Raja Demak Pati Unus, Keturunan Cucu Nabi Muhammad SAW

Terungkaplagi 16.11.14
Cerita Pagi kali ini berusaha mengupas tentang sejarah pahlawan nasional yang satu ini. Pati Unus lahir di Jepara, Jawa Tengah, pada 1480 M dan wafat 1521 M. Dia terlahir dengan nama Raden Abdul Qadir. Ayahnya bernama Raden Muhammad Yunus dari Jepara.

Raden Muhammad Yunus adalah putra seorang mubalig pendatang dari Parsi (salah satu suku di Iran) yang dikenal dengan sebutan Syekh Khaliqul Idrus. Syekh Khaliqul Idrus datang dari Parsi ke tanah Jawa mendarat dan menetap di Jepara pada awal 1400-an masehi. 


Syekh Khaliqul Idrus bernama lengkap Abdul Khaliq Al Idrus bin Syekh Muhammad Al Alsiy (wafat di Parsi) bin Syekh Abdul Muhyi Al Khayri (wafat di Palestina) bin Syekh Muhammad Akbar Al Ansari (wafat di Madinah) bin Syekh Abdul Wahab (wafat di Mekkah) bin Syekh Yusuf Al Mukhrowi (wafat di Parsi) bin Syekh Muhammad Al Faqih Al Muqaddam (Imam Besar Hadramaut/yaman).

Imam Faqih Muqaddam seorang Ulama besar sangat terkenal di abad 12-13 M yang merupakan keturunan cucu Nabi Muhammad, Sayyidus Syuhada Imam Husain (Qaddasallohu Sirruhu) putra Imam Besar Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karromallohu Wajha dengan Sayyidah Fatimah Al Zahra.

Syekh Khaliqul Idrus memiliki ibu Syarifah Ummu Banin Al-Hasani (keturunan Imam Hasan bin Fathimah binti Nabi Muhammad) dari Parsi (dari Catatan Sayyid Bahruddin Ba'alawi tentangAsyraf di Tanah Persia, ditulis pada 9 September 1979).

Setelah menetap di Jepara, Syekh Khaliqul Idrus menikah dengan putri seorang mubalig asal Gujarat yang lebih dulu datang ke tanah Jawa, yaitu dari keturunan Syekh Maulana Akbar, seorang ulama, mubalig, dan seorang musafir besar asal Gujarat, India.

Dialah yang mempelopori dakwah di Asia Tenggara. Seorang putranya yang bernama Syekh Ibrahim Akbar yang menjadi Pelopor dakwah di Tanah Campa (di Delta, Sungai Mekong, Kamboja).

Setelah menikah dengan putri ulama Gujarat, keturunan Syekh Maulana Akbar, lahirlah seorang putranya yang bernama Raden Muhammad Yunus. Raden Muhammad Yunus menikah dengan seorang putri pembesar Majapahit di Jepara dengan sebutan Wong Agung Jepara.

Dari pernikahan ini, lahirlah seorang putra yang kemudian terkenal sangat cerdas dan pemberani bernama Raden Abdul Qadir (Pati Unus), dan setelah menjadi menantu Sultan Demak I, Raden Patah, diberi gelar Adipati bin Yunus atau terkenal lagi sebagai Pati Unus.

Pati Unus mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor (karena meninggal saat melawan Portugis di tanah seberang (sabrang) lor (utara) atau Malaka).

Dari pernikahan ini, Pati Unus diketahui memiliki dua putra. Sehubungan dengan intensitas persaingan dakwah dan niaga di Asia Tenggara yang begitu cepat, bersamaan jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 1511, maka Demak mempererat hubungan dengan kesultanan Banten-Cirebon yang juga masih keturunan Syekh Maulana Akbar.

Sebab, Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah adalah putra Abdullah (putra Nurul Alam, putra Syekh Maulana Akbar), sedangkan Raden Patah (cucu Syekh Maulana Akbar yang lahir di Campa, Kamboja). Sedangkan Pati Unus, neneknya dari pihak ayah adalah juga keturunan Syekh Maulana Akbar.

Hubungan yang semakin erat ditandai dengan pernikahan kedua Pati Unus, yaitu dengan Ratu Ayu, putri Sunan Gunung Jati pada 1511.

