Trisula Karara Reksa, Pusaka Ratu Laut Kidul

Terungkaplagi 16.11.14


Menyelusuri keberadaan pusaka yang satu ini sungguh teramat sulit karena berada di dasar Laut Kidul. Tepatnya di istana agung Kanjeng Ibu Ratu Laut Kidul, yang ditempatkan di dalam ruangan khusus tingkat ke lima.

Pusaka ini juga sebagai bentuk dari kebesaran kursi para pembesar istana bawah laut maupun Majapahit dan Keraton Solo. Bahkan dalam dunia wayang, pusaka ini digambarkan pada gunungan yang menyerupai bentuk padi atau bentuk rambut bergerigi. Yang artinya, lambing dari kemakmuran, pangkat, kesuksesan, kedudukan dan kepercayaan seluruh wahyabala/lapisan masyarakat luas.

Bercerita tentang karomah atau kesaktian pusaka Karara Reksa, tentu sudah tidak diragukan lagi sebagai tameng dari berbagai ilmu santet, teluh dan sebagainya. Bahkan dalam hal memuluskan suatu jabatan, Syekh Abdul Karim, Benda Kerep (alm) yang semasa hidupnya menjadi guru besar para Habaib se-Indonesia ini pernah berujar;

“Pada masa itu, seorang intelektualis, Ir. Soekarno sebelum menjadi pemimpin negara, meminta pendapat pada Kyai yang satu ini tentang sebuah jalan menuju derajat mulia di tengah banyaknya manusia yang mengharapkan.”

Lalu Kyai tersebut berkata; “Dunia adalah derajat dan derajat adanya di dunia. Keberkahan Allah SWT yang punya, namun harus dicari pangkal ujungnya. Segala upaya ada jalannya, carilah karomah yang bersifat raja.”


Dengan penghayatan yang cermat, lalu Ir. Soekarno bertanya kembali, “Dimana gerangan harus ku cari suatu karomah bersifat raja?”

Sang Kyai menjawabnya, “Bersatulah lahir dan batinmu untuk sejalan beriringan, sesungguhnya derajat duniawiyah banyak dimiliki makhluk kasat mata, pintar-pintarlah dalam mencari derajat, karena di tengah derajat akan ada tipu muslihat. Ambillah pusaka raja TRISULA KARARA REKSA. Mintalah izin dari sang murid Nabi Khidir as (yang dimaksud dengan murid disini adalah Kanjeng Ibu Ratu Kidul) sesungguhnya karomah raja (pusaka raja) ada padanya.”

Lalu Ir. Soekarno pamit mundur diri dari hadapan Kyai kharismatik itu untuk menjalankan suatu perintah mulia lewat jalan bertirakat. Dalam suatu konptemplasinya, Ir. Soekarno mendapat wangsit untuk bertirakat/bersemedi di puncak Gunung Penjalu, Tasik, Jawa Barat.

Beliau datang ke puncak gunung tersebut, tepatnya diatas puncak bebatuan yang bernama Harja Mukti atau Pataka Harja. Lewat amalan dan pelaturan yang diberikan oleh Syekh Abdul Karim. Hari ke-41 dari semedinya di puncak Gunung Penjalu, akhirnya Ir. Soekarno mendapatkan apa yang diinginkannya, yaitu pusaka KARARA REKSA, yang langsung diberikan oleh Kanjeng Ibu Ratu Kidul sendiri.

------------------------------------------------------

Bercerita tentang pusaka, Trisula Karara Reksa, penulis mempunyai kisah tersendiri, yang pada masa itu aku sama sekali tak menyangka, kalau pusaka yang ada di tanganku adalah pusaka nomer satu yang sedang diperebutkan banyak paranormal.

Konon, bermula dari suatu tirakat, saat memperdalam ilmu, Wijaya Kusuma, di salah satu peninggalan bersejarah, yaitu, sebuah rumah tinggal seorang waliyullah sakti, Raden Mas Kuncung Anggah Buana. Tepatnya, berlokasi di desa Trusmi, kecamatan Plered.

Dalam istilah silsilah, tokoh yang satu ini dilahirkan tanpa seorang ayah, pada umumnya. Tapi, dari suatu keajaiban kebesaran Allah SWT, pada ummat/hamba pilihannya seperti kisah, Nabiyullah Isa as.

