Arkeolog Dengan Google Earth Menemukan Hampir 2000 Situs Purbakala Menakjubkan Yang Tersembunyi di Arab Saudi

Terungkaplagi 12.10.14
Seorang arkeolog telah mengidentifikasi sedikitnya ada 2.000 tempat potensial dan sangat penting di jazirah Arab Saudi..!

Situs-situs purbakala ini ditemukan tanpa mengunjungi negara tersebut secara langsung. Nah, lalu bagaimana caranya? Kalau hanya sekedar melihat, cukup dengan menggunakan fasilitas Google Earth.


Saudi Arabia

Diberitakan The Telegraph sejak Februari 2011, Profesor sejarah dari University of Western Australia, David Kennedy, mengakui bahwa dirinya tidak pernah berkunjung ke Arab Saudi.

Namun hanya dengan mengandalkan peta satelit Google Earth, ia telah menunjukkan sekiranya tak kurang dari 1.977 wilayah yang berpotensi memiliki situs arkeologi, termasuk diantaranya 1.082 artefak batu berbentuk “tetesan air mata”.

“Saya belum pernah ke Arab Saudi. Karena negara itu tidak mudah untuk dimasuki,” ujar Dr. Kennedy.


Dr Kennedy mengaku telah memverifikasi gambar yang menunjukkan situs arkeologi aktual dengan meminta seorang teman yang bekerja di Kerajaan Saudi untuk memotret lokasi yang dimaksud.

Penggunaan pencitraan satelit dengan Google Earth telah banyak digunakan para arkeolog terutama di Inggris.

Termasuk juga untuk mencari situs peninggalan zaman Romawi di Inggris dan juga sejarah Nazca di Peru dan reruntuhan Maya di Belize.

Tapi kini beberapa arkeolog telah diberi akses ke Arab Saudi, karena ulama garis keras dalam kerajaan khawatir dengan adanya kemungkinan para arkeolog memusatkan perhatian pada peradaban yang ada dan berkembang sebelum munculnya Islam.


Ukiran batu di atas ditemukan di Saudi Arabia dan berbicara tentang ekspedisi militer Abrahah melawan orang Arab.

Dengan demikian, dalam jangka panjang, penelitian arkeolog tersebut dikhawatirkan akan merusak moral rakyat dan dapat membuat sekulernya pandangan rakyat serta merusak moral agama negara karena masuknya faham liberal dan kapitalis politeisme yang dianut para turis nantinya.

Pada tahun 1994, sebuah dewan ulama Saudi dilaporkan telah mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa melestarikan situs sejarah ‘bisa mengarah pada politeisme dan penyembahan berhala‘.

Karenanya, kedua hal itu dapat mengakibatkan hukuman mati bagi siapapun di bawah hukum kerajaan Arab Saudi.


Saudi Arabia Archaeology, Mada’in Saleh

Namun dalam beberapa tahun terakhir, Arab Saudi mulai melunak, mereka memperbolehkan arkeolog untuk menggali beberapa situs, termasuk reruntuhan spektakuler situs Mada’in Saleh, yang tidak banyak diketahui orang.

Mada’in Saleh adalah salah satu kerajaan Saudi Arabia pada zamannya. Dan terdiri dari kurang-lebih sekitar 2.000 kota tua yang menandai kekuatan peradaban Nabataean.

Nabataean atau Nabath (bahasa Arab: نبط, bahasa Ibrani: נְבָיוֹת / Nevayōt) adalah sekelompok bangsa Arab kuno yang menetap didaerah Yordania hingga kesebelah utara Damaskus. Mereka dahulu menggunakan bahasa Aram untuk berkomunikasi.


Saudi Arabia Archaeology, Thamudi

Suku Nabath adalah cikal bakal kaum Nabi Shaleh, yakni Tsamud. Kaum yang dianugrahi kemahiran dalam memahat dan mengukir bebatuan keras untuk dijadikan rumah dan istana-istana raksasa.

Suku Nabath dikatakan sebagai suku yang misterius dan sebagian besar sejarahwan menyebut mereka termasuk ke dalam golongan bangsa Arab kuno. Kaum Nabath ini adalah kaum penyembah berhala dan mereka menyembah Dewi Nasib, Manāt dan Hubal.

Mereka menamakan diri merka sebagai kaum Nabath (jamak al-anbậth الا نباط) yang secara harfiah memiliki arti “orang pedalaman” dengan Ibu kotanya adalah Petra.


