“Tjerita Njai Dasima”, Cinta, Tragedi, Pengorbanan

Terungkaplagi 8.10.14


SYNOPSIS :
Cerita ini diambil dari sebuah buku karangan G. Francis (Gijsbert Francis a.ir) yang terbit pada tahun 1896, ditulis berdasarkan kisah nyata kehidupan seorang istri simpanan yang bernama Dasima, gadis dusun Kuripan, Bogor.


Ia menjadi nyai (perempuan yang dijadikan gundik tanpa dinikahi) atau istri simpanan seorang pria berkebangsaan Inggris bernama Edward William, salah satu orang kepercayaan Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles pada zaman pemerintahan Hindia-Belanda.

Oleh sebab itu, akhirnya Nyai Dasima pindah ke Batavia. Lokasi cerita terjadi di sekitaran Tangerang dan Batavia pada tahun 1813-1820-an.

Karena kecantikan dan kekayaannya, Nyai Dasima menjadi terkenal. Samiun seorang tukang sado yang bersemangat ingin memperistrinya, meminta dukun bernama Mak Buyung agar Nyai Dasima menerima cintanya.

Akhirnya Nyai Dasima dinikahi walaupun Samiun sudah beristri. Namun setelah berhasil dijadikan istri mudanya, Nyai Dasima hanya disia-siakan Samiun, dan kejadian tragis yang mengerikan, akhirnya pun terjadi.!


Cantiknya Nyai Dasima
Perempuan yang bahenol itu cantik sekali pada zamannya. Karena kecantikannya, tuan Edward terpikat dan berupaya dengan berbagai cara untuk mendapatkannya. Ia adalah Dasima, wanita yang berasal dari dusun Kahuripan, letaknya di sebelah kanan desa Cise’eng, setelah menempuh perjalanan 10 kilometer dari Kawasan Parung, (dulu masuk wilayah) Bogor, (kini) Jawa Barat.


Lukisan Nyai Dasima yang dibuat oleh seorang artis

Dasima wanita cantik yang enggan hidup melarat. Karenanya Dasima dengan senang hati menjadikan dirinya sebagai wanita piaraan tuan Edward. Hasil hubungan mereka membuahkan seorang anak wanita bernama Nancy.

Meskipun telah beranak, Dasima tetap cantik seperti masa perawannya. ltulah yang mendorong tuan Edward laki-Iaki asal Inggris tak segan-segan memberikan sebuah rumah serta para pembantu yang siap melayani keperluan Dasima. Semula Dasima dan tuan Edward menetap di Curug Tangerang, kemudian pindah ke Pejambon Batavia.

Setiap lelaki dewasa yang lewat didepan rumahnya, manakala melihat Nyai Dasima, maka menitiklah air liur mereka. Bagi mereka yang telah beristeri, tumbuh sesaat penyesalan mengapa tidak beristerikan wanita itu saja, pastilah hidup bahagia, cahaya kecantikan yang terpancar dari bola matanya, bersih kencang kulitnya dan liuk lekuk tubuhnya yang bagai gitar.

Bagi lelaki perjaka dan duda, ada setetes keinginan untuk memperisterikan Nyai Dasima. Sungguh, ada magnit yang melekat ditubuhnya membuat lelaki secara refleks mengalih pandang kearah rumah Dasima dan berharap bisa melihat meskipun sehelai rambut lewat jendela.

Cinta Ditolak, Dukun Bertindak
Seorang lelaki tukang sado lokal bernama Samiun yang beruntung, karena punya paman seorang tentara dengan jabatan Komandan Onder Distrik Gambir, sehingga punya peluang untuk berkesempatan masuk ke rumah Nyai Dasima atas urusan pamannya.

Samiun sekalipun telah beristerikan Hayati, tetapi melihat Nyai Dasima, goncanglah ketahanan jiwanya. Hayati isterinya yang dahulu dipuja dan diburu kini baginya hampir bagaikan kendaraan tua rongsokan bilamana dibandingkan dengan Nyai Dasima ibarat kereta kencana para raja.


Sir Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Batavia diwaktu itu

Samiun tergila-gila dan merubuhkan pilar imannya, menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan seorang Nyai Dasima yang dimatanya bagaikan Cleopatra seperti dalam Mitologi Yunani ataupun bagaikan Sinta dalam cerita pewayangan.

