat dalam pernafasan pada saat santri melafalkan ayat ayat suci serta mampu mengaji dengan suara yang sangat merdu untuk menjadi seorang Qori.

Pada waktu itu, gurah di pergunakan sebagai salah satu cara untuk pengobatan jasmani maupun rohani bagi santri. Pengobatan gurah di kenal sebagai salah satu cara efektif mengeluarkan segala kotoran dan racun dari dalam tenggorak maupun hidung yang berhubungan dengan fungsi fungsi pernafasan. Selain itu pengobatan gurah juga bisa di gunakan sebagai cara untuk mengobati penyakit asma, sesak nafas, batuk menahun dan sering pilek, terang H.M Ikhawan.

Dalam ilmu gurah tak hanya di kenal gurah pernafasan melalui hidung saja, namun ada juga gurah mata, yaitu pembersihan seluruh kotoran yang melekat di sekitar organ penglihatan mata yang berguna agar mata bersih dari segala kotoran dan penyakit serta menambah tajam penglihatan. “Seseorang yang memiliki penyakit rabun mata juga bisa di sembuhkan dengan cara gurah,” tambahnya

Ilmu Gurah yang berasal dari Giriloyo, tegas Ikhawan, pertama kali di perkenalkan oleh Kyai Marzuki, ilmu ini dulu dikenal hanya di kalangan para santri santri saja. Sedangkan keberadaan sosok Kyai Marzuki serta adanya pesantren di daerah ini berkaitan langsung dengan sejarah penyebaran Islam yang pernah di lakukan oleh Panembahan Senopati serta beberapa ulama lainnya, salah satunya adalah Sultan Cirebon.

Sebagai salah satu ulama serta sahabat Kanjeng Panembahan Senopati, Sultan Cirebon di kenal seringkali melakukan dakwah siar islam didaerah Giriloyo, sehingga di desa ini timbulah banyak pesantren pesantren peninggalan sejarah masa lalu tatkala siar Islam dilakukan oleh Sultan Cirebon. Bahkan sampai dengan wafatnya, Sultan Cirebon akhirnya di makamkan juga di desa Giriloyo.

Desa yang dikenal dengan banyak pesantren inilahnya yang pada akhirnya mengenalkan ilmu pengobatan Gurah pertama kalinya, meski hanya beredar di kalangan santri saja tetapi lambat laun ilmu ini tersebar di kalangan masyarakat desa. Namun yang paling pasti kenapa gurah berasal dari desa giriloyo ini dikarenakan juga bahan baku tumbuhan yang di pergunakan untuk pengobatan gurah hanya terdapat dan bisa tumbuh di Desa Giriloyo.

Tumbuhan yang di kenal dengan nama Srigunggu ini tumbuh hanya berkisar setinggi setengah meter. Selain akarnya yang dipergunakan sebagai bahan baku pokok pengobatan gurah, daunnya juga bisa digunakan sebagai bahan baku untuk membuat teh herbal pelarut kotoran pernafasan dari dalam tubuh dengan cara di buat sebagai teh. Dikalangan penduduk Desa Giriloyo sendiri, mereka biasa menyebut bahan baku ini dengan nama akar srigunggu. ujar tabib yang telah praktek ilmu pengobatan gurah selama lebih dari 20tahun.

Tambahnya lagi, dengan cara dikuliti kemudian akarnya di jemur di bawah terik matahari hingga kering lalu di tumbuk sampai halus, akar srigunggu sudah bisa di gunakan sebagai bahan baku pengobatan gurah. Berbeda dengan beberapa tempat gurah lainya di luar giriloyo, terkadang bahan baku yang digunakanya adalah campuran cabe dan merica sehingga rasanya sangat panas sekali bagi si pasien pada saat di gurah.

Metode Gurah

Lantas bagaimana tata cara gurah yang dilakukan para tabib di desa giriloyo? Haji Ikhawan, bapak 2 orang anak yang telah beberapa kali menunaikan ibadah haji ini menceritakannya kepada Tabloid Victory tahapan pertama pada saat si pasien menjalani pengobatan gurah.

Pada saat awal akan digurah, pasien terlebih dulu diharuskan untuk membersihkan diri dengan cara wudlu bagi pasien muslim. Sedangkan bagi pasien non muslim, pasien di haruskan melakukan doa menurut kepercayaanya masing masing.

