Sensasi Mistis di Petilasan Prabu Siliwangi

Terungkaplagi 18.10.14
Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Petuah tersebut nampaknya mulai meluntur. Tidak sedikit peninggalan sejarah yang mulai terlupakan. Dapat dikatakan generasi muda masa kini kurang tertarik terhadap sejarah (wisata dan studi sejarah) di tengah modernitas yang seakan menenggelamkan kejayaan masa lampau. Berwisata sekaligus memupuk kembali kesadaran akan pentingnya sejarah sepertinya cukup menarik. Petilasan Prabu Siliwangi merupakan tempat yang pas untuk dikunjungi dalam rangka berwisata sekaligus memupuk kesadaran karena Petilasan Prabu Siliwangi merupakan objek wisata (alam, ziarah dan buatan).

Makom Keramat Prabu Siliwangi

Petilasan Prabu Siliwangi yang terletak di Desa Pajajar, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka merupakan salah satu situs sejarah yang terdapat di Kabupaten Majalengka. Situs sejarah ini dibuka pada tahun 1980 sebagai tempat ziarah dan mulai dikelola pada tahun 1990 sebagai hutan lindung dan objek wisata. Status kepemilikan objek wisata ini masih aset desa dibawah naungan Disporabudpar Kabupaten Majalengka. Objek wisata ini dikelola oleh Kompepar (Kelompok Penggerak Pariwisata) sejak tahun 1990 dengan luas mencapai 3 Ha. Jarak dari pusat kota Majalengka menuju lokasi objek wisata ±21 km. Perjalanan menuju lokasi dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Kendaraan umum yang tersedia menuju lokasi hanya berupa angkot jurusan terminal Rajagaluh kemudian dilanjutkan dengan menggunakan angkutan bak terbuka. Sedangkan bagi pengguna sepeda motor dibutuhkan waktu ±45 menit untuk mencapai lokasi. Bagi pengguna sepeda motor sangat dianjurkan untuk mengenakan masker karena debu yang terdapat di sepanjang jalan sangat tebal. Selain itu, suhu yang mencapai 38˚C sangat membakar kulit. Dengan harga retribusi tiket masuk yang terjangkau yaitu Rp.10.000/orang pengunjung dapat menikmati suasana objek wisata Prabu Siliwangi. Saat pertama kali menginjakkan kaki di lokasi objek wisata Prabu Siliwangi suasana mistis mulai terasa. Wajar karena lokasi tersebut merupakan tempat keramat. Jika berkunjung pada sore hari puluhan monyet akan menyambut dan berharap diberi makanan. Monyet-monyet tersebut bisa dibilang cukup ramah. Selain itu, patung Macan Siliwangi dan Tugu Kujang yang terdapat di pintu masuk turut menyambut pengunjung. Pohon yang rindang dan gemercik air menjadikan lokasi ini sangat tepat untuk menenangkan diri. Panasnya terik matahari selama perjalanan terobati dengan udara segar yang terdapat di lokasi. Fasilitas yang tersedia di kawasan wisata ini berupa mushola, kios pedagang, tempat parkir, loket karcis, shelter dan toilet.Prabu Siliwangi adalah Raja terbesar Kerajaan Padjajaran. Apapun yang berhubungan dengan Prabu Siliwangi selalu dikeramatkan dan dianggap sakti oleh masyarakat Sunda. Salah satunya adalah tempat pesinggahan atau petilasan Prabu Siliwangi. Petilasan Prabu Siliwangi tersebar di seluruh Jawa Barat. Salah satunya yang terdapat di kawasan hutan lindung dan objek wisata ini. Yang menarik dari petilasan ini adalah masyarakat yang percaya bahwa di tempat inilah Prabu Siliwangi moksa atau menghilang secara gaib. Petilasan yang merupakan pusat dari kawasan wisata ini berupa makom keramat. Makom tersebut berupa menhir yang terletak didalam cungkup dan selalu ditutup dengan kain putih. Selain itu, terdapat selubung berwarna kuning yang disangga empat tiang pipa besi. Di depan menhir terdapat tempat untuk membakar kemenyan. Menhir ini merupakan objek yang paling banyak dikunjungi, terutama para peziarah. Banyak peziarah yang datang dengan maksud dan kepentingan yang berbeda. Ada yang datang untuk berobat, bernazar bahkan semedi.Dalam kawasan wisata ini terdapat dua talaga yaitu Talaga Emas dan Talaga Pancuran yang airnya dianggap suci oleh para pengunjung. Pengunjung yang datang biasanya mandi dan mengambil air dari kedua talaga tersebut. Talaga emas atau disebut juga pancuran bidadari merupakan talaga yang dipercaya sebagai tempat bidadari mandi. Aroma bunga dan kemenyan sangat menyengat di lokasi tersebut. Pengunjung yang hendak mandi harus memperoleh izin dari sang kuncen yakni Abah Buyung. Suasana talaga emas cukup mencekam dibandingkan dengan tempat lain di kawasan wisata. Hal ini dibuktikan dengan seringnya terjadi penampakan. Sang bidadari sering menampakan diri. Baru-baru ini sang bidadari muncul pada saat seorang wartawan dari Radar Cirebon tidak percaya akan keberadaannya. Pada saat wartawan tersebut memotret pancuran di Talaga Emas sang bidadari muncul di foto. Bidadari tersebut menggunakan selendang berwarna emas.