Samiun dengan segala daya upaya mengumpulkan uang, lalu mencari Haji Salihun di Pecenongan untuk minta guna-guna agar bisa memetik kuntum Pejambon, Nyai Dasima yang cantik rupawan.

Samiun dengan akal liciknya berhasil menyuap mak Buyung untuk menjadi perantara sekaligus ujung tombak panah asmaranya agar bisa menancap direlung hati Nyai Dasima. Berbekal sehelai rambut Nyai Dasima yang diperoleh lewat tangan kotor, Mak Buyung mulai mengendalikan permainan mistik.

Nyai Dasima berubah, kini Samiun dimatanya adalah pria tergagah di Batavia, yang tak sebanding bilaman dijejer dengan Edward yang tak lebih dari lelaki tua karatan yang tak ada harga di pasar Senen.

Melalui permainan mistik, Nyai Dasima menyongsong Samiun yang menanti ditepi kali dengan getek bambu. Mereka pergi ke rumah Mak Soleha ibunya Samiun. Nyai Dasima menetap di rumah itu, di bilangan Kwitang yang dulunya berawal dari kata Kwee Tang Kiam, seorang pendekar China di Batavia yang terkenal dimasanya.


Kawasan Kwitang – Bambu deliverance at kampung Kwitang in Batavia/ Pengiriman bambu di Kampung Kwitang, Batavia (Jakarta) (1910-1920) (pic: wikimedia)

Ingin Kaya, Samiun Nikahi Dasima Sebagai Istri Kedua
Sebelum menggelar rencana, Samiun telah berkolusi dengan Hayati sang isteri. Dengan janji harta untuk Hayati, disetujui Samiun menikahi Nyai Dasima dengan harapan dapat meraup harta. Persetujuan isterinya membuat Samiun percaya diri dalam mendapatkan Nyai Dasima.

Perempuan cantik kembangnya Pejambon, kini berada dalam rumahnya, menurutnya seperti kerbau dicucuk hidungnya. Samiun memanggil penghulu agama dan pernikahan dilangsungkan. Ketika pernikahan berlangsung di tangan Nyai Dasima ada nilai harta sebesar 6000 Gulden, suatu jumlah yang sungguh banyak dibanding gaji seorang wedana di Batavia tak lebih dari 50 Gulden.

Samiun menyayangi Nyai Dasima, demikian juga dengan Mak Soleha ibu kandungnya serta Hayati istri pertamanya. Namun berangsur hari semakin surut rasa sayang tersebut karena harta yang dibawa Nyai Dasima semakin berkurang dan akhirnya ludes. Kini, Nyai Dasima justru menjadi beban mereka. Sebenarnya masih ada hartanya, tetapi di Pejambon dan itu tak mungkin diambil.


Melihat perilaku Hayati, Mak Soleha dan Samiun yang berubah total, Nyai Dasima sadar bahwa dirinya menjadi objek Samiun, Hayati dan Mak Soleha. Nyai Dasima tak tahan lagi dan minta cerai. Samiun setuju menceraikan dengan syarat harta Nyai Dasima yang ada di Pejambon pemberian tuan Edward harus diserahkan pada Samiun.

Hayati sangat berperan dalam menentukan langkah Samiun. Hayati terus mendesak agar Samiun bisa memperoleh harta Nyai Dasima. Dengan berbagai upaya Samiun mencoba melunakkan hati Nyai Dasima agar bersedia mengalihkan hartanya, tetapi hal itu sulit dilakukan Nyai Dasima.

Tidak mungkin ia kembali ke Pejambon menemui tuan Edward, jangan-jangan kemurkaan dan penjara yang didapatnya karena telah mempermalukan tuan Edward dimata orang Belanda dan Eropa umumnya.

Jatuh Miskin, Samiun Ceraikan Dasima Istri Keduanya
Samiun akhirnya menceraikan Nyai Dasima tetapi tak mendapatkan hartanya. Tapi Nyai Dasima tetap berada di rumah Samiun karena tak punya saudara di Batavia, ia tak punya uang lagi untuk pulang ke kampungnya, iapun tak punya keberanian menemui tuan Edward untuk memohon pengampunan atas kecurangan yang dilakukannya.