Saudi Arabia Archaeology, Mada’in Saleh

Suku Nabath membentuk kerajaan yang berdiri sejak abad ke-9 SM hingga 40 M. Suku Arab Nabath ini pernah dijajah oleh Romawi dan dijadikan bagian dari propinsi kekaisaran Romawi yang diberi nama Arabia Petraea.

Nama Petra yang artinya batu ini diberikan oleh orang Roma yang menjajahnya pada tahun 106 SM. Kolonial oleh bangsa Romawi ini hanya berlangsung seabad. Sejak itu, denyut kehidupan di kota ini merosot, lalu hilang ditelan zaman. Petra ditemukan kembali oleh petualang asal Swiss, Johan Burckhardt pada tahun 1812, dan sejak itu, dunia pun mulai mengenalnya.


A row of tombs from the al-Khuraymat group, Mada’in Saleh, Saudi Arabia.

Bangsa Nabath juga mahir dalam berdagang dan mereka pernah memfasilitasi perdagangan antara bangsa-bangsa lain, seperti Cina, India, Timur jauh, Mesir, Suriah, Yunani dan Romawi kuno. Mereka menjual barang seperti rempah-rempah, kemenyan, emas, hewan, besi, tembaga, gula, obat-obatan, gading, parfum, kain, dan lain-lainnya.

Dari asal-usulnya sebagai kota benteng, Petra menjadi persimpangan komersial yang kaya antara budaya Arab, Assyria, Mesir, Helenistik Yunani dan Romawi kuno. Tidak seperti masyarakat lain waktu mereka, tidak ada perbudakan di Nabatean dan setiap anggota masyarakat memberikan kontribusi dalam tugas-tugas kerja.

Pengendalian rute perdagangan ini dianggap sangatlah penting, di antara daerah dataran tinggi Yordania, Laut Merah, Damaskus dan Arab bagian Selatan. Pada masa lampau rute perdagangan ini dianggap sebagai “darah kehidupan Kerajaan Nabath.”


Sebenarnya kawasan bangsa Nabath ini mencangkup kawasan yang sangat luas, mulai dari Mada’in Shaleh di Madinah, sampai kawasan Petra di Jordan dan Damsyik di Syiria. Namun rumah-rumah batu yang lebih menonjol dijadikan kawasan wisata itu adalah Petra di Jordan.

Peradaban mereka mengalami kemajuan antara tahun 400 SM dan 200 SM, dengan meninggalkan berbagai monumen, di antaranya wilayah pekuburan diatas bukit berbatu. Kaum Nabath adalah ahli dalam memahat dan mengukir batu-batu alam pegunungan yang berwarna merah. Mereka juga ahli membuat patung batu, di antaranya yang terkenal adalah Hubal.


Mada’in Saleh ini juga merupakan kota kuno yang terletak di wilayah utara Hejaz (saat ini Arab Saudi), sekitar 25 km dari utara kota Al-‘Ula (bahasa Arab: العلا ). Pada zaman dahulu kota ini dihuni oleh kaum Tsamud dan Nabatea sekitar 3000 tahun SM, yang hidup di antara zaman Nuh hingga zaman Musa.

Kemudian Mada’in Saleh pada saat itu dikenal sebagai Al-Hijr (bukit berpasir). Nama Al Hijr digunakan hingga abad ke 14 Masehi.

Dengan banyaknya situs-situs tersebut membuat para arkeolog seantero dunia tercengang. Bisa jadi, ini adalah satu-satunya situs peradaban yang bisa menandingi situs-situs di Mesir.

Situs-situs di Mesir hingga kiri merupakan situs terbanyak di dunia, hingga muncul istilah Egyptology, yaitu arkeologi yang hanya khusus mempelajari ilmu peradaban kuno di Mesir.

Mungkinkan akan ada tandingan bagi Mesir dan akan memunculkan ilmu baru Arabitology, misalnya. Namun sayang, sebagian besar akses ke situs-situs kuno sangat dibatasi oleh pemerintah Arab. (sm/ar/ok/dt/wikipedia/icc.wp.com)




Beberapa lokasi situs perbakala di daerah Arab Saudi yang terlihat dari Google Earth:


Artikel Terkait Budaya ,Legenda ,Misteri ,Rahasia

Blogger Template by BlogTusts Sticky Widget by Kang Is Published by GBT.

No comments:

Post a Comment

 
- See more at: http://langkah2membuatblog.blogspot.co.id/2012/12/cara-membuat-link-otomatis-di-blogger.html#sthash.WmsNvezS.dpuf