Nah, sebelum kisah perjalanan hidupku aku lanjutkan, ada baiknya kita tahu, siapa gerangan Raden Mas Kuncung Anggah Buana, agar tidak penasaran akhirnya.

Dalam kisah sejarah, desa Trusmi mengalami masa kekeringan yang begitu panjang. Seorang puteri cantik jelita, Ratu Ayu Roro Jati, selalu bersedih hati dengan keadaan seperti ini.

Beliau sering menyendiri di sebuah taman keputren, sambil menatap tanaman yang tinggal tangkai tanpa satu pun daun yang bertengger diatasnya. Dengan melihat kondisi seperti ini, sang puteri sering menangis sambil melantunkan seuntai kata keprihatinan, diantaranya;

“Wahai Dewata Agung, tidaklah kau turunkan seseorang yang mampu merubah taman kering ini menjadi subur kembali. Sesungguhnya aku hidup tanpa punya kesenangan kecuali keasrian tamanku pulih kembali. Wahai Dewata Agung, aku bersumpah dengan segala kerendahan. Siapapun yang mampu menghidupkan taman kesayanganku ini, bila orang itu laki-laki, aku kan jadikan dia suamiku. Tapi bila dia seorang perempuan, akan ku jadikan keluargaku yang paling dekat.”

Pada esok harinya, seorang pemuda yang entah dari mana datangnya, dengan kondisi dan mimik wajah kelelahan sehabis perjalanan jauh. Rupanya, langsung beristirahat sambil mandi di pancuran taman keputren Trusmi, yang sedang dilanda kekeringan, pada masa itu.

Dengan rasa tergesa-gesa, pemuda itu langsung menanggalkan bajunya diantara ranting pohon yang sudah teramat kering. Terlihat kesegaran di wajah pemuda itu, setelah merasakan sejuknya air pancuran keputren.

Bertepatan saat pemuda tadi selesai mandi, tanpa disengaja sang Puteri Roro Jati masuk ke dalam taman keputren. Sang puteri langsung terkejut kaget dan juga tercengang takjub. Ya, sang puteri benar-benar terkesima melihat dua hal yang belum pernah dilihatnya semasa hidupnya.

Di saat pemuda tadi mengambil bajunya yang tergelak diatas ranting kering, tiba-tiba pohon itu mengeluarkan daun yang begitu lebatnya serta bermunculan beragam bunga dengan beraneka warna yang sungguh indah dipandang mata, bukan hanya itu saja, seluruh pohon yang ada ditaman semua ikut subur seperti sedia kala.

Saat berpandangan mata, sang puteri langsung terpesona dengan ketampanan pemuda tadi yang tak lain adalah Sunan Gunung Jati. Konon, saking terpesonanya sampai sang puteri tak sadar kalau betisnya tersingkap lebar-lebar dan pada saat itu Sunan Gunung Jati melihatnya, hingga punya sir kelakiannya.

Dari kejadian itu, Sunan Gunung Jati pergi meninggalkan sang puteri seorang diri masih dalam keadaan terbengong-bengong. Sejak saat itulah, kehidupan sang puteri mulai berubah. Beliau benar-benar jatuh hati pada pemuda yang baru dilihatnya. Ya, tingkah laku sang puteri mulai aneh. Beliau selalu datang dan mencium tanah bekas telapak kaki berdirinya Sunan Gunung Jati di samping air pancuran tamannya.

Empat bulan sejak hadirnya Sunan Gunung Jati dalam pikirannya empat bulan pula sejak tergila-gila dan terus menciumi bekas telapak kakinya, tanpa disadari, beliau akhirnya hamil dengan kebesaran dan keagungan ilmu Allah SWT.

Di saat kandungan telah mencapai 9 bulan, Nyi Mas Ayu Roro Jati, akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki yang memancarkan sinar terang dari wajahnya. Dengan rasa suka cita sang puteri dan ayahandanya langsung datang menghadap Prabu Panatagama/Sunan Gunung Jati Cirebon, yang konon namanya Sunan Gunung Jati ini sudah ke sohor kemana-mana pada masa itu.

Dihadapan seorang raja Islam Cirebon, ayah dan sang puteri Roro Jati ini menceritakan ikhwal asal-usul hingga akhir kejadiannya. Dengan senyum yang menawan, Sunan Gunung Jati menerima tamunya dengan riang gembira. Dan akhirnya Puteri Roro Jati dinikahinya menjadi salah satu isteri yang paling setia.