Setelah itu baru dilakukan doa oleh tabib sebelum mengawali gurah pertama kali. Pasien yang sebelumnya telah rebahan tidur dengan posisi kepala menghadap ke atas, kemudian sedikit di dongakan letak kepalanya ke atas agar posisi lubang hidung tepat berada di atas. Setelah posisinya sedemikian rupa, barulah akar srigunggu yang sebelumnya telah dicampur dengan air secara perlahan lahan dimasukan kedalam hidung.

Beberapa saat kemudian setelah dirasa cukup menurut takaran tabib, si pasien akan merubah posisi tidurnya berganti dengan posisi tengkurap, namun posisi kepala berada di luar ranjang. Dahi si pasien di tahan dengan sebuah bangku agar kepala tak turun kebawah.

Pada posisi ini, tepat dibawah mulut si pesien di taruh sebuah baskom sebagai tempat menampung seluruh lendir kotoran yang keluar dari dalam mulut pada saat mulut mengeluarkan kotoran yang bercampur dengan ramuan dari akar srigunggu.

Pada saat pasien mengeluarkan kotoran, di perkirakan waktu yang dibutuhkan sekitar kurang lebih 1jam pengobatan. Seluruh kotoran yang selama ini menyumbat tenggorakan akan keluar semua dari dalam saluran pernafasan pada saat pasien dalam posisi ini. Pengobatan gurah selain dianggap mampu mengobati penyakit yang berhubungan dengan pernafasan, ternyata pengobatan ini juga dianggap mampu mengobati penyakit lainya seperti kanker, strook dan penyakit dalam lainnya.

Tak hanya tanaman herbal Srigunggu yang mampu melarutkan kotoran maupun penyakit yang bersarang di dalam tubuh manusia, namun kekuatan doa yang di lafalkan sebelum dimulainya gurah dianggap sebagai salah satu daya upaya permohonan kesembuhan kepada Allah SWT agar segala penyakit yang di derita si pasien sembuh. Untuk itu terkadang banyak juga pasien yang minta di gurah, meski penyakit yang dideritanya tak berhubungan dengan saluran pernafasan. Kata Haji Ikhawan

“Seseorang yang menjalani pengobatan gurah biasanya 2 sampai 3 kali pengobatan, sedangkan jarak pengobatan pertama dan ke dua paling tidak satu bulan,” tandas Ikhawan.

Para pasien yang datang ke Desa Giriloyo tak hanya berasal dari daerah Jogja maupun luar daerah DIY, tetapi banyak juga pasien gurah yang datang dari luar negeri, diantaranya dari Jepang, Kanada, Amerika dan beberapa negara eropa lainya. Sedangkan pasien yang datang dari dalam negeri sendiri kebanyakan mereka yang berprofesi sebagai penyanyi atau sinden. Selain itu banyak juga pasien lainya yang hanya sekedar ingin melegakan pernafasanya melalui gurah.

Teh Gurah

Selain para tabib banyak juga sentra industri perumahan dari desa Giriloyo yang menjual teh gurah, ramuan ini lebih mudah dan lebih gampang sekaligus bisa dinikmati rasanya daripada harus melakukan gurah. Namun efek yang ditimbulkanya tak seperti kalau pasien di gurah.

Secara langsung pasien akan merasakan efeknya pada saat lendir lendir kotoran dari dalam pernafasan keluar setelah di gurah. Sedangkan teh gurah, berfungsi melarutkan kotoran menjadi keringat ataupun mengeluarkan kotoran melalui air kencing.

Pekerjaan menjadi tabib yang dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Desa Giriloyo ini akhirnya mampu menjadikan Desa Giriloyo memiliki brand tersendiri sebagai desa gurah di daerah Bantul Jogjakarta. Bahkan profesi ini mampu mengangkat kehidupan warga Giriloyo menaikan taraf penghasilan mereka selain menjadi petani.

Lebih dari sepuluh tabib gurah dan puluhan warga lainya pembuat teh gurah yang tergabung dalam Paguyuban BaTra (Pengobatan Tradisional ) telah melestarikan ilmu pengobatan yang di percaya sudah ada sejak jaman nabi. Meski metode pengobatannya lain, tetapi fungsi kegunaanya sama yaitu mengeluarkan kotoran dan racun penyakit dari dalam tubuh.

Artikel Terkait Fakta ,Kesehatan

Blogger Template by BlogTusts Sticky Widget by Kang Is Published by GBT.

No comments:

Post a Comment

 
- See more at: http://langkah2membuatblog.blogspot.co.id/2012/12/cara-membuat-link-otomatis-di-blogger.html#sthash.WmsNvezS.dpuf