Hayati menjadi semakin kesal melihat Nyai Dasima yang telah berubah menjadi beban bagi keluarganya. Hayati mendesak Samiun untuk menyingkirkan Nyai Dasima.

“Buat apaan dia disono kalo nyusahin kite Un,” ujar Hayati pada Samiun.
“Sabar, gue pan mesti mikiri pegimane caranye,” jawab Samiun.

Samiun yang terus didesak oleh Hayati untuk mengusir Nyai Dasima karena sudah tidak bermanfaat lagi baginya, serta ketidaktepatan janjinya juga, maka Samiun linglung dan mengambil keputusan penuh, yaitu menghabisi nyawa Nyai Dasima.

Untuk melakukan hal itu Samiun tak sanggup sendiri, perlu menggunakan tangan orang lain. Maka, Samiun menyewa bang Puase, seorang jagoan dari Kwitang dengan upah 100 Pasmat.

Samiun merundingkan teknis pelaksanaan penghabisan nyawa Nyai Dasima. Akhirnya mereka menyepakati cara terbaik yang harus dilakukan, Samiun menyerahkan panjar sebesar 5 pasmat kepada bang Puase kemudian kembali ke rumahnya.

Sikap Samiun mengembangkan senyum yang manis sekali kepada Nyai Dasima membuat Mak Soleha menjadi kaget, mengapa Samiun bukannya mengusir Nyai Dasima malah berbaikan?

Hayati yang mendengarkan cerita dari Mak Soleha tentang sikap bang Samiun menjadi sangat kesal. Ingin saja ia pergi ke rumah itu untuk menghabisi nyawa Nyai Dasima.

Jebakan Samiun: Ketika Ketidaksetiaan Dibalut Cinta
Sikap Samiun yang simpatik dan terkesan melindunginya justru membuat semangat Nyai Dasima tumbuh dan hadir kembali perasaan untuk menyayangi Samiun.

Samiun mengajak Nyai Dasima ke kampung Ketapang untuk mendengarkan pertunjukan“tukang cerite” atau “seni tutur” tentang Amir Hamzah. Pertunjukkan “tukang cerite” berada di Gang Ketapang (depan Sawah Besar, Jalan Gajah Mada).

Dasima yang telah melimpahkan harapannya kepada Samiun langsung setuju dengan ajakan tersebut. Nyai Dasima berharap mungkin malam ini adalah malam terindah dalam hidupnya dengan Samiun, dapat berjalan dibawah sinar rembulan sambil bercengkerama menumpahkan perasaannya selama ini terkandas di dasar lautan kebencian Hayati dan Mak Soleha.

Nyai Dasima segera bersolek secantik mungkin dengan memakai pakaian paling indah yang masih dimilikinya. Mak Soleha ibunda Samiun malah menjadi jijik dan hampir saja meludahi muka Nyai Dasima, untung ada Samiun sehingga masih ada rasa segan pada sang anak.

Mak Soleha memanggil Samiun dan berkata, “Un apa gue nggak saleh liat?”
“Ada ape nyak ?”
“Bukannye orang ntu udah lu cerai-in ?”
“Pan dulu nyak, sekarang pan laen.”
“Laen apenye? ape elmu pelet lu udah ngebalik ame diri lu ndiri?”
“Lha kagak nyak,” jawab Samiun.

Mak Soleha menjadi aneh dengan perilaku Samiun, jangan-jangan ilmu pelet Samiun menjadi bumerang buat Samiun sendiri. Hayati yang mendengarkan laporan Mak Soleha kelihatannya acuh tak acuh.

Hayati sendiri sudah hilang kesabaran atas janji Samiun yang akan memberikan harta yang banyak buatnya. Sekarang Hayati masa bodoh, tak ada gunanya berharap lagi dan rasanya tak ada urusannya lagi dengan Nyai Dasima dan Samiun.

“Ti… lu kok masa bodoh ?” tanya Mak Soleha keheranan.
“Abis, mau diapain lagi? gua kagak percaya ame Samiun”.
“Kalau Samiun jadi pegi ame Dasima trus kagak balik lagi, pegimane ?”.
“Biarin aje, gue juga bisa cari lelaki laen!”
“Astaghfirullah !”
“Percuma nyak ngucap kalu niatnya kagak baek ame ntu orang.”