Sedangkan sang bayi, Sunan Gunung Jati menamainya dengan sebutan Raden Mas Kuncung Anggah Buana. Konon dalam sejarah Cirebon, Raden Mas Kuncung Anggah Buana menjadi seorang pilih tanding dengan ribuan muridnya yang tersebar di berbagai penjuru angin, diantara murid beliau yang sampai sekarang masih terkenal namanya adalah Kanjeng Ibu Ratu Laut Kidul.

----------------------------------------------------

Nah, kita lanjutkan kembali kisah hidupku tentang pusaka Trisula Karara Reksa. Dalam suatu malam, tepatnya selasa kliwon. Malam itu, ruangan paseban Raden Mas Kuncung Anggana Buana, begitu gelapnya karena aliran listrik padam akibat hujan lebat yang sejak sore telah mengguyur daerah Trusmi dan sekitarnya.

Mungkin faktor cuaca yang sangat dingin, malam itu tanpa sadar aku terlelap tidur di serambi pintu ukir yang sudah berabad-abad tahun lamanya tidak pernah direnovasi oleh masyarakat setempat. Dan entah sudah berapa jam aku tertidur di tempat itu, tapi yang jelas, aku baru terbangun karena terkejut, tubuhku di lempar oleh seseorang.

Belum lagi rasa terkejutku hilang, tiba-tiba dari dalam pintu ukir, keluar sebuah sinar yang amat terang benderang. Sinar itu lalu berputar mengelilingi tubuhku sampai lima puteran dan seterusnya sinar itu redup lalu jatuh dihadapanku.

Dengan dibantu cahaya senter yang selalu kubawa, benda itu lalu kuambil dan kuperhatikan secara seksama. “Aneh!” pikirku. Benda ini terbuat dari bahan tulang dengan bentuk tujuh tangkai saling menyatu dan semuanya bergerigi seperti bentuk padi.

Tapi bila diperhatikan lagi, benda ini mirip bentuk tombak yang lepas dari gagangnya. Sungguh sangat unik dan belum pernah kulihat sebelumnya. Malam itu juga, aku sudahi tirakatku dengan membawa sebuah kenang-kenangan dari bangsa gaib, yaitu berupa pusaka aneh, menurutku.

Walau dalam suatu kegunaannya dan manfaat dari benda ini sama sekali belum aku ketahui kunci pembukanya. Namun aku patut bersyukur. Sebab, sejak adanya benda ini di rumahku, lambat laun aku mulai kedatangan rizki dari berbagai tamu yang membutuhkan pertolongan supranaturalku.
Bahkan tak tanggung-tanggung, para pengusaha dan pejabat tinggi negara datang pula dengan berbagai persoalan dan masalah yang tentunya sangat privasi. Namun, setengah tahun dari kedapatan benda aneh tersebut, pada suatu hari benda itu kubuang karena suatu alasan.

Lantas, apa yang terjadi setelah itu?

Dalam penghujung cerita bagian 1, sudah dijelaskan, bahwa pusaka aneh yang berasal dari pesarean, Raden Mas Kuncung Anggah Buana, yang lain adalah pusaka no.1, Trisula Karara Reksa, pada akhirnya setelah setengah tahun ikut bersamaku, pusaka ini kubuang karena suatu alasan yang memaksa.

Lantas…apa yang terjadi setelah itu….?

Kisah dibuangnya pusaka ini bermula dari suatu hasutan dari salah satu masyarakat yang satu profesi sepertiku. Dengan adanya aku, banyak tamu yang datang dari berbagai daerah meminta suatu pertolongan. Orang yang satu ini langsung menunjukkan mimik ketidaksukaannya.

Lewat hasutannya, satu persatu dari masyarakat sekitar mulai terperdaya dan mencemoohku sebagai seorang ahli santet/teluh. Bahkan ucapan miring seperti ini selalu kudengar acapkali ada orang sakit atau terkena musibah, semua akan dikembalikan kepadaku dengan tuduhan, akulah penyebabnya.
Berbulan-bulan hasutan ini terus terdengar dikupingku. Namun seakan tak pernah padam, para tamu yang meminta pertolonganku terus bertambah sepuluh kali lipat dari sebelumnya. Melihat kenyataan seperti ini, aku dihasut lagi dengan modus yang lain. Yaitu, aku dianggap menganut pesugihan lewat pelantara memelihara tuyul.