Batu Pasarean Prabu Siliwangi 

Talaga Pancuran merupakan lokasi yang di dalamnya terdapat Batu Pasarean Prabu Siliwangi. Suasana di Talaga Pancuran tidak begitu mencekam seperti di Talaga Emas. Sama seperti di Talaga Emas pengunjung yang hendak mandi harus memperoleh izin dari sang kuncen. Pak Iin merupakan kuncen di Talaga Pancuran yang dibantu Ibu Nesah yakni sang istri. Ternyata Bambu Soekarno yang saat ini sudah tidak dipublikasikan terletak dibelakang Batu Pasarean Prabu Siliwangi. Bambu yang awalnya berjumlah 5 (lima) buah dan selalu utuh (mati 1 tumbuh 1) kini hanya berjumlah 3 (tiga) buah. Hanya pengunjung yang kebetulan sedang beruntung yang diperbolehkan melihat bambu tersebut. Dengan alasan banyak oknum yang tidak bertanggung jawab mengaku sebagai keturunan Soekarno bambu tersebut tidak dipublikasikan. Rasanya senang sekali diberikan kesempatan melihat bambu tersebut.Selain talaga, di kawasan wisata ini terdapat dua buah situ yaitu Situ Beber dan Situ Cipadung. Situ Beber terletak di tengah-tengah kawasan wisata. Airnya sangat jernih dan terdapat ikan hikeu yang merupakan ikan keramat. Pengunjung percaya apabila mengambil ikan tersebut akan mendapat musibah atau sial. Ikan tersebut sejenis dengan ikan yang terdapat di Cibulan, Kuningan. Banyak pengunjung yang datang membawa anak-anak untuk berenang atau sekedar memberi makan ikan. Melihat pemandangan tersebut langsung teringat masa kecil saat masih banyak waktu untuk berkumpul bersama keluarga mengingat kesibukan sekolah saat ini benar-benar menyita waktu.Berbeda dengan Situ Beber yang termasuk ke dalam wilayah Desa Pajajar, Situ Cipadung termasuk ke dalam wilayah Desa Indrakila, Kecamatan Sindang. Situ Cipadung merupakan pemandangan pertama yang terlihat saat memasuki kawasan wisata karena letaknya yang dekat dengan pintu masuk. Banyak pasangan muda-mudi yang bersantai di sekitar Situ Cipadung. Selain itu, terdapat Sumur Kejayaan dan Petilasan Buyut Arjuna yang letaknya tidak jauh dari Situ Cipadung. Sumur Kejayaan merupakan sumur yang airnya tidak pernah kering meskipun musim kemarau. Pengunjung biasanya mandi di Sumur Kejayaan kemudian melakukan ritual di Petilasan Buyut Arjuna menurut Pak Rohman sang kuncen.

Situ Cipadung

Selain wisata alam dan ziarah terdapat pula wisata buatan dalam kawasan wisata ini. Terdapat kolam renang dan flying fox dipinggir Situ Cipadung. Kurang lengkap kiranya jika pengunjung tidak mencoba sensasi flying fox melintasi Situ Cipadung. flying fox sendiri hanya dibuka pada hari libur. Selain itu, terdapat pula bumi perkemahan yang lokasinya terpisah namun masih merupakan bagian dari kawasan wisata ini. Kebanyakan sekolah yang mengadakan kegiatan perkemahan di lokasi tersebut berasal dari Cirebon dan Indramayu. Kolam renang, flying fox dan bumi perkemahan ini merupakan bukti upaya perkembangan dari tempat ziarah menjadi kawasan wisata.Kawasan wisata hutan lindung Petilasan Prabu Siliwangi menjadi objek wisata unggulan Kabupaten Majalengka. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pengunjung yang datang didominasi oleh pengunjung dari luar Kabupaten Majalengka yakni Cirebon dan Indramayu. Pengelola retribusi tiket yang merupakan anggota Kompepar dan merupakan peserta Moka Majalengka tahun 2012 mengatakan bahwa diperlukan kerjasama dari semua pihak untuk mengelola kawasan wisata Prabu siliwangi. “Untuk mengelola kawasan wisata Prabu Siliwangi ini diperlukan kerjasama yang baik dari semua pihak. Alhamdulillah sejauh ini Kompepar selaku pengelola, Moka Majalengka selaku duta pariwisata, pemerintah Disporabudpar dan masyarakat sekitar saling bekerjasama untuk mengelola dan mengembangkan kawasan wisata ini,” Kata Dudi, Minggu (12/10/2014).Berkunjung ke kawasan wisata petilasan Prabu Siliwangi cukup membuka kembali kesadaran akan pentingnya sejarah. Meskipun keramat tidak berarti dengan berkunjung menjadi musyrik semuanya tergantung kembali kepada niat. Menurut Dudi semua pengunjung yang datang tetap diarahkan untuk memegang teguh ajaran agama masing-masing dan tidak terjerumus ke dalam hal-hal negatif seperti pesugihan dan lain-lain. Perasaan yang muncul saat berada di lokasi adalah rasa ingin tahu yang sangat menggebu mengenai jejak sejarah.

Sumber: kompasiana

Artikel Terkait Legenda ,Mistis ,Plesir

Blogger Template by BlogTusts Sticky Widget by Kang Is Published by GBT.

No comments:

Post a Comment

 
- See more at: http://langkah2membuatblog.blogspot.co.id/2012/12/cara-membuat-link-otomatis-di-blogger.html#sthash.WmsNvezS.dpuf