Mak Soleha menjadi kaget dengan pernyataan Hayati seakan menuding dirinya ikut dalam permainan kotor mendapatkan harta milik Nyai Dasima. Mak Soleha menjadi benci dengan Hayati dan bertekad minta pada Samiun justru untuk menceraikan Hayati, biarlah dengan Nyai Dasima saja.

Mak Soleha berubah pikiran dan menyesali sikapnya yang sempat membenci Nyai Dasima belakangan ini. Mak Soleha segera kembali ke rumahnya tetapi mendapati Samiun dan Nyai Dasima telah pergi.

Samiun dan Nyai Dasima akhirnya pergi ke Ketapang. Mereka bergandengan tangan bagaikan dua sejoli yang baru mengenal cinta pertama. Sambil berjalan, Samiun kelihatan gugup. Ingin saja ia mengurungkan niat untuk tidak jadi pergi, tetapi menjadi bimbang manakala mengingat Hayati yang terus mendesaknya, dan Mak Soleha yang selalu menatap dengan nanar dan lecehan.

“Rangkulin pinggang aye Un,” pinta Nyai Dasima,
“Ah, kayak orang baru demenan aje,” sahut Samiun.
Tetapi tangannya lalu melingkari pinggang Nyai Dasima. Tiba-tiba Samiun menghentikan langkah, Nyai Dasima ikut berhenti dan bertanya.
“Ade ape Bang Miun ?”
“Kite jalan sono aje.”
“Pan jalan Ketapang lewat sini. “
“Abang kuatir kalo-kalo ada opas Belande, nanti kita bisa di tangkap, lagian tuan Edward pasti masih nyariin elu.”

Mereka menggunakan jalan lain, jalan setapak yang akan melewati sebuah kali dengan jembatan titian bambu. Di ujung tepian kali tempat menyeberang, Samiun melepaskan Nyai Dasima sendiri di belakang, bukannya justru menuntun tangan Nyai Dasima agar tidak terpeleset manakala sedang menyeberang jembatan.


Saat berada ditengah jembatan, Nyai Dasima tertinggal di belakang dan memanggil Samiun tetapi Samiun meneruskan langkah untuk sampai ke tepian seberang kali. Dalam kesempatan itu, sebuah bayangan muncul.

Bayangan seorang lelaki kekar dengan sigap memburu kearah Nyai Dasima sambil mengirimkan pukulan maut ke tengkuk Nyai Dasima tapi pukulan itu meleset karena Nyai Dasima sempat melangkah sebelum tangan lelaki kekar itu mendarat.

Namun pukulan itu tak meleset sama sekali, yang tetap terkena bagian belakang dan sakitnya bukan main, Nyai Dasima menjerit memanggil Samiun. Tapi Samiun dengan tenang dan mencibir ia berkata, “Ajal elu udah sampe, biarin, pasrahin aje diri lu..!“

Nyai Dasima berusaha lari untuk minta perlindungan pada Samiun yang telah berdiri di seberang tepian kali. Namun memang sudah naas bagi Nyai Dasima, sebuah pukulan keras yang keluar dari tangan seorang jagoan terkenal Bang Puase, mendarat tepat pada posisi yang sensitif di bagian tengkorak kepala.
Seketika, Nyai Dasima rubuh bagai daun kering diterjang badai gurun. Mata sebelah kanannya melotot, lidah terjulur keluar yang sebagian putus tergigit gigi yang merapat akibat tekanan dari atas, darah mengucur dari hidung dan mulut, Nyai Dasima rubuh.

Lalu, Bang Puase menyongsong dengan golok tergenggam, langsung menggorok leher Nyai Dasima. Tamatlah ajal Nyai Dasima yang disertai semburan darah yang keluar dari urat di lehernya.


Nyai yang bahenol ini dibunuh kira-kira di dekat rumah yang terlihat di foto. Mayatnya dilemparkan ke kali (kira-kira samping toko buku Gunung Agung) dan ditemukan di dekat kediaman tuan Edward W di Pejambon, di belakang kantor Ditjen Perhubungan Laut sekarang ini.