Pada suatu hari, seiring merebaknya fitnah yang terus terdengar sampai ditelinga keluargaku. Malam harinya, aku bermimpi didatangi empat orang. Dua laki-laki bersorban dan dua perempuan cantik dengan memakai mahkota ratu. Dalam mimpiku, salah satu ratu tadi berkata ;

“Anakku! Jangan kau putus asa karena suatu masalah. Terimalah dengan senang hati dengan datangnya masalah ini. Sesungguhnya sabar dalam menghadapi segala masalah adalah suatu derajat termulia dihadapan-Nya.”

Lalu sang kakek bersorban meneruskannya;

“Jika kau tak mampu menahan rasa sakit, jangan kau curahkan sakit itu dengan perlawanan. Karena sesungguhnya mengalah demi suatu kebaikan itu lebih mulia dari pada kau melawannya,”

“Diam dan tenang itu lebih mulia daripada gerak membawa malapetaka. Sesungguhnya semuanya adalah permainan rasa (hati) yang mana didalamnya, apabila hati kita menerima adanya masalah. Maka, masalah itu seolah tidak ada. Tapi apabila hati kita tidak menerima segala hal yang berbentuk masalah, niscaya rasa senangpun akan dibuat masalah sendiri.” Tambahnya.

Sejak kejadian mimpi itu, aku mulai banyak intropeksi diri dengan jalan tirakat dan puasa diberbagai tempat pesarean para Waliyullah. Aku mulai jarang dirumah dan selalu bepergian dari satu makam Wali ke makam yang lainnya.

Hingga pada suatu malam, disaat aku pulang dari pesarean seorang wali, Syekh Abdul Latif, kamarku terlihat berantakan dan Trisula Karara Reksa sendiri hilang dari tempatnya.

Dengan penasaran, gundah-gulana, malam itu juga aku mulai mempersiapkan sarana ritual untuk menarik kembali pusaka itu, yang baru saja dicuri. Namun dalam suatu kontemplasi yang aku lakukan, para Abdul Jumud dan para lelembut bangsa laut datang ke kamar dengan membawa pesan;

“Rekanlah kepergian pusaka tatal raja. Mungkin sudah waktunya dia berpisah denagn dirimu. Hanya saja ada satu hal yang harus engkau ketahui, buanglah sejauh mungkin sarung/tempat pusaka tatal raja. Sesungguhnya pusaka itu tidak akan berkaromah apabila tidak disatukan dengan warangkanya.”
Demi menghormati amanat para gaib untuk menyelematkan karomah yang ada pada pusaka itu. Pagi harinya, aku langsung membuang warangkanya di suatu sungai yang bernama, Kali Telgung.

Dua hari kemudian, dari pembuangan warangka pusaka, aku langsung pindah rumah dan ikut ke salah satu pengusaha Chinese di Semarang, menjadi supranaturalis pribadinya. Satu tahun aku dikontraknya dan setelah itu hidupku lebih diarahkan ke dunia spiritualis lewat ngarayana ke berbagai tempat/makam keramat para sesepuh zaman dahulu.

Diantara tempat keramat yang pernah aku singgahi selama tiga tahun ngarayana, diantaranya; Syekh Tolha (Kalisapu), paserean Kanjeng Sungan Kalijaga (Kalijaga, Cirebon), Pangeran Papak (Garut), Sunan Godog (Garut), Syekh Muhyi (Pemijahan), Syekh Latif dan Syekh Qobul (Kajen), Ki Ageng Sapu Jagat (Cuci Manah), Syekh Manshur (Banten), Pangeran Topak (Matangaji), Habaib Keling (Indramayu), Syekh Majagung (Situmpuk), pertapaan Sunan Gunung Jati dan Mbah Kuwu Cakra Buana (istana pukuwati, Cirebon), dan lain-lain.

Dari kisah perjalanan spiritualisku, tentu banyak fenomena gaib yang membuatku mengenal akan kebesaran Allah SWT, lewat beberapa makhluk lain, seperti bangsa jin dan lainnya. Bahkan dalam kebesaran Af’al yang diciptakan-Nya, aku banyak dihadapkan dalam fenomena alam, kehidupan makhluk kasat mata.

