Suku Tengger dan Keteguhan Menjaga Adat serta Tradisi

Terungkaplagi 12.8.14
Iring-iringan kendaraan bermotor roda dua dan mobil bak terbuka yang mengangkut warga Suku Tengger berjalan perlahan menapaki lereng pegunungan Bromo. Sejumlah penumpang yang kebanyakan mengenakan jaket dan kain sarung untuk menahan hawa dingin itu membawa sesajian berupa hasil bumi dan hewan ternak.

Sesaji persembahan kepada Sang Hyang Widhi itu sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas karunia yang didapat anak cucu keturunan Lara Anteng dan Joko Seger. Melalui perantaraan para romo dukun, sesaji ini disucikan di Poten Pura Agung dikawasan Lautan Pasir, Gunung Bromo.


Lewat tengah malam yang diterangi sinar bulan purnama, ribuan warga Suku Tengger yang membawa sesaji ini merayap menuju puncak Gunung Bromo. Sesaji yang telah diberikan mantra dan puji-pujian para dukun adat dilarung kedalam pusara perut bumi.

Sembari menahan hawa dingin dan bau belerang yang menyengat, warga Suku Tengger berjalan menapaki anak tangga menuju puncak Gunung Bromo. Sesampai dibibir puncak Gunung Bromo yang memiliki ketinggian 2.329 mdpl, sesaji berupa hasil bumi dan hewan ternak ini dilempar kedalam perut bumi.

Larung sesaji ini merupakan ritual umat Hindu Tengger dalam merayakan Yadna Kasada yang diperingati pada hari ke15 bulan purnama di bulan Kasada. Prosesi Yadna Kasada diawali dan dirayakan dimasing-masing desa warga Tengger yang bermukim disekitar Gunung Bromo. Diantaranya dengan menggelar berbagai ritual pengambilan air suci, kesenian tradisional tayuban, reog serta resepsi dan pesta penyambutan tamu.

Di Brang Kulon (Pasuruan), pesta penyambutan tamu digelar di Pendapa Agung Wonokitri, Tosari, Kabupaten Pasuruan sedangkan di Brang Wetan (Probolinggo) dilakukan di Pendapa Cemorolawang, Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Demikian halnya dengan warga Suku Tengger yang bermukim di Kabupaten Malang dan Lumajang.

"Larung sesaji yang berupa hasil bumi, palawija dan ternak ini adalah bentuk rasa syukur umat Hindu Tengger kepada Tuhan. Sesaji yang telah diberikan mantra ini kemudian dilarung di kawah Gunung Bromo," kata Romo Dukun Pandita Sutomo, Ngadisari, Probolinggo.

Selain ritual larung sesaji, pada saat upacara Yadna Kasada 1634 Saka, juga digelar ujian Mulenen dan pengukuhan bagi dua dukun baru. Dua dukun yang dikukuhkan yakni Sukarji dari Desa Mororejo, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan dan Ngatono dari Desa Ngadas, Malang. Kedua dukun tersebut dikukuhkan dan melanjutkan tugas untuk melayani umat Hindu Tengger. Saat ini terdapat 47 dukun di 36 desa dikawasan Tengger, yakni Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, dan Malang.

Salah seorang warga Suku Tengger, Sukarji, mengungkapkan, pada setiap perayaan Yadna Kasada ia bersama keluarganya melarung sesaji berupa hasil bumi dan ternak miliknya. Ia berharap dengan melarung sesaji, keluarganya diberikan keselamatan dan kemakmuran.
"Sesaji hasil bumi ini merupakan wujud syukur kepada Tuhan atas limpahan rejeki yang diberikan. Kami berharap mendapatkan rejeki dan keselamatan pada masa mendatang," kata Sukarji.

Ritual suci umat Hindu Tengger ini juga menjadi magnet daya tarik wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara. Sejak tiga tahun lalu, perayaan Kasada bersamaan dengan umat muslim yang tengah menjalani ibadah bulan Ramadan. Perayaan Kasada tahun ini dan pada tahun-tahun mendatang tidak lagi bersamaan dengan bulan Ramadan.

Sementara itu, pada perayaan Yadna Kasada di Desa Wonokitri Kecamatan Tosari, sejumlah pejabat dikukuhkan sebagai warga kehormatan Suku Tengger. Mereka diantaranya Kapolres Pasuruan AKBP Ricky Purnama dan Komandan Kodim 0819 Letkol Heri Suprapto, Wakil Ketua DPRD Pasuruan, Sutar. Pengukuhan warga kehormatan ini ditandai dengan penyematan udeng kepala khas Tengger oleh Dukun Supayadi.

Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf mengungkapkan rasa hormat dan bangganya atas keteguhan warga Suku Tengger dalam menjaga tradisi nenek moyangnya. Menurutnya, ritual dan perayaan Yadnya Kasada ini merupakan momen yang paling ditunggu para wisatawan untuk berkunjung ke Gunung Bromo. Karenanya, untuk menunjang kenyamanan wisatawan, Pemkab Pasuruan telah mempriotaskan pembangunan infrastruktur menuju kawasan wisata pegunungan tersebut.

"Masyarakat Tengger di Tosari harus tetap menjaga kelestarian budaya dan tradisinya. Sebagai daerah tujuan wisata, masyarakat harus menyambut para tamu dengan senyum. Karena kehadiran wisatawan ini akan membawa manfaat bagi masyarakat," kata Gus Irsyad, panggilannya.

Artikel Terkait Budaya

Blogger Template by BlogTusts Sticky Widget by Kang Is Published by GBT.

No comments:

Post a Comment

 
- See more at: http://langkah2membuatblog.blogspot.co.id/2012/12/cara-membuat-link-otomatis-di-blogger.html#sthash.WmsNvezS.dpuf