Samiun berdiri terpaku, kemudian memburu Nyai Dasima yang telah berubah menjadi seonggok bangkai manusia. Samiun mengangkat mayat Nyai Dasima dengan kedua belah tangannya.

Kenangan indah ketika baru pertama kali menjadi isterinya tetap terlihat lewat mata Nyai Dasima yang terbuka, bagaikan filem romantis yang digulung ulang, seketika terekam saat-saat bahagia selama ini yang justru membuat Saimun yang sok ganteng, menitikkan air mata.

Setelah beberapa saat, Bang Puase dan Samiun berembuk sebentar untuk membuang mayat Nyai Dasima di kali Ciliwung, kemudian mereka melemparkanlah mayat Nyai Dasima ke kali Ciliwung.

Namun ternyata ada beberapa saksi mata, Si Kuntum yang berjalan bersama Bang Puase diancam akan dibunuh bila membuka rahasia kematian Nyai Dasima. Sementara di seberang kali, dibalik rerimbunan pohon, ada penduduk lokal Musanip dan Ganip yang sedang memancing, mereka juga menyaksikan peristiwa itu dengan jelas, dan keduanya ketakutan, bersembunyi agar tidak diketahui oleh Bang Puase.

Isteri Musanip yang rumahnya berdekatan dengan peristiwa itu terjadi, sempat mendengar jeritan Nyai Dasima, dan mengintip melalui celah dinding bambu rumahnya, juga ikut ketakutan jika diketahui oleh Bang Puase.


Bangkai Nyai Dasima hanyut terbawa arus kali Ciliwung. Bangkai tersebut kemudian menyangkut di tangga tempat mandinya tuan Edward, orang yang pemah memeliharanya sebagai isteri piaraan.

Tuan Edward sangat terpukul dan menangis setelah melihat bangkai tubuh yang telah rusak mengenaskan dan sudah mengambang tak bernyawa, ternyata adalah Nyai Dasima, istri simpanannya. Tuan Edward segera melaporkan ke polisi tentang kematian Nyai Dasima.

Di depan polisi tuan Edward mengakui bahwa Nyai Dasima adalah isterinya. Karena pengaduan tersebut, polisi distrik Weltevreden menganggap hal ini sebagai persoalan serius yang bisa mengancam jiwa setiap orang Eropa khususnya Belanda.

Polisi menerapkan cara mengadakan sayembara berhadiah 200 pasmat bagi siapa saja yang bisa memberikan keterangan akurat tentang siapa yang menbunuh Nyai Dasima.


Tergiur oleh jumlah uang, Kuntum, Musanip dan Ganip tak kuatir kemungkinan kemarahan Bang Puase di kemudian hari. Mereka melaporkan kepada polisi tentang kejadian yang dilihat.

“Jadi si Puase yang bunuh itu Madam Edward ?”
“Betul, Tuan.”
“Bagus, kamu orang pantas diberi hadiah nanti.”
“Tapi kami takut, Tuan.”
“Takut apa ?”
“Takut ame Bang Puase.”
“Ne, kamu orang jangan takut.”

Atas dasar laporan dan kesaksian tersebut, maka polisi menangkap Bang Puase beserta barang bukti golok yang belum sempat dia bersihkan dari darah Nyai Dasima.

Maka pelaku pembunuhan yaitu Bang Puase ditangkap, kemudian dijebloskan ke penjara. Setelah persidangan, ia tewas dihukum gantung.

Sedangkan Samiun melarikan diri dan tak kembali lagi ke Kwitang karena takut ditangkap, sebab dialah sebenarnya dalang yang menyewa Bang Puase untuk membunuh Nyai Dasima.

Lalu, setelah hampir dua ratus tahun kemudian… mitos dan legenda ini, masih tetap berlanjut…

Sosok Mistis di Gedung Pancasila Jakarta
Bangunan tua dan bersejarah yang berlokasi di Jalan Pejambon No 6, Jakarta Pusat ini dulunya adalah cikal bakal lahirnya rumusan Pancasila. Pada masa kejayaannya, dahulu bangunan putih besar ini ditempati oleh pemerintahan Hindia-Belanda.

Bahkan sampai pada zaman modern sekarang, di gedung tersebut masih menyisakan cerita-cerita mistis yang erat hubungannya dengan masa lalu kota Jakarta.