Ternyata, tidak hanya bangsa manusia yang merasakan nikmatnya keindahan alam yang diciptakan oleh Allah SWT. Namun makhluk lainpun tak kalah menikmatinya dengan berbagai keindahan dan keasrian alam yang ada didalamnya.

Lewat kesaksian yang pernah aku alami, konon pada suatu hari, guruku bercerita tentang kehebatan pusaka yang mengandung tujuh unsur ilmu; bumi, langit, api, angin, cahaya, rasa dan sinar.

Beliau mengibaratkan pusaka ini sebagai sosok ahli ma’rifatullah. Yaitu, satu badan namun menguasai tujuh ilmu Allah SWT. Secara keseluruhan, sang guru menambahkan lagi;

“Pusaka ini hanya ada lima di alam jagat raya, dan semuanya telah dipegang oleh bangsa ahli laut. Diantaranya, Nabiyullah Khidir as (Sulthonul Bahri), Raja Lautan (Sulthonul Ma’), Raja Maimun (Sulthonul Jin), Dewi Cempaka Arum (Ibu Ratu), Dewi Nawang Wulan (Kanjeng Ibu Ratu Kidul).”
Disaat guruku bercerita tentang bentuk yang menjadi ciri khas pusaka yang luar biasa ini, aku sangat terkejut mendengarnya. Sebab, bentuk pusaka yang diceritakan tadi persis seperti pusaka yang dulu aku miliki.

Ya, dari cerita sang guru, akhirnya aku berkisah padanya tentang kejadian 4 tahun yang lalu. Dimana aku pernah memiliki pusaka yang baru saja diceritakan. Dari perjalanan kisahku, sang guru berkali-kali geleng kepala dan terus menyimak ceritaku sampai akhir. Lalu dengan suara lirih, guruku berkali-kali menyebut nama “Karara Reksa”.

Setelah suasana tenang kembali, sang guru mulai melanjutkan ceritanya. Namun tentunya setelah aku berkisah tadi. Sang guru lebih fokus bercerita yang diarahkan kepadaku. Diantara cerita beliau tentang pusaka Karara Reksa.

Karara Reksa adalah pusaka pilih tanding yang didalamnya mengandung tujuh kesempurnaan ilmu. Dari tujuh kesempurnaan ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu; raga, sifat dan keyakinan.

Raga
Ilmu yang mempunyai pondasi “bumi sebagai akhlak mulia”, rendah hati, sabar dan bertawaqkal, mengikuti jejak dari Rasululullah SAW.

Sifat
Ilmu yang mengarah ke sifat baburrahmat (kerohmatan) disini mempunyai tiga unsur, yaitu; langit, api dan angin. Langit, ilmu yang bersifat menengadah dalam suatu doa dari seorang makhluk terhadap Tuhannya. Api, ilmu yang mengarah ke sifat sidadah (semangat) baik dalam mencari sebuah ilmu, duniawiah maupun yang bersifat batin. Angin, ilmu yang mengarah ke sifat derajat, dimana didalamnya telah terkandung keluasan akal yang mengarah ke berbagai tujuan hidup yang positif.

Keyakinan
Ilmu yang bersumber dari keyakinan hati lewat suatu pemahaman, keluasan dan penghayatan diri. Lewat karomah pusaka Trisula Karara Reksa, semua ilmu ini ada didalamnya. Nah, keyakinan disini mencangkup 3 unsur, diantaranya; cahaya, rasa dan sinar. Cahaya: penerimaan ilmu bersifat Robbani (ketuhanan). Rasa: penghayatan arti hidup menuju derajat mulia. Sinar: mengenal bangsa malaikat lewat kesidikan/kejujuran hati.

Dari tujuh sumber ilmu yang ada di pusaka Trisula Karara Reksa, akan menyatu dengan pemiliknya seiring satu persatu khodam yang menjaganya memberi kunci pembuka.

Nah, kata sang guru yang langsung menatapku. Sungguh sangat disayangkan pusaka yang seharusnya dijaga sebagai alat bantu menuju ilmu yang lebih tinggi, disia-siakan begitu saja.