Tak hanya itu, Pati Unus kemudian diangkat sebagai panglima gabungan armada Islam membawahi armada Banten, Demak, dan Cirebon, diberkati oleh mertuanya sendiri yang merupakan Pembina umat Islam di Tanah Jawa, Syekh Syarif Hidayatullah bergelar Sunan Gunung Jati.

Gelarnya yang baru adalah Senapati Sarjawala dengan tugas utama merebut kembali Tanah Malaka yang telah jatuh ke tangan Portugis. Gentingnya situasi ini dikisahkan lebih rinci oleh Sejarawan Sunda, Saleh Danasasmita di dalam Pajajaran, bab Sri Baduga Maharaja, sub babPustaka Negara Kretabhumi.

Tahun 1512, giliran Samudra Pasai yang jatuh ke tangan Portugis. Hal ini membuat tugas Pati Unus sebagai panglima gabungan armada Islam semakin berat dan mendesak untuk segera dilaksanakan.

Maka, pada 1513, dikirim armada kecil, ekspedisi Jihad I yang mencoba mendesak masuk benteng Portugis di Tanah Malaka, tapi gagal dan balik kembali ke tanah Jawa.

Kegagalan ini karena kurang persiapan, menjadi pelajaran berharga untuk membuat persiapan yang lebih baik. Maka direncanakanlah pembangunan armada besar sebanyak 375 kapal perang di Tanah Gowa, Sulawesi, yang masyarakatnya sudah terkenal dalam pembuatan kapal.

Pada 1518, Raden Patah, mangkat. Dia berwasiat supaya menantunya, Pati Unus diangkat menjadi raja Demak berikutnya. Maka diangkatlah Pati Unus menjadi raja selama tiga tahun, 1518-1521.

Memasuki tahun 1521, ekspedisi Jihad II dimulai setelah ke 375 kapal selesai pembuatannya. Walaupun baru menjabat sultan selama tiga tahun, Pati Unus rela meninggalkan segala fasilitas kemudahan dan kehormatan dari kehidupan keraton. Bahkan, ikut pula dua putranya (yang masih sangat remaja) dari pernikahan dengan putri Raden Patah.

Armada perang Islam siap berangkat dari pelabuhan Demak dengan mendapat restu dari para wali yang dipimpin oleh Sunan Gunung Jati. Armada perang yang sangat besar untuk ukuran dulu, bahkan sekarang.

Dipimpin langsung oleh Pati Unus, armada perang Islam yang sangat besar berangkat ke Malaka dan Portugis pun sudah mempersiapkan pertahanan menyambut armada besar ini dengan puluhan meriam besar.

Tragisnya, kapal yang ditumpangi Pati Unus terkena peluru meriam ketika akan menurunkan perahu untuk merapat ke pantai. Dia menjadi syahid karena kewajiban membela sesama muslim yang tertindas penjajah (Portugis), yang bernafsu memonopoli perdagangan rempah-rempah.

Sebagian pasukan Islam yang berhasil mendarat, kemudian bertempur dahsyat, hampir tiga hari tiga malam lamanya, dengan memakan korban yang sangat besar di pihak Portugis.

Sampai-sampai, dikisahkan Portugis tak mau mengenang kembali pertempuran dahsyat pada tahun 1521 ini karena banyak prajuritnya yang tewas.

Melalui situs keturunan Portugis di Malaka (kaum Papia Kristang), hanya terdapat kegagahan Portugis dalam mengusir armada Tanah Jawa (expedisi I) 1513 dan armada Johor dalam banyak pertempuran kecil.

Armada Islam gabungan Tanah Jawa yang juga menderita banyak korban kemudian memutuskan mundur di bawah pimpinan Raden Hidayat, orang kedua dalam komando setelah Pati Unus gugur.

Selanjutnya, komando diambil alih oleh Fadhlulah Khan (Tubagus Pasai). Sekembalinya dari peperangan ke Pulau Jawa, Fadhlullah Khan alias Falatehan alias Fatahillah alias Tubagus Pasai diangkat Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati sebagai panglima armada gabungan yang baru menggantikan Pati Unus.

Artikel Terkait Fakta ,Tokoh

Blogger Template by BlogTusts Sticky Widget by Kang Is Published by GBT.

No comments:

Post a Comment

 
- See more at: http://langkah2membuatblog.blogspot.co.id/2012/12/cara-membuat-link-otomatis-di-blogger.html#sthash.WmsNvezS.dpuf