Gedung Pancasila, Pejambon, Jakarta, yang dikatakan sering terlihat ada penampakan makhluk astral berwujud Nyai Dasima

Cerita yang kerap beredar adalah sering kali munculnya sosok wanita dengan balutan busana kebaya Jawa atau Sunda yang konon katanya bernama Nyai Dasima!

Menurut para staf karyawan dan beberapa penjaga gedung, sosok wanita tersebut memang sangat terkenal di lingkungan Gedung Pancasila Jakarta. “Ya sebagian ada yang pernah dilihatin, penampakan Nyai Dasima,” kata penjaga keamanan Gedung Pancasila, Ramli.

Namun Ramli mengaku tidak pernah tahu sosok Nyai Dasima itu seperti apa dulunya. Ia juga tak mengerti siapa sebenarnya Nyai Dasima tersebut. “Nggak tahu mas itu siapa, yang jelas itu pas dulu zaman Belanda kali ya,” ujar Ramli.
Nyai Dasima nan cantik tersebut diakhir hayatnya telah dibunuh di daerah Kwitang yang saat ini kira-kira berada di sekitar Markas Marinir, sebelah Toko Gunung Agung, Jakarta Pusat.

Bahkan hingga saat ini masih dipercaya sosoknya bergentayangan sampai ke Gedung Pancasila.

“Karyawan yang dulu jaga malam di sini sering lihat penampakan cewek pakai kebaya jawa-jawa kuno gitu. Kelihatan lagi di depan kaca sana itu persis di depan lukisan Pak Soekarno. Orang-orang di sini pada percaya itu penampakan Nyai Dasima,” jelasnya.

Lain halnya dengan Daryono, seorang penjaga keamanan Gedung Pancasila ini juga pernah tak sengaja mengabadikan sosok tuyul di kamera ponsel miliknya. Dia mengaku saat itu ketakutan, namun hingga kini cetak foto nya masih dia simpan rapi di rumahnya.


Ruangan aula d dalam Gedung Pancasila

“Fotonya masih ada. Saya lagi nyoba dari lorong mau motret ke arah lambang garuda besar itu pakai ponsel, aula besar yang ada di sana,” ujar Daryono sambil menunjuk.

“Setelah saya foto ternyata gelap, terus saya lihat lagi fotonya ada penampakan anak kecil gundul, nggak pake baju duduk di bawah situ. Agak samar tapi jelas banget bentuknya,” papar Daryono menambahkan.

Menurut Ramli dan Daryono, suasana di dalam Gedung Pancasila tersebut sudah terasa aneh dari dahulu sejak mereka bekerja di sana.

Terlebih di ruang kerja dan ruang tamu yang sering disinggahi Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia di zaman presiden SBY, Marty Natalegawa. Suasana di dalamnya mencekam dan aneh.

“Paling serem ya ruangannya bapak (Marty Natalegawa – pen). Tiap masuk ke sana rasanya aneh, kayak nggak sendiri, kayak ada yang ngawasin,” jelas Ramli.
“Dan biasanya saya cuma bersih-bersih sama cek pintu jendela, udah terkunci apa belum, kalau udah ya saya pasti cepet-cepet keluar,” tambah Ramli.

Namun demikian, menurut Daryono para tamu yang datang ke Gedung Pancasila tidak akan diganggu jika sudah mengucapkan salam permisi. Selama ini menurutnya yang selalu ‘diganggu’ adalah orang-orang yang mungkin tidak memberi salam permisi saat masuk.

“Ini kan ya dulunya gedung peninggalan Belanda, pastinya ya masih ada yang ketinggal di sini penunggunya. Nggak apa-apa kalau udah permisi, Assalamualaikum lah, nggak akan diganggu paling juga kerasa sendiri,” kata Daryono sambil tertawa di akhir wawancara.