Dari penuturan sang guru, aku merasa sangat bersalah bila teringat kejadian 4 tahun yang lalu. Ya, nasi sudah menjadi bubur, mungkin inilah pepatah terakhir yang bisa aku ucapkan.

Sejak penuturan guru tentang cerita, pusaka Trisula Karara Reksa, aku jadi malu untuk bertemu dengan guruku. Ya, aku benar-benar bersalah yang tidak bisa menjaga pemberian bangsa gaib.
Namun, seminggu kemudian, guruku memanggilku dan memerintahkanku untuk meminta maaf kepada Nyimas Ratu Ayu Dewi Nawang Wulan, sebagai hak waris pusaka Trisula Karara Reksa, yang pernah diberikan kepadaku. Guruku berkata;

“Datanglah ke Pelabuhan Ratu. Bawalah sarana yang diperlukan, berdzikirlah disana dengan tujuan meminta maaf. Sesunguhnya pemberian pusaka, Trisula Karara Reksa adalah suatu derajat bagi orang yang dipilih. Jangan sia-siakan waktu yang sudah terbuang dan jangan terus berdiam diri. Sesungguhnya, Ratu Ayu Dewi Nawang Wulan, seorang yang dipilih oleh Nabiyullah Khidir as. Jangan sampai terkena marahnya bila hidupmu ingin tenteram.”

Setelah aku diajari tentang cara bertemu dengannya oleh guruku, besoknya aku berangkat menuju Pelabuhan Ratu, Sukabumi.

Dengan bantuan Tubagus Moyo yang mengajarkan ilmu, Pangrimo Bumi dan pembuka gerbang gaib. Dari ilmu ini akhirnya aku diperbolehkan masuk ke ruang kedua yang bernama Karara Bumi.

Di ruangan ini aku disambut beberapa ahli keraton, diantaranya seorang tokoh sakti zaman Padjajaran, Bopo Awu, namanya.

Konon, dari cerita Bopo Awu sendiri, setelah kita berdua, mulai akrab. Beliau salah satu kepercayaan Prabu Siliwangi semasa hidupnya. Pada masa itu, sebelum raibnya istana Padjajaran.

Bopo Awu ditugaskan Sri Baginda, untuk mendampingi kedua puterinya yang mau berguru kesalah satu tokoh sakti asal Trusmi, Raden Mas Kuncung Anggah Buana. Namun, setelah kedua putri ini tahu, bahwa istana ayahandanya sudah raib, kedua puteri dari sang Prabu Siliwangi, Dewi Nawang Wulan dan Dewi Nawang Sari, akhirnya ikut raib pula beserta empat puluh pengikutnya. Salah satunya Bopo Awu sendiri. Mereka ke dimensi lain yang kini terkenal sebagai penguasa Pantai Selatan. Dari kedewasaan dan keluasan ilmu yang dimiliki oleh Bopo Awu, beliau banyak mengajarkan tentang hakikat ilmu supranatural kepadaku, diantaranya ilmu keyakinan.

Sebab, menurut beliau, “Tiada ilmu yang bisa diharapkan menjadi suatu bibit, kecuali dengan keyakinan yang sempurna.”

Tambahnya lagi, “Semua ilmu adalah cahaya yang membentuk kekuatan menjadi suatu karomah/keramat. Tiada ilmu yang bisa dirasakan kalau belum mengenal keyakinan secara pasti. Ilmu tanpa wujud, namun bisa diwujudkan. Ilmu tidak bisa diraba tapi bisa dirasakan. Semua itu berpangkal dari keyakinan yang menunjang diantaranya, tirakat dan beristikomah.”

Bertambah kagumnya aku dengan beliau. Bopo Awu juga mengajarkan ilmu, Karara Sukma Langgeng, yaitu ilmu kesabaran yang berasal dari unsur air. Diantara bunyi ilmu ini sebagai berikut…

“Ya Rasulullah 4x. Dzat Nur, karara sukma langgeng. Kasampurna dzat alam makhluk kacipta fana. Solawat kang bahu rekso, syafaat kang ngadusi ati. Begjo mulyo kasebat karara sukma langgeng. Turu dadino banyu. Tangi dadino pangeling. Ucap dadino derajat. Meneng dadino pangkat. Ya salam 9x (jangan bernafas).

Assolatu wassalamu ‘alaika ya sayyidi ya rasulullah khud biyadi khoddokot khilati adrikni. Allhumma solli ‘ala saiyidinal fatihi lima ungliko wal khotimi lima sabako wanna siril hakko bilhakki wal-hadi ila sirotikal mustakim. Dzat nur karara sukma langeng.”

Dari pembedaran isi ilmu ini, Bopo Awu berpesan kepadaku, “Nak! Carilah kesabaran diatas penderitaanmu sendiri. Sesungguhnya sabar dalam dunia manusia, menerima segala cobaan dengan terus berusaha dan semangat hidup.”

Sungguh sangat dalam pelajaran yang diberikan oleh Bopo Awu kepadaku hingga aku merasa malu dan sangat takut, apalagi bila sudah meninggal semua, kesalahanku tentang Trisula Karara Reksa.
Ya, aku benar-benar menangis pada waktu itu. Antara takut dan kebimbangan. Apakah maafku diterima olehnya, terang batinku. Rupanya dari kesedihan hatiku pada saat itu, Bopo Awu benar-benar menyelaminya, hingga beliau mengajakku bersenang-senang ke sebuah taman kaputren yang bernama Sulasti Cempaka Seruni.

Taman ini, begitu luas dan sangat indah. Disamping taman terdapat beberapa pohon buah-buahan yang siap petik. Ditengahnya terdapat sebuah joglo yang begitu megah dengan ukiran yang terbuat dari emas dan berlian.

Hampir semua taman ini ditanami pohon cempaka seruni atau menurut bangsa manusia adalah tanaman derajat/bunga pembawa keberkahan. Bunga cempaka seruni sendiri ada dialam nyata ini dan hanya tumbuh satu tahun sekali yaitu, bulan Syawal. Tempatnya hanya ada satu, yaitu pertapaan bekas Ir. Soekarno, bukit Gunung Panjalu (lihat bag – 1).

Setelah dirasa cukup berkeliling ditaman sulastri cempaka seruni, Bopo Awu menyuruhku mandi dipancuran warna. Pancuran ini terdiri dari lima mata air dengan warna yang berbeda. Merah, hijau, biru, pink dan kuning. Dari lima mata air ini, semua ditampung dalam guci besar yang berukiran dua ekor naga. Diguci inilah, Bopo Awu menyuruhku berendam.

Setelah mandi, Bopo Awu mengajakku melakukan ritual disebuah kamar yang didalamnya terdapat dua kursi raja saling bersanding. Disini aku mulai bergetar….ya, aku tak sanksi lagi. Dua kursi ini semua dipahat membentuk Trisula Karara Reksa.

Aku mulai mengucurkan keringat dingin dan pikiranku mulai resah tiada menentu. Disaat kegelisahanku mulai mempengaruhi saraf otakku, Bopo Awu langsung mendekapku penuh kelembutan dan setelah itu, beliau langsung membuka ritual dengan memakai bahasa kejawen, diantara ritual Bopo Awu saat itu.

“Assalammu ‘alaikum…….wa’alaikum salam. Kaki semoro bumi, nini semoro bumi, kulo haturkan dugi ing panggonan kula niki, sa’ perlu kulo. Kulo nyuwun wayahepun kanjeng ibu nyambut dumaleng pengundang kaulo. Kulo pasrahkan saking keyakinan ing duwur arso. (Undur 3x) tampio dumagi kelawan bungah.”

Amalan ini kuijazahkan pada pembaca sekalian dengan syarat ketentuan, puasalah selama 41 hari. Setiap tengah malam, ritualkan amalan ini sebanyak 666x. Disaat mulai ritual, bakarlah kemenyan/madat gambar dua ekor naga yang bisa dicari di toko minyak dengan harga berkisar 1,7 juta. Niscaya dari ritual ini Anda akan bertemu langsung dengan sosok penguasa Pantai Selatan.

Kembali Keritual Tadi
Dari ritual ini yang dilantunkan oleh Bopo Awu, tiba-tiba hati dan pikiranku merasa tenang dan tak ada rasa takut sama sekali. Kepasrahan dan rasa yakinku mulai tumbuh, seiring Bopo Awu bertambah keras melantunkan ritual ini.

Selang setengah jam dari ritual ini, tiba-tiba kedua kursi yang ada dihadapanku bergerak dengan hebatnya dan setelah itu seberkas cahaya yang ditimbulkan dari pusaka, Karara Reksa tiba-tiba hadir dan berputar mengelilingi kami berdua sebanyak lima kali putaran, lalu raib entah kemana.