Nyai Dasima versi G. Francis dan Versi Lainnya

Nyai Dasima (naskah drama) 1965 oleh S.M. Ardan, seniman dan budayawan Kwitang.
Pada tahun 1896 Gijsbert Francis menerbitkan novel yang diberi judul Tjerita Njai Dasima.
Ada pula Henry Chambert – Loir dalam “Malay Literature in the 19th Century” menyebutkan bahwa di Leningraad terdapat cerita “Nyai Dasima” dalam koleksi Akhmad Beramka tentang syair nomor 68.
Memang tidak disebutkan tahun penciptaan manuskrip ini, namun Akhmad Beramka aktif menulis antara tahun 1906 sampai dengan tahun 1909.
Lie Kim Hok dan O.S Tjiang pernah menyadur cerita Nyai Dasima ini dalam bentuk syair. Menurut Claudine Salmon, kedua penulis itu menyadur dari karya G. Francis (Oetomo, 1985 : 31- 32).
Kemudian A. Th. Mausamana membuat Nyai Dasima dalam bahasa Belanda pada tahun 1926. Pada perkembangan selanjutnya cerita ini muncul sebagai bacaan anak – anak dalamCerita Betawi (Ali, 1995).
Akan tetapi pada tahun 1965, S.M. Ardan, seniman dan budayawan Kwitang, juga pernah mengarang Njai Dasima dalam bentuk naskah drama.

Poster fim Cerita Nyai Dasima – Pada masa lalu, legenda Nyai Dasima juga pernah diangkat menjadi film.

Pada tahun 1929 cerita ini diangkat ke layar lebar dengan judul Njai Dasima 1. Setahun kemudian, berturut-turut tayang Njai Dasima 2 dan Nancy Bikin Pembalesan. Ketiga film itu adalah film bisu.

Barulah beberapa tahun kemudian keluarNyai Dasima (1932), Dasima (1940), Dasima dan Samiun (1970) sebagai film bicara. Nyai Dasima (1996) pernah ditayangkan sebagai salah satu sinetron di RCTI.

Dan juga Ridwan Saidi seorang budayawan Betawi, yang terlibat dalam banyak aktivitas pelestarian budaya Betawi dan juga banyak menulis buku-buku mengenai masyarakat Betawi.

Dari tulisan dari G. Francis diatas, yang pernah menjadi redaktur surat kabar besar pada abad ke-19 menggambarkan – selain tuan William, semuanya jahat.
Bahkan direkonstruksi demikian rupa sehingga mencuat citra orang Betawi yang memiliki sifat-sifat penghasut, haus harta, irasional, berpikiran sempit, pencuriga, perusuh, dan masih berbagai sifat jahat lainnya.


Ridwan Saidi, seorang budayawan Betawi yang banyak terlibat dalam aktivitas pelestarian budaya Betawi dan penulis buku-buku mengenai masyarakat Betawi.
Dan semua sifat buruk itu berasal dari tradisi budaya dan agama yang dianut: Islam.

JJ Rizal dalam pengantar di buku ‘Nyai Dasima’, mengutip pernyataan Ardan, bahwa Nyai Dasima versi kolonial memperlihatkan nada anti-Muslim yang pada masanya, sebenarnya justru berarti anti-pribumi apapun agamanya.

Dasima memilih kawin dengan Samiun dan meninggalkan tuannya setelah diinsafkan bahwa kawin tanpa nikah (kumpul kebo) adalah suatu perbuatan terlarang dalam Islam.

Bahkan ulama terkemuka, HAMKA (alm), juga pernah berkomentar bahwa Dasima rela meninggalkan tuannya dan hidup bergelimang harta setelah diingatkan, bahwa dalam Islam, nikah merupakan suatu ‘kemustian’ dalam hubungan suami – istri.


(sumber: wikipedia/ forum detik/ 108jakarta/ Agib Tanjung, merdeka/ alwishahabwordpress/ ensiklopedia Jakarta/ berbagai sumber/ penyusun ulang IndoCropCircles)

BATAVIA, OLD PHOTOS & OLD PICTURES GALLERY:


Batavia in 1840, showing the growth of the city to the south of the old Batavia.


Kampung Batavia (1780) – Ville deBatavia, capital of the Dutch East Indies in what is now North Jakarta, circa 1780

Artikel Terkait Sejarah

Blogger Template by BlogTusts Sticky Widget by Kang Is Published by GBT.

No comments:

Post a Comment

 
- See more at: http://langkah2membuatblog.blogspot.co.id/2012/12/cara-membuat-link-otomatis-di-blogger.html#sthash.WmsNvezS.dpuf