“Anakku! Ibu sudah menunggumu,” terang Bopo Awu menyadarkanku.

Lalu, kami berdua langsung keluar kamar dan ternyata disitu sudah ada dua prajurit yang siap mengantar kami. Dari balirung keputren, kami berempat langsung menuju keputren Agung dan diteruskan menuju pasembangan panembahan/ruang Kanjeng Ibu Ratu.

Saat menaiki tangga yang tertutup permadani warna emas kehijauan. Dua prajurit tadi langsung berhenti dan mempersilahkan kami berdua meneruskannya. Saat didepan pintu ukir kuning emas, Bopo Awu langsung bersembah diri dengan posisi duduk sambil kedua tangan terangkat kedepan. Sembah hormat, aku pun mengikutinya sambil menanti apa yang bakal terjadi selanjutnya….

Tiba-tiba pintu terbuka dan ada suara yang menyuruhnya masuk. Setelah Bopo Awu bersembah hormat tiga kali berturut-turut, kami berdua pun masuk ke dalam ruangan yang sangat indah.
“Selamat datang Anakku!” Suara perempuan yang begitu penuh kharisma dan tanggung jawab. Aku hanya mengangguk tanpa berani menatap wajah ibu, yang begitu memancarkan cahaya kewibawaan.
“Yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Aku memaafkanmu, Anakku!” Lanjutnya lagi.

“Berbaktilah kepada gurumu dan berjanjilah untuk berhenti dalam duniamu. Bangunlah kuncup dan istirahatkan badanmu ditengah kuncup tersebut. Carilah mahkota diantara tahta dunia. Jangan berbalik menoleh selagi gurumu diam. Kecuali kalau gurumu yang memberi perintah. Anakku! Amal bukan terlahir karena nama, tapi nama bisa melahirkan beribu amal. Silakan kau boleh pergi Anakku!”

Sesampainya aku jauh dari kamar Ibu Ratu, aku bertanya pada Bopo Awu tentang maklumat perkataan Ibu Ratu tadi. Lalu Bopo Awu membeberkannya sebagai berikut…

“Menurutlah kamu pada semua perintah gurumu. Berjanjilah dalam hatimu yang sangat dalam. Bahwa setelah kau mampu membuat suatu pesantren untuk kemaslahatan orang banyak, beristirahatlah dalam dunia yang sedang kau jalani (supranatural). Perbanyaklah beribadah dalam bangunan pesantren tersebut. Gunakan waktumu mulai dari sekarang, dan carilah derajat bersifat ukhrowi. Anakku! Gurumu adalah mursyid yang harus kau patuhi semua ucapannya. Bila gurumu mengijinkan kau menjadi seorang supranaturalis, jalanilah dengan berlapang dada. Tapi bila suatu hari gurumu memberhentikanmu dari seorang supranaturalis, berhentilah dengan rasa ikhlas dan tanpa beban. Sebab, pahala seseorang bukan karena nama yang tersandang, tapi nama inilah yang harus kau jaga hingga sampai hari pembalasan nanti (kematian)… Sesungguhnya amal yang terbaik untukmu saat ini adalah perbanyaklah dengan bersodakoh kepada ibu kandung, guru mursyid, anak yatim dan orang-orang yang sedang zuhud kepada Allah SWT.”

Sejak kejadian ini, aku mulai banyak intropeksi diri dan siap-siap melangkah ke suatu tujuan yang dianggap lebih mulia, tentunya. Semua ini menunggu aba-aba dari guruku yang sejak sedari kecil mengajariku berbagai sifat ilmu, baik yang mengarah kesifat duniawiyah maupun yang bersifat ukhrowi.

Semoga dengan pengalamanku ini, ada hikmah yang bermanfaat untuk para pembaca sekalian.

Oleh: IDRIS NAWAWI,TJA

Artikel Terkait Fakta ,Rahasia

Blogger Template by BlogTusts Sticky Widget by Kang Is Published by GBT.

No comments:

Post a Comment

 
- See more at: http://langkah2membuatblog.blogspot.co.id/2012/12/cara-membuat-link-otomatis-di-blogger.html#sthash.WmsNvezS.dpuf